
"Mama!" Nathan berteriak saat melihat Claudia menarik tubuh Indira dengan kasar.
"Mama apa-apaan sih, Ma? Indira sedang sakit, Ma!" Nathan mencoba menghalangi perlakuan kasar Claudia pada Indira.
Sedangkan Indira yang merasa kaget karena tidurnya terganggu akibat ulah mertuanya hanya bisa meringis akibat rasa sakit di bagian kepalanya.
Tubuhnya menggigil, badannya terasa panas. Kepalanya terasa pusing. Apalagi, sekarang perutnya ikut-ikutan terasa nyeri karena Claudia menariknya dengan kencang hingga membuatnya hampir saja terjatuh dari ranjang.
Beruntung, Nathan datang tepat waktu. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi. Indira mengusap perutnya. Bibirnya bergetar karena merasa kedinginan.
Tubuhnya yang sedang demam membuat bibirnya terlihat sangat pucat dan bergetar karena kedinginan.
"Tidak perlu berpura-pura sakit di hadapan saya, wanita sialan! Saya tahu, kamu berpura-pura sakit biar kamu tidak pergi ke hotel untuk menyaksikan pernikahan Nathan dan Clara bukan?" Claudia menarik rambut Indira membuat Nathan memekik kaget dan berusaha melepaskan tangan sang mama.
"Lepaskan, Indira, Ma. Dia sedang sakit." Nathan berusaha melepaskan tangan ibunya. Nathan sungguh tidak tega saat melihat Indira menangis.
’’Mama. Lepaskan, Ma. Kasihan Indira. Dia sedang demam!"
"Dia itu bohong, Nathan! Itu hanya alasan dia saja agar dia tidak menghadiri pernikahanmu dengan Clara!" Claudia mengeratkan genggamannya pada rambut Indira.
__ADS_1
Indira meringis merasakan sakit dan perih pada rambutnya. Entah terbuat dari apa hati mertuanya. Tidak ada belas kasih sama sekali.
Tubuh Indira semakin menggigil kedinginan. Wanita itu merasa lemas. Rasa sakit pada kepala dan rambutnya yang masih dijambak oleh ibu mertuanya membuat tubuh Indira semakin lemah.
Kedua matanya berkunang-kunang. Perutnya bergejolak. Indira merasa mual sekaligus lapar. Ia baru ingat kalau semalam dia tidak sempat makan malam karena langsung tertidur setelah beres-beres rumah bersama bi Inah.
"Cepat bangun! Bersihkan tubuhmu dan ikut saya ke hotel sekarang!" Claudia melepaskan cengkraman tangannya pada rambut Indira hingga membuat menantunya itu meringis kesakitan.
Tangan Nathan bergerak merapikan rambut Indira yang berantakan kemudian mengusapnya pelan.
"Mama sungguh keterlaluan!" teriak Nathan membuat amarah Claudia kembali naik.
"Wanita murahan itu hanya ingin mencari perhatianmu agar kamu tidak jadi menikah dengan Clara. Dia hanya berpura-pura sakit!"
"Indira tidak berpura-pura, Ma. Indira benar-benar sakit! Kalau Mama tidak percaya Mama boleh cek suhu tubuhnya." Nathan mulai kesal dengan perbuatan sang mama pada Indira.
Nathan sungguh tidak menyangka kalau wanita yang sudah melahirkannya itu sangat ringan tangan hingga dengan begitu mudahnya memukul dan menganiaya orang.
"Mama tidak peduli! Mau dia sakit, mau dia sehat, pokoknya dia harus ikut pergi ke hotel. Dia harus menyaksikan kamu dan Clara menikah. Biar dia tahu diri posisinya di rumah ini!"
__ADS_1
"Tapi, Ma, Indira sakit. Tidakkah Mama sedikit berbelas kasih padanya? Biar bagaimanapun, dia adalah menantu Mama, istri aku!"
"Nathan!" Kedua mata Claudia melotot mendengar ucapan putranya.
"Dia bukan istrimu! Mama tidak pernah merestui pernikahan kalian!"
"Tapi aku dan Indira sudah menikah, Ma. Suka atau tidak suka Mama harus menerimanya!" Entah keberanian dari mana sampai-sampai Nathan berani menentang ucapan ibunya.
Dia yang bisanya hanya terdiam, kini berani melawan Claudia. Melihat keadaan Indira, Nathan sungguh merasa tidak tega.
Sementara itu, Indira yang sedang merasa pusing dan mual, semakin bertambah pusing mendengar perdebatan ibu dan anak itu.
"Indira! Jika kamu tidak mau bersiap juga, aku benar-benar akan membunuh bayimu!" teriak
Claudia. Tangannya sudah terulur ingin menarik tubuh Indira. Namun, detik berikutnya Claudia menjerit.
"Hoeekk!"
BERSAMBUNG ....
__ADS_1