PENYESALAN MERTUA KEJAM

PENYESALAN MERTUA KEJAM
DILEMA


__ADS_3

Clara mengomel sepanjang kereta. Wanita itu belum merasa puas jika belum melampiaskan amarahnya. Bahkan saat Nathan sudah pergi ke kantor pun, wanita itu masih merasa kesal.


"Brengsek! Indira sialan! Berani-beraninya dia memprovokasiku di depan Nathan," ucap Clara dengan geram.


Wanita itu mondar-mandir di dalam kamarnya. Mencari cara agar dia bisa membalas dendam pada wanita hamil itu.


Clara tidak bisa membiarkan Indira menang darinya. Indira harus diberi pelajaran karena telah berani mencari masalah dengannya.


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Clara. Wanita itu kemudian membuka pintu. Raut wajahnya semakin masam saat melihat siapa yang datang ke kamarnya.


"Ada apa, Ma? Apa Mama mau memarahiku karena aku pulang mabuk semalam? Kalau iya, jawabanku tetap sama. Mama tidak bisa seenaknya melarangku dan mengatur hidupku. Apalagi, melarangku pergi ke klub malam!" ucap Clara dengan kesal.


"Mama ke sini bukan untuk mengajakmu bertengkar, Clara. Tapi, mama ingin mengajak kamu bekerja sama." Claudia menatap menantu idamannya yang ternyata adalah seorang pemabuk itu dengan tatapan tajam.


"Bekerja sama dalam hal apa?"


"Tentu saja bekerja sama menyingkirkan wanita murahan itu!" Claudia berkata dengan kesal.

__ADS_1


"Indira?" Clara menyakinkan diri.


"Iyalah! Siapa lagi memangnya wanita murahan di rumah ini?" Claudia menatap jutek pada Clara yang seolah meledeknya.


"Bukannya Mama tadi membelanya? Aku masih inget lho, saat Mama membentakku di meja makan tadi."


Claudia mengembuskan napas panjang, kemudian berdecak kesal.


"Kamu pulang dalam keadaan mabuk. Kamu pikir mama nggak syok? Nathan bahkan tidak pernah menghabiskan waktu di tempat hiburan malam seperti itu, Clara. Gimana kamu mau punya anak kalau hidupmu tidak sehat begitu?" terang Claudia.


"Nggak ada hubungannya, Ma. Buktinya teman-temanku yang pada **** bebas kalau kebobolan ya tetap hamil," ucap Clara dengan enteng.


"Ayolah, Ma. Ini sudah tahun berapa? Nggak usah ketinggalan jaman deh! Jaman sekarang **** bebas itu sudah bukan hal aneh. Buktinya, Nathan juga melakukan **** bebas sama Indira sampai perempuan itu hamil bukan?" Clara menatap jengah pada Claudia yang masih terlihat kaget. Wanita itu menggelengkan kepala.


Dalam hati, dia mulai meragukan Clara. Apa benar dia adalah menantu terbaik yang selama ini dia inginkan?


**** bebas, club malam, apalagi setelah ini? Claudia sungguh tidak menyangka kalau menantu idamannya itu kelakuannya sudah melewati batas, dan apa katanya? Dia menganggap semua itu sebagai hal yang biasa?

__ADS_1


Apa setelah menyingkirkan Indira, dia juga harus menyingkirkan wanita di hadapannya itu?


"Kenapa, Ma? Mama masih belum bisa menerimaku?" Clara menatap Claudia yang terdiam.


"Dengarkan aku, Ma, aku nggak peduli meskipun Mama tidak mau menerimaku. Asalkan Nathan masih mau menerimaku, aku tidak peduli meskipun Mama dan papa tidak menyukaiku. Hidupku adalah hidupku. Hidup Mama ya, hidup Mama. Jangan samakan hidupku yang sudah di era modern ini dengan kehidupan di jaman Mama yang sudah jadul!"


Claudia melongo mendengar ucapan Clara. Sepertinya pupus sudah harapannya memiliki menantu idaman.


Claudia pikir, mendapatkan Clara akan menjadi suatu kebanggaan untuknya. Gadis itu pasti akan menjadi gadis penurut karena dia lebih memilihnya dibandingkan Indira. Claudia pikir, dia dan Clara akan menjadi pasangan mertua dan menantu yang sangat serasi di hadapan orang.


Claudia membayangkan seandainya mereka pergi bersama di acara pesta atau jamuan yang dihadiri oleh kolega-kolega bisnis suaminya dan ayah Clara.


Mereka semua yang melihatnya pasti akan memuji dirinya karena mempunyai menantu secantik Clara. Wanita sempurna yang juga putri dari pebisnis yang cukup terkenal.


Sepertinya, semua yang Claudia inginkan hanya akan ada dalam angannya saja. Kenyataannya, wajah cantik Clara tidak bisa menutupi sifat buruk Clara yang baru wanita paruh baya itu ketahui.


Sekarang, Claudia merasa dilema. Tetap menyingkirkan Indira yang begitu penurut dan tidak neko-neko, atau terpaksa menerima Clara yang terlihat cantik, modis, tetapi tingkahnya tidak memenuhi kriteria.

__ADS_1


"Kenapa, Mama bilang Mama mau bekerja sama denganku untuk menyingkirkan Indira bukan?"


BERSAMBUNG ....


__ADS_2