
Claudia terdiam saat mendengar ucapan pria di seberang sana. Tubuhnya bergetar dengan degup jantung tak beraturan.
Nafasnya tercekat. Claudia merasa dunianya runtuh seketika. Tangannya yang memegang ponsel bergetar. Claudia membuka pesan yang dikirimkan oleh orang suruhannya.
"Tidak!" Claudia berteriak membuat beberapa pengunjung restoran menatap ke arahnya termasuk Ibu Santi.
Claudia seketika merasa panik. Apa yang baru saja dipikirkannya ternyata terjadi. Orang bayarannya itu mengirimkan sebuah gambar seorang wanita hamil yang tergeletak di jalan raya dengan bersimbah darah.
Claudia bangkit dari duduknya. Wanita paru baya itu berlari meninggalkan restoran tanpa membayar terlebih dahulu. Seorang petugas keamanan mengejarnya saat mendapatkan laporan jika Claudia belum membayar.
"Tunggu Bu! Ibu harus bayar dulu!" Seorang satpam mencekal tubuh Claudia yang gemetaran.
"Putriku ... putriku kecelakaan. Aku harus segera menolongnya!" Claudia berteriak histeris. Dalam setengah sadar Claudia mengeluarkan beberapa lembaran uang merah pada petugas itu.
"Kalau kurang nanti aku akan membayar sisanya. Aku harus segera menolong putriku. Dia berada dalam bahaya." Claudia kembali berkata dengan suara bergetar dan air mata yang sudah membasahi pipinya.
Ibu Santi yang melihat Claudia berteriak mencoba mengejarnya ditemani oleh dua orang perempuan muda yang juga tinggal di panti asuhan miliknya.
__ADS_1
"Ada apa Claudia? Kenapa kamu berteriak?" Ibu Santi mendekati Claudia.
"Indira ... Indira kecelakaan." Claudia berlari tanpa memedulikan keterkejutan Ibu Santi yang hampir saja limbung kalau saja dua orang perempuan yang di sampingnya tidak memeganginya.
"Dira," ucap Ibu Santi lirih.
"Kita harus segera melihatnya," lanjut Ibu Santi.
"Tapi kita izin dulu sama yang lain kalau kita akan pergi." Ibu Santi mengangguk mendengar ucapan perempuan muda yang kini memapahnya.
***
"Indira!"
Seperti rencana awal, Claudia memang menyuruh orang suruhannya untuk mengeksekusi Indira di sana. Kebenciannya pada Indira membuat wanita paruh baya itu gelap mata.
Claudia yang awalnya hanya ingin menyingkirkan bayi yang berada dalam kandungan Indira, berubah haluan karena selama ini dia selalu gagal mencelakai menantunya. Wanita itu bukan hanya ingin menghabisi bayi dalam kandungan Indira, tetapi, wanita itu juga menginginkan kematian ibu dari calon bayi tersebut.
__ADS_1
Jahat?
Ya! Claudia memang jahat. Entah apa yang menjadi penyebab dia begitu membenci Indira, yang jelas, Claudia hanya tidak suka karena perempuan itu telah menghalangi kebahagiaan Nathan.
Menurutnya, gadis biasa seperti Indira tidaklah pantas untuk Nathan yang begitu tampan dan jelas sangat berkelas meskipun saat itu dia belum mempunyai perusahaan sendiri.
Indira dianggap telah menghalangi kebahagiaan putranya dengan Clara. Menurut Claudia, Nathan lebih pantas bersama dengan Clara karena mereka sama-sama berkelas. Bersama Clara, Nathan bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan. Berbeda saat dirinya bersama dengan perempuan kampungan seperti Indira.
"Indira!" Claudia kembali berteriak histeris.
Sebuah mobil ambulans tiba di tempat terjadinya kecelakaan. Beberapa petugas medis dengan sigap turun untuk memeriksa keadaan Indira.
Setelah itu, mereka mengangkat tubuh wanita hamil itu ke dalam mobil. Claudia terus meraung memanggil nama Indira. Air matanya turun membasahi kedua pipinya.
Rasanya sangat sakit. Perempuan itu benar-benar sangat menyesal karena telah membuat menantunya celaka. Menantu yang ternyata adalah putrinya sendiri yang selama ini dia cari.
Seandainya Claudia lebih dulu menghubungi orang-orang suruhannya untuk menghentikan aksinya mencelakai Indira, kejadian ini mungkin tidak akan terjadi.
__ADS_1
Claudia sungguh sangat menyesal. Penyesalan yang sangat menyakitkan. Bagaimana ada seorang ibu yang tega membunuh anaknya sendiri?
"Dira, maafin mama Nak. Mama bersalah. Mama sungguh-sungguh minta maaf ...."