PENYESALAN MERTUA KEJAM

PENYESALAN MERTUA KEJAM
KEGUGURAN


__ADS_3

Dokter yang memeriksa Indira keluar dari ruang IGD. Semua orang beranjak mendekati sang dokter dengan wajah cemas. Tidak terkecuali Reyno yang sedari tadi masih berada di sekitar sana meskipun keberadaannya tidak terlalu mencolok.


Semua orang sedang mencemaskan keadaan Indira sehingga mereka tidak begitu memperhatikan keberadaan Reyno di sana.


Claudia dengan langkah tergesa mendekati dokter yang menangani Indira.


"Bagaimana keadaan putri saya, Dokter?" Claudia menatap sang dokter dengan bersimbah air mata.


Sedangkan Nathan dan yang lainnya menunggu jawaban dari sang dokter dengan harap-harap cemas.


"Kecelakaan yang menimpa putri Anda sangat parah. Akibat benturan keras pada perutnya, pasien mengalami pendarahan. Kami sangat menyesal, karena kami tidak bisa menyelamatkan bayi dalam kandungannya."


"Apa?" Claudia dan yang lainnya sangat terkejut mendengar ucapan dokter.


Claudia menggeleng dengan air mata yang mengalir deras pada pipinya. Detik berikutnya, Claudia tidak sadarkan diri.


"Mama!" teriak Nathan.


"Tolong segera urus administrasi karena pasien harus segera dioperasi untuk mengeluarkan janinnya." Sang dokter kembali menginterupsi tanpa memedulikan Claudia yang tidak sadarkan diri.


"Lakukan apapun yang terbaik untuk istri saya, Dokter," ucap Nathan. Seorang perawat mendorong brankar ke arah Nathan yang menggendong tubuh Claudia.


Ibu Santi dan kedua perempuan muda yang menemaninya saling berpelukan.


"Indira, putriku ...." Ibu Santi terisak. Sementara Nathan langsung mengurus administrasi dan menandatangani surat persetujuan operasi Indira.


Lelaki itu sebenarnya tidak kuat. Dia merasa cemas dengan keadaan istrinya sekaligus merasa sedih karena telah kehilangan calon anaknya.

__ADS_1


"Sayang, kamu harus kuat. Aku tidak akan sanggup jika terjadi sesuatu padamu." Air mata Nathan mengalir. Lelaki itu menangis membayangkan kemungkinan buruk yang akan terjadi pada Indira.


Di depan ruang operasi, Reyno berbicara dengan teman sesama dokter yang menangani Indira.


"Tolong lakukan yang terbaik untuk menyelamatkan dia." Reyno berucap dengan suara bergetar menahan tangis.


"Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk menyelamatkannya." Dokter itu mengusap bahu Reyno dengan pelan.


"Berdoalah! Semoga Tuhan menyelamatkannya." Reyno mengangguk sebelum akhirnya berlalu dari hadapan teman sejawatnya itu.


"Sepertinya pasien perempuan itu sangat berarti buat Dokter Reyno, Dok. Baru kali ini saya melihat Dokter Reyno begitu terpukul saat menghadapi pasien. Dia bahkan tidak sanggup menanganinya sendiri." Seorang perawat yang sedari tadi mendengar pembicaraan kedua dokter itu bersuara.


"Kita doakan saja semoga operasinya berjalan lancar."


"Ayo!"


***


Reyno menenangkan diri di dalam mobil. Dokter tampan itu berkali-kali memukul setir untuk melampiaskan amarahnya.


"Seharusnya aku sendiri yang datang untuk menyelamatkanmu, Indi. Bukannya malah menyuruh orang suruhanku karena aku harus menangani pasien yang mengalami kritis dan segera diberi tindakan." Reyno berucap dengan lirih. Lelaki itu terisak menyesali keputusannya yang lebih memilih menyelamatkan orang lain ketimbang menyelamatkan Indira yang saat itu sedang dalam bahaya.


Akan tetapi, bukankah dia adalah seorang dokter? Sudah menjadi kewajiban seorang dokter untuk mendahulukan menolong pasiennya dari pada orang lain bukan? Meskipun orang lain itu adalah orang yang sangat dicintainya.


Ya! Reyno sangat mencintai Indira. Awalnya, Reyno mengikhlaskan Indira menikah dengan orang lain. Namun, saat mengetahui jika wanita itu tidak bahagia dengan pernikahannya, Reyno kemudian memilih jalan untuk melindungi Indira secara diam-diam.


Keinginan Reyno untuk melindungi Indira semakin menguat saat dia juga mengetahui bagaimana sepak terjang keluarga suami Indira yang begitu terobsesi ingin melenyapkan Indira dan bayinya.

__ADS_1


Ponsel Reyno berdering memperlihatkan nama anak buahnya yang dia suruh untuk melindungi Indira.


"Bos, dua bajingan ini akhirnya mengakui kalau yang menyuruhnya mereka mencelakai Nona Indira adalah Ibu Claudia, mertua dari Nona Indira."


Rahang Reyno mengeras, tangannya mengepal dengan raut wajah penuh amarah mendengar laporan dari anak buahnya.


"Kirim semua video pengakuan para bajingan itu ke nomor saya, dan serahkan mereka pada polisi. Saya akan melaporkan nenek sihir itu pada polisi secepatnya!"


"Kalian mengerti?"


"Mengerti, Bos!"


Reyno memasukkan ponselnya pada saku snellinya. Lelaki itu keluar dari mobil setelah merapikan penampilannya.


Reyno bertemu dengan Nathan yang sedang menangis di depan ruang operasi. Lelaki itu tersenyum sinis menatap lelaki bodoh yang telah menyia-nyiakan Indira.


"Dasar Pecundang! Menjaga istri sendiri saja tidak becus. Jika kamu memang sudah tidak bisa menjaga Indira, lebih baik kamu serahkan saja Indira padaku. Lelaki bajingan seperti kamu tidak pantas bersanding dengan Indira yang sangat berharga!"


"Apa maksudmu mengatakan itu? Aku mencintai Indira. Dia adalah calon ibu dari anakku. Aku tidak mungkin menyerahkan Indira padamu!" Nathan tersulut emosi. Dari awal dia memang sudah curiga jika lelaki yang katanya adalah sahabat dari Indira itu menyukai istrinya.


Namun, demi menjaga hubungannya dengan Indira yang baru saja membaik, Nathan tidak mempermasalahkannya. Akan tetapi, saat mendengar ucapan dokter di hadapannya yang seolah sedang mengakui perasaannya pada Indira membuat emosinya tersulut.


"Cinta?" Reyno tersenyum sinis.


"Kalau kamu mencintai Indira, kamu pasti tidak akan membuat Indira terluka dengan menikah lagi dengan wanita lain!"


"Kau!"

__ADS_1


__ADS_2