
Indira memoles wajahnya dengan make-up tipis. Hari ini dia mengikuti perintah ibu mertuanya yang tiba-tiba mengajak makan siang bersama di luar.
Meskipun merasa sedikit aneh, tetapi, demi menghormati sang ibu mertua, Indira akhirnya menyetujui ajakan Claudia. Namun, sebelum pergi, Indira memberitahu Nathan terlebih dahulu. Bukan hanya Nathan, tetapi juga Reyno.
Indira memberitahu pria itu karena Indira sudah berjanji pada sahabatnya itu kalau dia akan memberitahu kemanapun dia pergi, apalagi jika dia pergi bersama dengan orang-orang yang berada di rumah besar itu.
Orang-orang yang menurut Reyno sangat berbahaya. Indira sendiri tidak mau berprasangka buruk terhadap siapapun yang yang ada di rumah itu. Hanya saja, setelah banyak kejadian yang menimpanya tentu saja membuat Indira harus waspada.
Reyno sudah berulang kali mengingatkan Indira untuk waspada terhadap keluarga suaminya. Namun, selama ini perempuan itu tidak tahu siapa sebenarnya orang-orang yang patut dicurigai.
Dari serentetan peristiwa yang menimpanya, Indira tidak pernah berpikiran buruk, apalagi, berpikiran buruk pada keluarga Nathan. Dia memang tidak akrab dengan sang ibu mertua, tetapi, Indira tidak mungkin menuduh sang ibu mertua yang telah melakukan kejahatan padanya, meskipun kelakuannya kadang mencerminkan tentang hal itu.
"Indira! Kamu sudah siap belum?" Claudia berteriak dengan kesal.
Dia tidak suka menunggu, apalagi, menunggu seseorang yang jelas-jelas tidak ia sukai.
"Sebentar lagi, Nyonya!" teriak Indira dari dalam kamar.
__ADS_1
Perempuan itu sedang memakai jilbabnya. Indira terlihat cantik dengan outfit sederhana yang melekat pada tubuhnya. Setelah memastikan penampilannya sempurna, Indira keluar dari kamar. Wajahnya mengembangkan senyum melihat sang mama mertua sudah menunggunya sambil melipat tangan di dada.
Untuk sejenak, Claudia mengamati penampilan menantunya. Dia mengakui kalau Indira memang sangat cantik. Wanita itu mengenakan jilbab modern yang menutupi area dadanya dengan gamis hitam yang mencetak perut buncitnya.
"Lama banget sih!"
"Maafkan saya, Nyonya." Indira menunduk mendengar nada kesal sang mertua.
"Ya sudah, ayo cepat! Saya sudah lapar dari tadi." Claudia melangkah terlebih dahulu diikuti Indira di belakangnya.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil. Claudia menyuruh sopir pribadi untuk mengantarkan mereka sampai ke restoran. Setelahnya, dia akan menyuruh sopir itu pulang terlebih dahulu dan menjemput mereka ketika pulang nanti.
Perempuan paruh baya berhati licik itu tersenyum saat membayangkan rencana yang akan dilakukannya untuk menyingkirkan Indira.
Indira terdiam. Sekali-kali wanita hamil itu melirik ke arah Claudia yang terlihat senyum-senyum sendiri sambil menatap ponselnya. Sepertinya, wanita itu sedang berkirim pesan dengan seseorang.
Tidak ada yang mencurigakan dari sikap ibu mertuanya. Indira hanya heran kenapa tiba-tiba ibu mertua yang biasanya sangat jahat itu tiba-tiba berubah baik dan mengajaknya makan di restoran.
__ADS_1
Melihat Indira yang sesekali menatapnya dengan raut wajah kepo membuat Claudia merasa kesal.
"Kenapa? Kamu nggak suka saya ajak makan di luar?" tanya Claudia ketus.
"Tidak, Nyonya. Saya hanya heran, kenapa tiba-tiba Nyonya mengajak saya makan di luar. Bukankah Nyonya tidak menyukai saya?" tanya Indira dengan polos.
"Saya hanya ingin makan di restoran favorit saya. Tadinya saya mau ngajak Clara, tapi dia suruh pergi duluan entah kemana. Saya tidak mungkin mengajak bibi 'kan? Jadi saya ajak kamu saja biar ada teman," jelas Claudia panjang lebar.
Perempuan itu berdecak kesal karena sikap Indira yang begitu menyebalkan.
"Dasar orang udik! Diajak makan di restoran saja repot banget. Awas saja kalau di sana nanti kamu malu-maluin saya." Sifat asli Claudia keluar.
Indira hanya menarik napas panjang tanpa meladeni ucapan Claudia yang semakin lama membuat sudut hatinya meradang.
Perhatian Indira pada pemandangan di luar sana terhenti saat ponselnya berbunyi menandakan pesan masuk.
"Kamu harus berhati-hati dengan wanita itu, Indi. Kasih tahu aku di mana kamu berada saat ini."
__ADS_1
BERSAMBUNG ....