
Indira baru saja selesai mandi. Perempuan hamil itu kemudian memoles wajahnya dengan make-up tipis. Hari ini, suami dan istri barunya akan datang ke rumah. Indira ingin menyambutnya dengan senyuman meskipun hatinya terasa sakit.
Indira hanya ingin menunjukkan pada Nathan jika dirinya baik-baik saja meskipun lelaki itu menikahi wanita pujaannya. Wanita itu tidak akan menunjukkan pada Nathan dan wanita itu jika dirinya saat ini sedang terluka.
Claudia dia baru saja sampai di meja makan. Netranya menatap ke sekeliling ruangan, mencari-cari keberadaan Indira. Pandangannya beralih pada makanan yang tersedia di atas meja.
Beberapa menu makanan yang tidak biasa ada di sana. Salah satunya adalah makanan kesukaan Nathan.
"Bi! Bibi!" teriak Claudia memanggil Bi Inah yang sedang membersihkan peralatan dapur bekas memasak.
Wanita paruh baya itu tergopoh mendekati Claudia.
"Ada apa, Nyonya?"
"Mana Indira?" Claudia berkacak pinggang di depan Bi Inah.
"Non, eh, Indira ada di dalam kamar, lagi mandi. Dia baru saja selesai beres-beres dan memasak, Nyonya," jawab Bi Inah meralat ucapannya yang memanggil Non sebagai sebutan pada Indira. Claudia tidak suka Bi Inah memanggil Indira dengan sebutan Non. Baginya, Indira sama saja dengan Bi Inah, seorang babu!
"Dia yang memasak semuanya?" Claudia menatap Bi Inah tak percaya.
Bagaimana mungkin? Bukankah wanita itu seharusnya saat ini sedang kesakitan atau menangis karena keguguran? Claudia bertanya-tanya dalam hati.
__ADS_1
"Apa Indira baik-baik saja? Mm, maksudku, apa dia, tidak mengeluh sakit atau–"
"Aku baik-baik saja, Nyonya. Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku." Indira yang baru saja datang tersenyum manis pada Claudia.
Wanita yang baru saja selesai mandi dan berpoles itu terlihat sangat cantik. Semenjak menggunakan hijab Indira terlihat sangat cantik dan menarik bagi siapapun yang melihatnya. Indira yang sekarang terlihat sangat berbeda dibandingkan Indira yang pertama kali datang.
Wanita itu kini terlihat lebih tegas dan tidak tampak lagi wajah ketakutan meskipun Claudia bersiap untuk menindasnya.
Kedua mata Claudia melotot melihat Indira terlihat baik-baik saja. Bukan hanya baik-baik saja, Indira bahkan terlihat sangat cantik, tidak seperti biasanya.
Bagaimana bisa? Bukankah seharusnya saat ini dia sedang kesakitan karena mengalami keguguran? Lalu, kenapa dia justru terlihat sangat cantik dan segar?
Mulai hari ini, dia akan menyatakan peperangan dengan Claudia. Meskipun dia tidak bisa membela diri seandainya Claudia memukul atau mengerjainya, paling tidak, Indira masih punya sedikit keberanian untuk melawan.
Indira bisa saja melawan Claudia. Namun, saat mengingat jika wanita itu adalah ibu mertuanya, seketika Indira menahan diri. Biar bagaimanapun, dia tetap harus menghormati Claudia sebagai orang tua.
Menghormati karena Claudia adalah orang yang lebih tua darinya dan ibu dari lelaki yang menikahinya.
Claudia mendengus kesal mendengar ucapan Indira. Memang benar apa yang dikatakan oleh Indira. Perempuan itu sudah selesai mengerjakan pekerjaannya. Jadi, tidak ada alasan baginya untuk memarahi Indira sekarang. Hanya saja, Claudia masih penasaran, kenapa Indira terlihat baik-baik saja?
"Baguslah kalau kamu tahu diri. Jangan lupa, kamu di sini itu hanya babu, tidak lebih!" Claudia menatap tajam pada Indira. Mengingatkan kembali pada wanita itu jika dia tidak pernah menerima Indira sedikitpun si rumah itu.
__ADS_1
"Saya mengerti, Nyonya. Tapi, Nyonya juga jangan lupa kalau aku ini babu yang menikah dengan putra Nyonya."
"Kau!" Claudia mendekor tajam. Ia tidak menyangka kalau Indira akan membalas ucapannya. Semenjak perempuan itu pulang dari rumah sakit Indira terlihat lebih berani dari sebelumnya. Hal itu tentu saja membuat Claudia sangat kesal.
Claudia baru saja ingin mengomel, tetapi, suara seseorang menghentikannya.
"Mama, aku pulang." Nathan tersenyum menatap ibunya yang tampak kaget.
"Sayang, kamu sudah pulang?" Claudia dengan senyum sumringah menyambut kedatangan Nathan dan Clara. Sepasang pengantin baru yang baru saja pulang dari bulan madu.
Claudia memeluk anak dan menantunya. Pandangannya kemudian beralih pada Indira. Wanita paruh baya itu tersenyum mengejek.
Sementara itu, Indira tersenyum lebar melihat siapa yang datang. Wanita itu menyembunyikan gemuruh di dadanya. Dengan langkah elegan dan senyum yang mengembang pada wajah cantiknya, Indira mendekati Nathan yang tampak terkejut melihatnya.
"Selamat datang, Suamiku, dan selamat bergabung bersamaku, Madu. Semoga kita bisa bekerjasama mengurus suami kita dengan baik."
BERSAMBUNG ....
Maaf, baru sempat update. Sambil nunggu update selanjutnya, kepoin juga novel milik temen Author yang satu ini yuk!
__ADS_1