
Nathan dengan kesal menutup panggilan teleponnya setelah Reyno menyebutkan nama rumah sakit tempat istrinya dirawat. Memang benar apa yang dikatakan oleh Reyno. Suami macam apa dia sampai tidak mengetahui di mana tempat istrinya memeriksakan kehamilannya.
Nathan bergegas keluar dari rumahnya. Dia harus segera ke rumah sakit untuk menemui Indira. Nathan bahkan tidak memedulikan panggilan ibunya yang terus saja berteriak.
Pria itu meninggalkan Clara di salon. Istri keduanya itu sedang memanjakan diri merawat tubuhnya. Tidak mungkin Nathan menunggu Clara sampai selesai melakukan perawatan yang menghabiskan waktu berjam-jam.
Nathan kemudian memutuskan untuk meninggalkan Clara karena sedari tadi pikirannya tidak lepas dari Indira. Akhir-akhir ini, Nathan memang selalu memikirkan istri pertamanya itu.
Rasa cintanya pada Indira semakin hari semakin tumbuh. Sama persis seperti saat perempuan itu masih menjadi kekasihnya.
Tak berapa lama kemudian, mobil Nathan sampai di rumah sakit. Lelaki itu bergegas menuju resepsionis untuk mencari tahu di mana kamar Indira.
Sementara itu, di dalam ruang rawat inap yang Indira tempati, perempuan itu baru saja membuka matanya. Indira meringis saat merasakan sakit di kepalanya. Pandangannya tertuju pada Reyno yang saat itu duduk di hadapannya.
"Akhirnya kamu bangun juga." Reyno menatap wajah pucat Indira.
"Aku di mana?" ucap Indira pelan. Netranya menatap Reyno yang tersenyum padanya.
"Kamu di rumah sakit. Tadi kamu tidak sadarkan diri setelah hampir saja tertabrak mobil," jawab Reyno sambil mengembuskan napas panjang.
__ADS_1
Membahas kejadian kecelakaan yang hampir saja menimpa Indira, emosinya seketika naik. Namun, pria itu berusaha untuk menahannya.
Orang yang dia suruh menyelidiki mobil yang ingin menabrak Indira sudah mengabarinya. Mobil itu ternyata memang sengaja ingin menabrak Indira karena suruhan seseorang. Seseorang yang sangat Indira kenal.
Entah bagaimana reaksi wanita itu seandainya dia tahu siapa yang ingin mencelakainya.
Reyno kembali mengembuskan napas panjang. Setelah kejadian ini, Reyno tidak akan lagi tinggal diam. Dia tidak akan membiarkan orang-orang itu berhasil mencelakai Indira. Tidak akan pernah!
Perempuan itu terlalu berharga. Dia tidak akan membiarkan siapapun mencelakai sahabatnya.
Indira menatap Reyno. Wanita itu mencoba mengingat-ingat kejadian yang menimpanya sebelum dirinya terbaring di ranjang rumah sakit.
Indira mengusap perutnya. Perempuan itu menarik napas lega saat apa yang ditakutkannya tidak terjadi.
"Kamu menyelamatkan aku?"
"Aku hanya datang tepat waktu. Aku sungguh tidak bisa membayangkan seandainya aku terlambat datang." Reyno menatap Indira dengan perasaan yang dia sendiri tidak bisa mengartikannya.
"Terima kasih sudah menolongku."
__ADS_1
Reyno kembali menarik napas panjang.
"Indira, bisakah kamu pergi dari rumah itu?"
"Apa maksudmu, Rey?"
"Pergilah secepatnya dari rumah besar itu, Indi. Kamu tidak aman di sana," ucap Reyno lagi.
"Aku sudah sering mengatakan padamu kalau aku tidak mungkin pergi dari rumah itu sebelum aku membalas dendam pada Nathan," jelas Indira.
"Nyawamu lebih penting daripada balas dendammu itu, Indira. Aku yakin, kalau kamu pergi dari rumah itu, pria bodoh itu pasti akan menyesal karena telah memperlakukan kamu dengan tidak baik." Reyno menatap Indira yang terdiam menatapnya.
"Aku mohon, turuti kata-kataku kali ini." Reyno berusaha meyakinkan wanita itu agar menurutinya.
Lelaki itu sungguh kehilangan akal. Membayangkan orang-orang itu mencelakai Indira, membuat Reyno rasanya hampir gila.
Seandainya saja dia bisa dengan mudah membawa wanita itu keluar dari rumah Nathan, Reyno pasti akan melakukannya.
Sayangnya Indira bukanlah seperti wanita kebanyakan yang sudah pasti akan memilih jalan aman daripada harus berlama-lama menderita bersama suami bajingan seperti Nathan.
__ADS_1
"Aku akan pergi dari rumah itu jika sudah tiba waktunya."
BERSAMBUNG ....