
"Iya, Pa. Indira ternyata adalah putri kandung mama yang selama ini kita cari bertahun-tahun." Claudia kembali menangis mengingat Indira.
Perempuan paruh baya itu mengingat semua kejahatannya yang berulang kali ingin melenyapkan Indira yang ternyata adalah putri kandungnya sendiri.
Mengingat itu, Claudia rasanya ingin sekali kembali berteriak. Akan tetapi, wanita itu sudah lelah menangis.
"Tapi bagaimana mung–"
"Maksud Mama apa dengan mengatakan kalau Indira adalah putri kandung Mama?" Nathan yang baru saja datang ke kamar Claudia merasa terkejut mendengar ucapan sang mama.
"Nathan?" Claudia dan Abinaya berucap bersamaan. Mereka sangat terkejut melihat Nathan mendekati mereka. Abinaya dan Claudia tidak menyadari jika Nathan sudah berada di pintu kamar saat mereka sedang berbicara mengenai Indira.
"Katakan Ma! Apa maksud Mama mengatakan kalau Indira adalah putri Mama?" Nathan yang mendadak gelisah dan ketakutan terus mendesak Claudia untuk menceritakan apa yang terjadi.
Bagaimana bisa Indira tiba-tiba menjadi putri kandungnya? Jika benar Indira adalah putri Claudia apa itu berarti mereka berdua adalah kakak beradik?
Ya, Tuhan ... jika itu memang benar, berarti pernikahannya dengan Indira adalah pernikahan sedarah.
Nathan menggeleng tak percaya. Bagaimana itu bisa terjadi?
"Indira adalah anak mama yang semenjak bayi mama titipkan di panti asuhan karena mama tidak bisa mengurusnya sendirian."
"Apa?" Nathan merasa terkejut mendengar ucapan mamanya.
"Kalau Indira adalah putri Mama, berarti aku dan Indira–"
"Tidak, Nathan. Kamu dan Indira bukanlah saudara sedarah," sela Abinaya yang mengerti arah pembicaraan Nathan.
"Maksud Papa?" Nathan menatap Abinaya dengan penasaran.
"Papa menikahi Mama saat umur kamu berusia tiga tahun. Papa seorang duda saat menikah dengan mama kamu."
__ADS_1
"Jadi, maksud Papa, Mama adalah ibu tiri?" Abinaya mengangguk sebagai jawaban.
"Berarti aku dan Indira tidak punya ikatan darah 'kan, Pa?"
"Tidak sama sekali, Nak. Kamu jangan khawatir." Claudia menatap Nathan dengan penuh kasih sayang. Wanita itu memang sangat menyayangi Nathan walaupun lelaki itu bukanlah anak kandungnya sendiri.
Oleh karena itu, Claudia begitu posesif pada Nathan. Dia merasa kalau Nathan harus mendapatkan wanita yang sepadan dengannya. Akibat rasa sayang Claudia yang terlalu berlebihan pada Nathan, wanita itu sangat membenci Indira karena merasa kalau Indira bukanlah perempuan yang pantas untuk putranya.
Kini, Claudia sungguh sangat menyesal karena wanita yang selama ini dia anggap tidak pantas bersanding dengan Nathan ternyata adalah putrinya sendiri.
Penampilan Indira yang sederhana dan statusnya yang ternyata hanyalah seorang anak yatim piatu membuat Claudia membencinya. Memang tidak masuk akal apa yang dipikirkan Claudia. Hanya karena yatim piatu dan sederhana Claudia menganggap wanita sebaik Indira sebagai wanita yang tidak pantas bersanding dengan putranya.
Sebenarnya siapa yang tidak pantas bersanding dengan siapa?
Nathan bernapas dengan lega mendengar ucapan Claudia. Dia sangat bersyukur karena dia Indira adalah saudara tiri.
Nathan sendiri baru mengetahui kalau Claudia adalah ibu sambungnya. Baik Abinaya maupun Claudia, di antara mereka tidak pernah ada yang cerita tentang masa lalunya.
"Bagaimana keadaan istrimu, Nak?"
"Mama baik-baik saja. Mama hanya syok karena istrimu kecelakaan dan akhirnya menyebabkan bayinya meninggal. Mama merasa bersalah karena mama telah membuat Indira celaka. Seandainya mama tidak mengajak Indira keluar dari rumah, keadaan istrimu saat ini pasti masih baik-baik saja." Air mata Claudia kembali mengalir.
"Sudahlah, Ma. Semua sudah terjadi. Meskipun berat, aku ikhlas kehilangan anakku yang bahkan belum sempat lahir ke dunia." Nathan berucap dengan sedih. Namun, dia berusaha untuk menyembunyikannya.
"Aku berniat memakamkan putraku di makam keluarga."
"Putra?"
"Iya, Ma. Anakku laki-laki." Nathan menatap sang mama dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Maafkan mama, Nathan."
__ADS_1
"Aku ikhlas, Ma. Mungkin memang belum rezeki."
Abinaya menepuk pundak putranya.
"Yang sabar, Nak. Setelah ini, kamu bisa melakukan program hamil lagi dengan Indira atau mungkin dengan Clara. Kamu masih punya banyak kesempatan untuk mempunyai anak lagi."
"Iya, Pa. Doakan semoga Indira baik-baik saja. Aku sungguh tidak bisa membayangkan seandainya dia tahu kalau anak dalam kandungannya sudah tidak ada." Kali ini Nathan terisak. Tangis yang sedari tadi dia tahan keluar juga.
Melihat putranya menangis, penyesalan di hati wanita paruh baya itu semakin mendalam.
"Maafkan mama, Nathan. Semuanya salah mama. Seandainya mama tidak egois dan jahat, semua ini pasti tidak akan pernah terjadi pada Indira," batin Claudia. Perempuan itu kembali meneteskan air mata karena ikut merasakan sedih melihat Nathan menangis dalam pelukan Abinaya.
Pintu ruangan terbuka setelah sebelumnya ketiga insan manusia di dalam ruangan itu mendengar suara ketukan pintu.
Ketiga orang itu merasa terkejut saat melihat siapa yang datang. Seorang petugas rumah sakit datang dengan beberapa orang berseragam polisi.
"Dengan Nyonya Claudia?" Kedua orang polisi mendekati Claudia yang tiba-tiba merasa gemetar.
"I–Iya, Pak. Saya ... Saya Claudia."
"Anda ditangkap karena telah melakukan kejahatan. Anda diduga dalang dari kecelakaan yang menimpa Nyonya Indira dan telah menyebabkan bayinya meninggal dunia."
"Apa maksud, Bapak?" Abinaya dan Nathan mengajukan pertanyaan yang sama.
"Nyonya Claudia ditangkap dengan tuduhan pembunuhan berencana terhadap menantunya sendiri yaitu Indira Safeea."
"Apa?"
"Tidak mungkin ...."
BERSAMBUNG ....
__ADS_1
Mampir juga di karya temen Author yuk!