PERAWAN CINTA

PERAWAN CINTA
Rindu


__ADS_3

"Alhamdulillah akhirnya selesai juga acara kita ya" Ucap Zuhdi saat mereka merebahkan diri di kamar setelah pulang dari melaksanakan sholat tarawih di masjid


"Jadi kapan rencana kita pulang Fi? " Tanya Anwar


"Setelah kita pamitan besok, mungkin sehari atau dua hari lagi lah. Aku juga udah kangen suasana pesantren. " Ucap Lutfi


"Kangen pesantren apa seseorang yang ada di pesantren Fi" Zuhdi melirik Lutfi dengan senyuman


"Semuanya" Dengan senyuman juga


"Jadi bagaimana dengan nasib ku Fi? " Tanya Anwar


"Oh iya War, hampir lupa saya" Ucap Lutfi


"Tolonglah Fi, jangan engkau lupakan diri ini" Menunjukkan wajah sedih


"Besok pagi setelah sholat berjamaah di Masjid kita sampaikan Niat kamu War“


" Makasih Fi"


"Sama-sama.jangan lupa istiqoroh nanti malam, biar mantab langkah mu besok. " Ucap Lutfi mengingatkan


Mereka pun akhirnya membaringkan diri dan istirahat. Malam semakin larut dan sepi hanya terdengar suara jangkrik yang mengusik kesunyian malam


Di sepertiga malam yang syahdu. Di sajadah yang di bentang, Lutfi menyampaikan segala niat dan hajatnya. Serta melampiaskan rasa rindunya kepada orang yang di sayanginya dengan mentadabburi kalam ilahi


"Robbi, jika dia bukan jodoh yang terbaik untukku. Damaikanlah hatiku dengan cintaMu" Ucap Lutfi di sela-sela do'anya


Ternyata Lutfi yang terlihat tenang dan tanpa masalah, ia juga memiliki perasaan rindu kepada seorang wanita yang telah lama mengusik hatinya


Saat ia asyik dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Quran waktu subuh pun tiba. Ia pun mengumandangkan azan, mungkin akan menjadi yang terakhir di masjid ini


Setelah mereka menyelesaikan sholat subuh berjama'ah. Mereka pun seperti biasa bersalaman keliling, Tiba-tiba saat bersalaman dengan pak Trisno


"Fi, bapak minta waktunya sebentar ya. Ada yang ingin bapak sampaikan" Ucap pak Trisno


"Iya Pak, kebetulan kami juga ada yang ingin kami sampaikan ke Bapak" Jawab Lutfi


Mereka berempat pun duduk agak di pojokan masjid, karena masih ada yang sedang tadarus


"Kalau begitu kalian aja yang duluan menyampaikan niat kalian" Mempersilahkan Lutfi


"Karena Bapak yang mengajak terlebih dahulu tidak adil rasanya jika kami yang duluan Pak" Ucap Lutfi


"Kamu bisa aja Fi, baiklah. Karena kalian bertiga cukup dekat jadi menurut bapak tidak ada yang perlu di tutupi dari kalian ya"


"Iya Pak" Jawab mereka bertiga


"Karena waktu kalian juga sebentar lagi disini. Sebelum kalian pulang bapak ingin menyampaikan niat bapak yang ingin meminta salah satu dari kalian menjadi imam buat putri bapak. Kalau saat ini kalian belum siap karena sibuk kuliah, kami siap menunggu" Jelas Pak Trisno


"Niat bapak ingin menjodohkan kepada siapa Pak? " Tanya Anwar penasaran

__ADS_1


"Sebenarnya bukan bapak menjodohkan, tetapi ini memang pilihan hati putri bapak sendiri. Bapak hanya menyampaikan niatnya dan mendukungnya karena menurut bapak tidak salah jika dia mencintainya" Ucap Pak Trisno


"Siapa Pak? " Tanya Zuhri yang juga penasaran


"Nak Lutfi, bersediakah kamu menjadi imam untuk putri bapak? " Tanya Pak Trisno menatap Lutfi dengan penuh harapan


Dalam beberapa saat suasana hening


"Gimana ya Pak, bukan maksud tidak menghargai niat bapak dan perasaan putri bapak. Jadi saya jujur saja, kalau saya bukan yang terbaik untuk putri bapak.mungkin Allah sedang mempersiapkan jodoh yang lebih baik untuk putri Bapak" Jawab Lutfi yang merasa serba salah. Iya harus menjawab dengan tanpa menunda karena demi menjaga perasaan temannya juga. Tanpa ragu dan pikir panjang ia memutuskan


"Begitu menurut Nak Lutfi, “ menunduk lemah


"Boleh saya menyampaikan niat kami yang tertunda Pak? " Tanya Lutfi lagi


"Silahkan " Kata pak Trisno


"Baiklah, saya di sini mewakili teman saya Anwar ingin menyampaikan niatnya untuk ta'arufan kepada putri bapak" Jelas Lutfi dengan mantap


"Jadi ceritanya kita ini sedang memiliki niat dan tujuan yang sama, namun seperti cinta segitiga ya, " Celoteh Zuhri mencairkan suasana yang terasa beku


"Baiklah, niat baik Nak Anwar. Nanti bapak diskusi kan kepada keluarga dan putri Bapak" Jawab Pak Trisno


"Ditunggu kabar baiknya ya Pak, " Ucap Lutfi


"Iya Nak segera, kapan rencana kalian mau pulang? " Tanya Pak Trisno


"In syaa Allah, setelah mendapat jawaban dari bapak. Kami akan langsung pulang Pak, udah kangen keluarga" Jawab Lutfi


"Iya Pak, sekalian kami mau keliling kampung dulu hari ini. Permisi sama warga sini dan menikmati pemandangan yang akan sulit kami nikmati jika sudah pulang ke kota. " Jelas Lutfi lagi


"Kalau begitu bapak pulang dulu ya, assalamu'alaikum" Ucap Pak Trisno sambil meninggalkan masjid


"Wa'alaikumsalam salam warohmatulohi wabarokatuh" Jawab mereka kompak


"Fi, bukan karena aku kan kamu tidak menerima putri Pak Trisno? " Tanya Anwar yang menjadi tidak enak dengan perasaannya


"Tidaklah War, aku memang sudah punya bunga yang mekar di hatiku tetapi bukan putrinya pak Trisno. Walau pun niatku belum aku sampaikan ke padanya tetapi sudah ku minta pada yang menciptakannya." Jelas Lutfi


"Syukur lah kalau begitu, aku tadinya gak enak hati sama kamu Fi. Tapi ternyata aku salah. Semoga Allah menjaga dia untuk mu ya Fi, " Doa Anwar


"Aamiin.makasih ya" Ucap Lutfi


"Aku juga makasih banyak Fi, udah bantuin aku dalam banyak hal" Jawab Anwar


"Pantesan aku sering melihat Bunga itu serius sekali lihatnya kalau Lutfi sedang menyampaikan sesuatu di depan" Celoteh Zuhri


"Sudahlah, jangan bahas perasaan lagi. Lelah, lebih baik kita keliling kampung sambil pamitan dan mengabadikan pemandangan alam yang asri di sini" Ajak Lutfi


"Baiklah, ayo. Semangat, abaikan perasaan yang ada. Raih mimpi yang nyata." Ucap Anwar menyemangati dirinya


Mereka pun berjalan keliling desa Mekar Sari dengan menyapa warga desa. Udara yang begitu segar mampu menyejukkan hati pikiran mereka. Pemandangan yang indah begitu mempesona membuat berdecak kagum untuk yang kesekian kalinya.

__ADS_1


*****


"Alhamdulillah Bunga menyetujui niat baik Nak Anwar" Mereka berkumpul di rumah Pak Trisno


"Terima Kasih Pak, bilamana ada hal yang di tanyakan tentang saya, silahkan Pak? " Tanya Anwar


"Apakah Nak Anwar bersedia jika bersama bunga tidak membawanya keluar dari desa ini, karena menjadi harapan bapak juga yang menjadi pasangan Bunga kelak, sudi menggantikan posisi bapak untuk menuju desa yang lebih maju. " Jelas Pak Trisno


"In syaa Allah Pak, jika tidak ada masalah. Bulan depan saya mengkhitbah Bunga Pak" Ucap Anwar mantab


"Baiklah, semoga niat baik Nak Anwar dan kita semua di mudahkan oleh Allah, aamiin" Ucap Pak Trisno


"Aamiin" Ucap yang hadir di ruang keluarga Pak Trisno


Plash back


"Bagaimana bah, apakah abah sudah menyampaikannya? " Tanya Bunga saat abahnya pulang dari Masjid


"Sudah Nduk" Sambil mendudukkan tubuhnya di ruang tengah


"Jadi gimana Bah?" Tanya Bunga penasaran


"Kata Lutfi, ada yang lebih baik dari dia untuk kamu Nduk" Jawab Pak Trisno


"Siapa Bah? " Tanya Bunga lagi


"Anwar, menurut kamu gimana Nduk" Langsung melihat raut wajah Bunga yang memegang


"Oh, jadi maksud mas Lutfi itu yang terbaik buat Bunga itu mas Anwar?" Dengan nada memahami


"Iya Nduk, kalau abah tidak memaksa kamu, semua abah kembalikan kepada kamu. Karena kamu yang nantinya akan menjalani, " Nasehat Pak Trisno kepada putrinya


"Kalau menurut mas Lutfi itu yang terbaik, in syaa Allah Bunga yakin bah. Dengan ridho dan izin abah juga"


"Kamu yaqin Nduk, ini tentang masa depan kamu? " Tanya Pak Trisno meyakinkan


"In syaa Allah Bah, mulai nanti malam Bunga akan sholat istikharah. Agar lebih mantab hati bunga Bah, bukankah jika ada lelaki baik yang ingin menyampaikan niat baiknya tidak boleh kita tolak Bah" Mengingatkan abahnya


"Tapi bukannya hatimu inginnya sama mas Lutfi? " Tanya Pak Trisno


"Gak jodohnya sama mas Lutfi, saran mas Lutfi juga baik Bah. Bunga yakin mas Anwar juga baik, karena orang baik itukan berteman dengan orang baik juga bah" Jelas Bunga


"Kalau kamunya setuju, nanti malam selesai magrib mas Anwar mau ta'arufan sama kamu" Kata pak Trisno


"Siap Bah" Ucap Bunga mantab


"Adakah hal yang ingin menjadi keinginanmu yang harus disampaikan nanti Nduk? " Tanya Pak Trisno


"Bunga gak ingin jauh dari desa ini Bah, kalau mas Anwar siap. In syaa Allah Bunga setuju dengan mas Anwar Bah" Jawab Bunga


"Baiklah kalau begitu, kita sampaikan sama ibumu. Pasti dia bahagia" Sambil mencari keberadaan istrinya

__ADS_1


__ADS_2