PENYESALAN MERTUA KEJAM

PENYESALAN MERTUA KEJAM
PROVOKASI


__ADS_3

"Clara!" seru Nathan dengan raut wajah terkejut. Lelaki itu sungguh tidak mengira perempuan yang datang dengan tiba-tiba itu langsung memarahi Indira yang jelas-jelas sedang sakit.


"Indira tidak berpura-pura sakit, Clara. Dia baru saja mengalami kecelakaan," jelas Nathan.


"Alah! Memangnya apanya yang terluka? Palingan dia pura-pura sakit biar kamu tetap di sini nemenin dia. Dasar perempuan tidak tahu malu!"


"Clara!" teriak Nathan. Kelakuan dan ucapan wanita itu semakin hari membuat Nathan muak. Sungguh! Wanita yang dulu terlihat mempesona dan begitu elegan itu ternyata tidak seperti yang dibayangkan. Semua kata-kata yang keluar dari mulut Clara menunjukkan bahwa perempuan itu benar-benar tidak tahu caranya bersikap baik pada orang lain.


"Indira memang tidak terluka parah, tapi dia sedang hamil. Dia membutuhkan aku sekarang. Bisakah kamu mengalah untuk beberapa hari ini saja, Clara? Istriku itu bukan hanya kamu. Tapi Indira juga istriku. Saat ini dia sedang sangat membutuhkan aku sebagai suaminya untuk berada di sampingnya. Aku mohon, mengertilah!" Nathan menatap istri keduanya itu dengan pandangan memelas.


Hatinya dipenuhi emosi, tetapi, dia tidak mungkin memarahi Clara di depan Indira. Biar bagaimanapun, Clara adalah istri yang membuatnya mengkhianati Indira. Nathan tentu saja sangat malu karena wanita yang menjadi selingkuhannya itu ternyata tidak jauh lebih baik dari istri pertamanya.


"Kamu memohon padaku demi wanita itu, Nathan? Apa kamu sudah gila? Memangnya wanita itu sangat berarti untukmu dibandingkan aku?" Penjelasan Nathan bukannya membuat Clara mengerti, malah justru membuat wanita itu semakin naik pitam.

__ADS_1


"Aku hanya ingin kamu mengerti, Clara. Selama menikah denganmu, aku selalu menghabiskan waktuku denganmu. Sementara Indira selalu mengalah. Kamu jangan lupa kalau Indira ini istriku. Istri pertamaku!" Nathan menjawab dengan kesal. Clara sungguh sangat keterlaluan.


Indira mengulas senyum melihat pertengkaran suami dan madunya.


"Kamu juga jangan lupa, Nathan. Kalau bukan aku yang mengizinkan kamu menikah dengannya, perempuan sialan itu juga tidak akan pernah menjadi istrimu!" Clara menatap tajam ke arah Nathan dengan penuh amarah.


Netranya juga melirik Indira yang terlihat menikmati perdebatannya dengan Nathan.


"Dasar wanita sialan! Kamu senang 'kan, melihat aku bertengkar dengan Nathan?" Clara melotot ke arah Indira yang tersenyum tipis.


"Sayang–"


"Biar saja. Sekali-kali, maduku ini memang harus dikasih pelajaran, biar dia tahu caranya menghormati suami dan menghormati istri pertama dari suaminya," tukas Indira sambil menatap ke arah Nathan dan Clara bergantian.

__ADS_1


"Kamu itu kepala rumah tangga, seharusnya dia menghormati kamu dan aku sebagai istri pertama kamu. Biar bagaimanapun, dia adalah orang ketiga dalam hubungan kita. Rasanya, tidak pantas jika dia berbicara seolah-olah dia adalah wanita pertama yang mengisi hatimu." Indira menatap Clara yang terlihat semakin marah.


Wajah cantiknya memerah, rahangnya mengetat dan kedua tangannya mengepal erat. Indira tersenyum cantik karena kembali berhasil memprovokasi Clara.


"Sayang, kenapa kamu membuatnya semakin marah?" bisik Nathan.


"Dasar brengsek! Kamu bilang, aku orang ketiga dalam hubungan kalian? Apa kamu lupa, Nathan bahkan tidak mau menikahimu walaupun saat itu kamu sedang hamil?"


"Nathan tidak mau menikah denganmu karena kamu hadir di tengah-tengah hubungan kami, Clara. Kalau saja kamu tidak muncul dan menggunakan kekuasaan keluargamu dan meminta Nathan untuk menikahimu, aku yakin, Nathan tidak akan pernah tertarik dengan perempuan seperti kamu!"


"Omong kosong! Nathan mencintaiku karena itu dia mau menikah denganku!"


Indira tertawa mendengar ucapan Clara.

__ADS_1


"Kamu bahkan sangat jauh dari kriterianya Nathan, Clara! Aku yakin, saat itu Nathan hanya melihat kecantikan wajahmu saja, bukan dari kepribadianmu!"


"Brengsek, kau Indira!"


__ADS_2