
"Jadi kamu benar-benar ingin melenyapkan menantumu sendiri?" Abinaya menatap Claudia dengan penuh kemarahan. Lelaki itu saat ini sedang menjenguk istrinya di penjara.
Claudia sungguh keterlaluan! Abinaya sungguh tidak menyangka jika istrinya mampu berbuat kejahatan pada menantunya sendiri. Sebenci apapun Claudia terhadap Indira, seharusnya dia tidak sampai mencelakai apalagi sampai berniat melenyapkan nyawa menantunya sendiri. Bukan hanya menantu, tetapi juga calon cucunya.
Claudia menangis dengan penuh penyesalan. Dia sungguh merasa sangat menyesal karena telah mencelakai Indira. Apalagi, setelah Claudia mengetahui kalau Indira adalah putri kandungnya.
Rasanya, saat ini dia ingin bersujud di kaki Indira untuk meminta maaf pada perempuan itu. Namun, keadaannya yang sekarang berada di balik jeruji tidak memungkinkan Claudia untuk melakukan hal itu.
Claudia sangat menyesal. Apalagi, perbuatannya telah mengakibatkan bayi yang ada dalam kandungan Indira meninggal dunia.
Seandainya bisa, Claudia ingin sekali menemui putrinya untuk meminta maaf. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Kenapa Claudia harus mengetahui kenyataan jika Indira adalah putrinya di saat dia sudah merencanakan untuk mencelakai wanita itu?
__ADS_1
"Kamu benar-benar sudah gila, Claudia! Aku sungguh tidak menyangka kalau kamu akan berbuat sejauh itu. Memangnya apa kesalahan Indira padamu sampai-sampai kamu begitu membencinya?" Abinaya meninggikan suaranya karena merasa marah pada wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu.
"Apa karena dia yatim piatu? Dia miskin? Dia tidak sekaya Clara? Tidak berasal dari keluarga terpandang?" Abinaya masih terus memarahi Claudia. Lelaki itu menurunkan nada suaranya karena seorang petugas mengingatkannya agar dia tidak berisi berisik.
"Indira itu perempuan yang sangat baik. Saya saja menyesalkan perilaku Nathan karena sudah merusak perempuan sebaik Indira."
"Sekarang, katakan padaku, apa menantu yang kamu bangga-banggakan itu sesuai dengan keinginanmu? Apa dia bisa menghormati kamu seperti kamu yang begitu menghormati dia?" Mendengar ucapan Abinaya yang begitu menohok hati membuat Claudia semakin menangis.
Wanita itu hampir setiap malam keluyuran bahkan terkadang pulang sampai pagi dalam keadaan mabuk. Wanita seperti itu kamu pertahankan sementara Indira yang jelas-jelas baik justru ingin kamu singkirkan. Dasar bodoh!"
"Mas." Claudia menatap suaminya. Dia tidak menyangka kalau Abinaya tega memakinya di depan beberapa orang yang berada di sana.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu marah dengan ucapanku? Bukankah apa yang aku katakan adalah benar?" Abinaya menatap tajam ke arah istrinya. Amarahnya masih berkobar. Namun, Abinaya sekuat tenaga menahannya.
Lelaki itu tidak mungkin mengamuk dan memarahi Claudia karena saat ini mereka berada di kantor polisi.
"Sekarang, bagaimana perasaanmu setelah mengetahui jika menantu yang ingin kamu lenyapkan dari dunia ini ternyata adalah putrimu sendiri?" Kata-kata Abinaya membuat Claudia semakin menangis. Meratapi kesalahannya pada Indira.
"Apa saat ini kamu merasa menyesal?" Claudia tergugu. Namun, Abinaya tidak merasa iba sama sekali. Claudia memang pantas mendapatkan semua itu.
Dia telah begitu jahat pada Indira. Awalnya, Abinaya ingin melakukan apapun untuk membebaskan Claudia. Dia tidak ingin nama baiknya tercoreng karena sang istri saat ini mendekam di penjara.
Akan tetapi, setelah melihat semua bukti-bukti yang ditunjukkan oleh Dokter Reyno, Abinaya merasa terkejut. Dia sungguh tidak menyangka jika sang istri ternyata adalah dalang dari kecelakaan yang menimpa Indira.
__ADS_1