
Nathan seolah tertampar oleh ucapan Indira. Memang benar apa yang dikatakan oleh Indira. Sesuai perjanjian, setelah bayi itu lahir, mereka akan bercerai. Sesuai perjanjian pula, setelah anak itu lahir, anak itu akan menjadi milik Indira.
Nathan hanya akan menyandang sebagai ayahnya dan diwajibkan memberikan nafkah untuk anaknya itu kelak sampai dewasa. Sampai sang anak mampu berdiri sendiri.
Semuanya sudah tertulis di surat perjanjian yang bahkan sudah ditandatangani oleh Indira dan Nathan sendiri.
"Sayang, bisakah surat perjanjian itu kita ubah? Aku benar-benar tidak bisa membayangkan seandainya saat itu tiba. Aku tahu, aku bersalah. Saat itu aku tidak berpikir panjang. Maafkan aku." Nathan melepaskan pelukannya. Lelaki itu menatap Indira dengan lekat.
"Bagaimana aku bisa kehilangan kamu sementara aku begitu mencintaimu?" lanjut Nathan.
Waktu itu, Nathan memang tidak berpikir jernih. Pria itu tidak memikirkan bagaimana perasaan Indira. Apa yang ada di kepala Nathan saat itu hanyalah bisa menikahi Clara yang menurutnya begitu sempurna.
Namun belum genap satu bulan dia menjalani pernikahan dengan Clara, keburukan wanita itu mulai terungkap satu persatu.
Clara sangat jauh berbeda dengan Indira yang begitu penurut. Indira juga wanita baik-baik. Wanita itu berubah tidak baik saat Nathan memaksa untuk menyerahkan keperawanannya sehingga akhirnya menyebabkan Indira hamil.
"Clara tidak akan membiarkan kamu merubah isi perjanjian itu, Mas. Aku yakin itu." Indira menatap Nathan yang terlihat memelas.
"Maafkan aku karena saat itu aku tidak berpikir panjang. Aku–"
"Sudahlah, Mas. Semua sudah terjadi. Kamu tenang saja, aku akan menerima semua keputusanmu. Termasuk saat kamu menceraikan aku setelah anak ini lahir." Indira memindai wajah tampan Nathan.
__ADS_1
"Tapi, Dira, aku tidak ingin kehilangan kamu. Aku tidak mau bercerai denganmu. Aku mencintaimu, Dira." Nathan menatap istri pertamanya itu dengan lekat.
Kenapa beberapa waktu yang lalu, Nathan seolah kehilangan pesona Indira? Lelaki itu begitu memuja Clara sampai-sampai dia lupa jika dirinya juga pernah begitu tergila-gila pada Indira.
Nathan melupakan hubungannya dengan Indira yang sudah berjalan bertahun-tahun hanya demi wanita yang dijodohkan oleh orang tuanya.
Ya! Clara adalah gadis yang dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Wanita itu anak dari rekan bisnisnya. Wanita cantik, cerdas, dan sangat istimewa menurut Nathan saat itu. Ia sungguh tidak menyangka jika Clara ternyata tidak sesuai dengan apa yang dibayangkannya.
Clara bahkan ternyata sudah tidak perawan. Padahal, mati-matian dia menjaga untuk tidak menyentuh Clara agar bisa menikmati keperawanan wanita itu seperti yang dulu pernah ia lakukan pada Indira.
Katakanlah dia terlalu naif. Di jaman sekarang, mana ada perempuan seperti Clara yang masih menjaga mahkotanya?
"Tapi aku tidak ingin bercerai denganmu, Dira. Aku ingin terus bersamamu, merawat anak-anak kita bersamamu."
"Indira ...."
***
Clara baru saja selesai mandi. Ia merasa kesal karena saat bangun dia tidak mendapati Nathan di kamarnya padahal hari masih pagi. Entah jam berapa Nathan bangun sehingga dirinya tidak lagi melihat pria itu di sampingnya.
Claudia yang melihat Clara turun sendirian dari tangga merasa heran.
__ADS_1
"Mana Nathan? Kenapa dia tidak ikut denganmu untuk sarapan?" Claudia yang sedari tadi duduk di depan meja makan menatap menantunya yang terlihat cantik dan segar pagi ini.
Memang tidak salah dirinya lebih memilih Clara sebagai menantu. Perempuan itu sangat pandai merawat diri. Meskipun dirinya juga mengakui jika Indira saat ini pun mengalami perubahan. Wanita itu juga sekarang semakin terlihat cantik meskipun menggunakan hijab.
Cara berpakaian Indira berubah drastis. Termasuk wajahnya yang kini terlihat begitu bersinar. Entah skincare apa yang dipakai oleh Indira, yang jelas, wanita itu terlihat lebih menarik saat ini.
"Saat aku bangun, Mas Nathan sudah tidak ada di kamar, Ma. Kirain dia sudah sarapan duluan." Wajah Clara terlihat cemberut.
"Mama sudah dari tadi berada di sini, tapi tidak melihat Nathan." Claudia merasa heran. Saat wanita paruh baya itu sedang berpikir di mana keberadaan putranya, Indira datang dengan Bi Inah sambil membawa beberapa menu sarapan pagi.
Perempuan itu bangun pagi-pagi setelah semalaman dikerjai oleh Nathan habis-habisan. Walupun Nathan bermain lembut, tetap saja, Indira merasa kelelahan.
Rencana Indira untuk menaklukkan Nathan sepertinya berjalan dengan lancar. Perasaan Nathan padanya sedikit demi sedikit mulai kembali.
"Semua makanannya sudah siap, silakan dinikmati." Indira sudah seperti pegawai restoran yang menawarkan makanan pada pengunjung.
"Mas Nathan baru saja selesai mandi. Sebentar lagi dia menyusul untuk sarapan."
"Apa?" Clara sangat terkejut mendengar penuturan Indira begitupun dengan Claudia.
"Semalam, Mas Nathan tidur di kamar saya. Dia bilang, kamu pulang dalam keadaan mabuk." Ucapan Indira kembali membuat kedua wanita beda generasi itu terperangah kaget.
__ADS_1
"Madu, apa itu benar? Jika benar, apa kamu tidak tahu jika Mas Nathan paling tidak bisa mencium bau minuman beralkohol?"
BERSAMBUNG ....