
"Ibu panti?" Claudia menatap Ibu Santi dengan tatapan terkejut.
Ternyata, wanita itu memang benar seseorang yang selama ini dia cari. Claudia tidak tahu nama Ibu Santi karena itu dia memanggil Ibu Santi dengan sebutan ibu panti.
"Kamu?" Ibu Santi pun tak kalah terkejut saat melihat Claudia di hadapannya.
Perempuan berusia enam puluh tahun itu sungguh tidak menyangka jika dia akan bertemu dengan wanita itu di sini.
Ibu Santi masih mengingat dengan jelas wajah Claudia meskipun sudah bertahun-tahun berlalu. Claudia adalah perempuan yang pernah memberikannya seorang bayi lucu yang masih merah. Bayi yang usianya bahkan belum genap dua hari.
Dulu, wanita di hadapannya itu mengatakan kalau dia baru saja melahirkan di rumah sakit sehari yang lalu. Perempuan muda berusia sekitar dua puluh tahunan itu mengatakan jika bayi yang dilahirkannya tidak ada yang mengurus karena dia harus bekerja kembali untuk memenuhi kebutuhannya.
Saat ditanya kenapa tidak diberikan saja pada keluarganya, wanita itu mengatakan jika dia sudah tidak punya keluarga. Dia mengaku sebatang kara.
Ibu Santi yang merasa penasaran akhirnya bertanya tentang ayah bayi itu. Saat itu, perempuan yang kini berada di hadapannya itu mengatakan kalau ayah bayi itu kabur dan tidak mau bertanggung jawab.
__ADS_1
Dia mengatakan ingin menitipkan bayinya di panti. Wanita itu berjanji akan kembali mengambilnya setelah dia pekerjaan yang bagus dan mempunyai uang untuk membiayai anaknya.
Namun, setelah bertahun-tahun berlalu, wanita itu tidak datang memenuhi janjinya untuk kembali mengambil bayi merah yang dulu pernah dititipkan padanya.
Suatu hari, terjadi sesuatu pada panti asuhan yang mereka huni sehingga menyebabkan semua penghuni panti asuhan harus meninggalkan panti asuhan yang bertahun-tahun mereka tinggali.
"Saya sudah lama mencari-cari Ibu. Saya sungguh tidak menyangka kalau saya akan bertemu dengan Ibu di sini." Suara Claudia terdengar pelan.
Wajah Claudia berubah sendu saat dia melihat Ibu Santi. Sungguh! Ini adalah pertemuan yang selama ini dinantikannya.
"Sayang, apa kamu mengenal ibu ini?" Ibu Santi yang merasa penasaran dengan Claudia yang mendekati Indira langsung bertanya.
"Kenal Bu. Beliau adalah Nyonya Claudia. Selama ini aku tinggal di rumahnya, Bu," sahut Indira tanpa menyebut kalau wanita di sampingnya itu adalah ibu mertuanya.
"Apa Ibu mengenal Nyonya Claudia?" Indira menatap Ibu Santi dan Claudia bergantian.
__ADS_1
"Nyonya Claudia adalah salah satu donatur di panti kita, Dira." Ibu Santi mengusap kepala Indira yang tertutup hijab. Dia terpaksa berbohong agar Claudia merasa nyaman.
"Benarkah? Aku tidak tahu jika Nyonya Claudia adalah salah satu donatur panti milik Ibu. Terima kasih, Nyonya. Nyonya sudah mau membantu panti asuhan milik ibuku." Indira berkata dengan begitu tulus.
Dalam hatinya dia bersyukur karena ibu mertuanya itu ternyata masih punya sisi baik. Selama ini, dia mengira kalau perempuan julid itu hanya tahu caranya berbuat jahat kepada orang lain.
Tidak ada hari tanpa hinaan dan cacian yang keluar dari mulut wanita dihadapannya itu.
Claudia mengangguk canggung karena merasa malu dengan kebohongan yang keluar dari mulut Ibu Santi. Dia tahu, kalau kebohongan yang diucapkan oleh Ibu Santi demi menutupi dirinya agar tidak malu.
"Bolehkah saya bicara dengan ibu sebentar?" Claudia menatap Ibu Santi yang langsung mengangguk.
Ibu panti kemudian berpamitan sebentar pada teman-temannya juga anak-anak panti. Mereka menuju tempat duduk yang tadinya diduduki oleh Claudia dan Indira.
"Ada apa?" Ibu Santi memulai pembicaraan.
__ADS_1
"Saya ingin menanyakan keberadaan anak saya."