
Indira menatap Nathan yang kini sedang menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Mereka semua kini sedang menyantap sarapan pagi yang dimasak oleh Indira dibantu oleh Bi Inah.
Nathan tampak sangat menikmati makanan yang dimasak oleh Indira. Masakan wanita itu memang rasanya sudah tidak bisa diragukan lagi.
Bahkan Clara dan Claudia pun mengakuinya. Mereka juga tampak puas dengan rasa masakan Indira.
Indira tersenyum puas melihat Nathan yang terlihat begitu menyukai makanan yang dia masak.
"Kamu mau nambah lagi, Mas?" tanya Indira yang langsung diangguki oleh Nathan. Indira dengan senang hati menambah nasi beserta lauk pauknya di piring Nathan.
Sementara itu, Clara menatapnya dengan kesal. Begitupun dengan Claudia yang merasa kesal karena Nathan begitu menurut pada Indira.
Dalam hati Claudia, dia masih penasaran kenapa Indira tidak mengalami keguguran setelah meminum obat itu. Padahal, jelas-jelas semalam dia mencampur obat itu ke dalam susu yang akan diminum oleh Indira.
Apa penjual obat itu membohonginya? Padahal, dia sudah membayar mahal untuk satu botol obat itu.
"Sialan!" maki Claudia dalam hati.
***
__ADS_1
Usai sarapan pagi, Nathan membawa Clara ke kamarnya. Kamar utama yang seharusnya ditempati olehnya dan Indira. Namun, karena Nathan tidak mau satu kamar dengan Indira jadilah sekarang kamar itu menjadi milik Nathan dan Clara.
Sebelum masuk ke dalam kamar, Nathan menatap Indira. Ada rasa tidak enak dalam hatinya. Indira begitu baik, tetapi, dirinya tidak pernah memperlakukan wanita itu dengan baik.
Clara tersenyum penuh kemenangan karena posisi dia jauh di atas Indira. Meskipun Indira adalah istri pertamanya Nathan, tetapi, wanita itu tidak mendapatkan keistimewaan apapun dari Nathan. Bahkan, kamar yang seharusnya menjadi milik Indira pun kini menjadi miliknya.
"Ayo, Sayang, kita istirahat di kamar. Aku capek banget!" Clara berucap dengan manja. Tangannya melingkar pada lengan Nathan yang sedang berpamitan pada Indira.
"Aku ke kamar dulu." Nathan tersenyum pada Indira yang menganggukkan kepala sambil tersenyum manis. Sangat manis malah! Nathan merasa, seperti melihat Indira waktu pertama kalinya.
"Silakan, Mas, aku juga mau istirahat. Dari tadi perutku nggak enak banget." Indira mengusap perutnya yang sudah mulai membuncit.
"Tadi sakit banget, Mas, tapi sekarang sudah mendingan." Tangan Indira memegang tangan Nathan yang mengusap perutnya. Wanita itu membimbing tangan Nathan agar mengusap perutnya dari atas ke bawah.
"Sepertinya, dia kangen sama ayahnya, makanya bertingkah." Indira tertawa pelan mendengar ucapannya sendiri. Sementara Nathan merasa tergelitik mendengar ucapan Indira.
Semenjak mengetahui kehamilan Indira, Nathan tidak pernah memperhatikan wanita itu sama sekali. Padahal, sebelum Nathan menikahi Indira dan belum mengetahui jika perempuan itu hamil karena ulahnya, Nathan begitu perhatian padanya. Sampai-sampai apapun yang dibutuhkan oleh wanita itu, Nathan pasti selalu memberikannya.
Namun, setelah Indira menjadi istrinya, kenapa dia justru mengabaikannya? Wanita itu sangat baik dan sangat mencintainya, hingga rela mengorbankan mahkotanya demi memuaskannya. Tetapi, apa yang ia lakukan pada Indira sekarang?
__ADS_1
Nathan menghela napas panjang. Tangannya masih mengusap lembut perut Indira.
"Maafkan papa, Sayang, mulai sekarang, papa janji akan lebih memperhatikan kamu," ucap Nathan, kemudian mencium perut Indira.
"Nathan! Apa-apaan sih, kamu?" Clara yang merasa kesal melihat interaksi Indira dan Nathan berteriak marah.
"Sayang, aku hanya–"
"Hanya apa?! Jangan modus kamu, Nathan. Aku nggak suka kamu dekat-dekat dengan dia!" Clara menatap tajam penuh aura permusuhan pada Indira.
Sepertinya, Clara terlalu menganggap enteng Indira. Dia pikir, Indira perempuan lemah yang hanya bisa menangis saat melihat suaminya menikah lagi. Apalagi, saat melihat kemesraannya dengan Nathan. Akan tetapi, dugaannya ternyata salah. Indira justru sangat pandai memprovokasinya.
"Maduku, Sayang, jangan lupa, Mas Nathan ini juga suamiku. Jadi, dia juga berhak atas diriku, begitupun juga aku. Suamiku hanya ingin menyapa calon anaknya. Kenapa kamu harus marah-marah? Inget ya, Madu. Suamimu itu juga suamiku. Kalau kamu memang tidak mau berbagi, kenapa kamu mau menikah dengan suamiku?"
BERSAMBUNG ....
Mampir juga di karya punya temen Author yuk! Keren lho, ceritanya.
__ADS_1