
Nathan menatap Clara yang kini sudah tertidur dalam pelukannya. Wanita itu tertidur setelah puas memarahinya.
Nathan meraih ponselnya. Waktu baru menunjukkan pukul 10.00 pagi. Waktu yang kurang tepat untuk beristirahat sebenarnya. Namun, karena Clara merasa kelelahan setelah melakukan perjalanan jauh, wanita yang sudah resmi menjadi istrinya itu tertidur pulas.
Mereka baru saja pulang setelah seminggu berbulan madu. Jangankan Clara, Nathan sendiri juga merasakan lelah. Namun, entah mengapa kedua matanya tidak mau terpejam.
Nathan terus memikirkan Indira. Bayangan wajah cantik perempuan itu sedari tadi melintas di kepalanya. Nathan sungguh tidak menyangka kalau Indira bisa secantik itu saat menggunakan hijab. Istri pertamanya itu bahkan berkali lipat terlihat lebih cantik dari sebelumnya.
Sebelumnya, Nathan melihat wajah Indira biasa saja. Tidak pernah berdandan dan berpenampilan seadanya. Sedangkan kini, wajah perempuan itu terlihat segar dan penuh pesona. Jantungnya bahkan berdetak kencang saat Nathan berdekatan dengannya tadi pagi.
Ucapan lembut Indira serta perlakuannya padanya membuat Nathan merasa nyaman tidak seperti saat bersama dengan Clara. Saat bersama Clara, Nathan harus mempunyai stok yang sabar karena terkadang ada saja ucapannya yang membuat Clara marah dan meledak-ledak.
Akan tetapi, rasa cintanya pada Clara membuat Nathan akhirnya mengalah. Pria itu menatap wajah istri keduanya itu dengan lekat. Dia ingin mencari tahu, apa sebenarnya yang membuatnya begitu tertarik pada Clara hingga sampai melupakan Indira yang saat itu membuatnya tergila-gila.
Pertemuannya dengan Clara termasuk singkat. Hanya dalam beberapa bulan saja, Nathan menyetujui untuk menikah dengan perempuan itu. Padahal hubungannya dengan Indira sudah bertahun-tahun.
Namun, rasa cintanya pada Indira seolah pudar hanya karena melihat Clara yang begitu menarik di matanya.
Nathan menghela napas panjang. Saat ini, hatinya hanya dipenuhi oleh Indira. Pertemuannya pagi ini dengan istri pertamanya membuat Nathan kembali mengingat masa-masa indah saat bersama dengan Indira.
Rasa bersalah tiba-tiba saja hadir dalam hatinya. Nathan sadar jika dia sudah melukai hati Indira dengan begitu dalam karena telah menikahi Clara sebulan setelah pernikahannya dengan Indira.
Seharusnya, saat ini dirinya sedang berbahagia dengan Indira. Apalagi, saat ini wanita itu sedang mengandung anaknya. Ya! Nathan tidak pernah memungkiri kalau anak yang berada dalam kandungannya Indira adalah anaknya.
__ADS_1
Dari pertama kali Nathan membuka segel keperawanan Indira, wanita itu hanya bersamanya. Tidak ada laki-laki manapun yang dekat dengan Indira kecuali dirinya.
Indira sangat pengertian dan begitu perhatian padanya. Wanita itu bahkan rela meninggalkan pekerjaannya saat mengetahui kehamilannya.
Bunyi ponsel pertanda pesan masuk mengalihkan pandangannya yang sedari tadi tertuju pada Clara.
"Mas, bisakah nanti malam kamu ke kamarku? Aku dan calon bayimu merindukanmu."
Sebuah pesan terkirim dari nomor Indira. Wanita yang sedang dipikirkannya itu ternyata saat ini sedang merindukannya. Senyum pada wajah Nathan mengembang.
Apalagi, saat Indira mengirimkan foto yang membuat jiwa kelelakiannya langsung naik. Di dalam foto itu, Indira terlihat begitu menggoda.
***
Claudia mendekati Bi Inah yang sedang membereskan sayuran yang baru dibelinya di pasar.
"Kenapa Bibi membereskannya sendirian? Mana Indira? Kenapa Bibi tidak menyuruhnya?" Suara Claudia mengagetkan Bi Inah yang baru saja membuka kulkas untuk menyimpan sayuran ke dalam kulkas.
"Nyo–Nyonya." Bi Inah menutup kulkas dan mengambil wortel yang terjatuh di hadapannya, kemudian kembali meletakkannya di samping wastafel untuk kembali dicuci nantinya.
"Ma–Maaf, Nyonya. Non Indi–"
"Nggak usah panggil dia Non, dia itu di sini cuma pembantu bukan siapa-siapa!" tukas Claudia kesal.
__ADS_1
"Maaf, Nyonya. Dia baru saja masuk ke kamar setelah bantuin saya merapikan belanjaan ini," jawab Bi Inah.
"Bibi jangan terlalu baik sama dia, Bi. Nanti dia ngelunjak!" Claudia memperingati Bi Inah.
"Iya, Nyonya. Nanti saya akan bilang pada Indira." Bi Inah menundukkan kepala.
"Apa ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanya Bi Inah saat melihat majikannya itu masih berdiri di hadapannya.
Claudia menatap Bi Inah sambil berkacak pinggang.
"Apa yang dilakukan oleh Indira semalam?" Claudia menatap Bi Inah dengan tatapan tajam.
"Semalam, aku lihat Indira sedang minum susu. Tapi–"
"Tapi apa?" tukas Claudia penasaran.
"Saat saya sudah sampai di meja makan, Indira sudah bersiap minum susu."
"Lalu?"
"Susunya tumpah, Nyonya!"
"Apa?"
__ADS_1
BERSAMBUNG ....