PERAWAN CINTA

PERAWAN CINTA
Memilih mu


__ADS_3

Ku pilih hati mu tanpa ku ragu


karena semua ini tentang Tuhanku


Dialah yang memilihmu untuk menjadi imamku


Ketetapan hati bukan semata karena nafsu


Pernah Terbersit hati menginginkanmu


Namun kutahu bahwa Tuhan ku sang penentu


Tuhanku menitipkan ku cinta bukan cinta yang pernah ku tanam. Bukan cinta yang memilihmu tapi Dia yang memilihmu untuk ku cintai


Tiara menuliskan segenap perasaannya di buku diary kesayangannya, teman sekaligus sahabat yang selalu setia menemani perjalanan hidupnya selama ini. menuliskan beberapa bait kata untuk menggambarkan isi hatinya setelah melewati malam yang begitu menegangkan, dimana ia telah menentukan pilihan untuk menerima kembali seseorang dalam hidupnya setelah sekian lama ia berusaha untuk keluar dari memory bersama Arya.


Flashback


"Assalamu'alaikum warohmatulhi wabarokatuh" Ucap Lutfi sambil mengetuk pintu apartemen yang Tiara tempati


"Wa'alaikumsalam warohmatulhi wabarakatuh" tanpa menunggu lama pintu langsung terbuka, karena Tiara memang sudah menunggu mereka dengan perasaan gugup


"Silahkan masuk Kyai, ummi." Ketika pintu sudah terbuka dan melihat tamu mulia sudah di depan pintu


Ummi dan abah Yahya mengikuti langkah Tiara menuju ruang tamu. Sedangkan Lutfi masih bertahan di depan pintu.


"Ustadz, kenapa masih di sana. Tidak mau masuk? " Tanya Tiara sambil menuju pintu lagi sambil membawa buket buka


"Abisnya abah sama ummi saja yang di suruh masuk" Menunjukkan ekspresi merajuk


"Selamat ya ustadz, sudah tambah pinter dan tambah gelar lagi. Semoga ilmunya berkah dan manfaat" Memberikan buket buka sebagai ucapan selamat


"Aamiin, Terima kasih ya Mutiara intan permata. " Terharu dan menerima buket bunga yang di berikan Tiara. Tetapi tatapannya terhenti saat melihat cincin melingkar di jari manisnya.

__ADS_1


"Kenapa ustadz, tidak mau atau alergi bunga" Melihat Lutfi yang belum menerima buket bunganya


Lutfi mengingat kembali perkataannya saat memberikan cincin itu kepada Tiara, jika ia menggunakannya berarti Tiara menerimanya.


"Bu bukan begitu maksud saya, itu maksudnya apa ya" Lutfi masih tidak percaya


"Oh, ini. Ya, seperti yang ustadz lihat. " Jawab Tiara jadi menundukkan wajahnya yang jadi malu


"Jadi, kamu Terima Tiara." Lutfi memastikan lagi


Dengan agak lama Tiara akhirnya menganggukkan kepalanya yang mukanya jika diperhatikan mulai memerah.


"Kalian cerita apa sih, kok sepertinya ummi tidak mengerti alur ceritanya" Ummi Syariah ternyata dari tadi memperhatikan mereka


"Ia, kita seperti tidak ada di sini ya mi" Tambah abah Yahya yang dari tadi terabaikan


"Maaf, maaf Bah, ummi. Silahkan di cicipi, ini masakan Tiara" Tiara baru tersadar dan Lutfi masih berdiri dan merasa masih belum percaya dengan apa yang di lihatnya


"Ini mi, bunganya buat ummi aja. Mungkin ustadz Lutfi alergi bunga" Canda Tiara yang melihat Lutfi yang terpaku tanpa berkata dan bersuara lagi


"Silahkan duduk ustadz, abah, ummi dicicipin. Maaf kalau rasanya kurang ya, soalnya masi belajar. Kalau yang ini menu kita order" Sambil menunjukkan beberapa menu yang Tiara pesan .


"Tunggu sebentar abah, ummi. Sebelum kita makan, Lutfi mau menyampaikan sesuatu kepada abah dan ummi" membuat suasana menjadi hening seketika


"Apalagi sih mas, ummi sudah laper ni. Penasaran juga sama masakan Tiara" Ucap ummi Syarifah


"Ummi jangan khawatir, nanti ummi akan sering kok nyobain masakan calon mantu ummi" Lutfi menyampaikan dengan senyuman bahagianya


"Maksudnya mas? " Tanya abah yang masih belum benar-benar mengerti


"Begini Bah, ummi. Lutfi tidak bisa menunda untuk menyampaikannya, karena ini antara hidup dan mati Lutfi" Jelas Lutfi yang semakin membuat suasana tegang


"Ada apa lagi mas," Serang ummi Syarifah yang jadi sedikit khawatir

__ADS_1


"Lutfi ingin melamar Tiara untuk jadi pendamping Lutfi, menurut Abah dan ummi gimana? " Tanya Lutfi memandang abah dan umminya bergantian


Sedikit lama agar suasana semakin menegangkan, akhirnya ummi yang mendapat kode dari abah untuk menjawab terlebih dahulu


"Kalau ummi sih, ya setuju sekali. Tapi abah gimana? " Memandang abah Yahya seperti ada sesuatu hal yang di tahannya, berat untuk mengungkapkannya


"Sebenarnya abah telah menjodohkan kamu dengan seseorang yang cantik luar dalamnya mas, gimana ya" Dengan ekspresi sedih


"Abah, abaikan tau Lutfi maunya dengan siapa" Lutfi jadi lemes


"Justru abah tau itulah, abah jodohkan kamu dengannya" Jawab abah Yahya


"Yang Lutfi mau kan Tiara Bah," Jelas Lutfi


"Ya, yang abah jodohkan juga Tiara mas. Kamu mau Gak" Senyum abah merasa menang dengan sandiwaranya


"Abah, buat Lutfi mau pingsan aja. Abah gak tau gimana perjuangan Lutfi untuk mempertahankan Tiara sudah gitu gimana untuk merebut hatinya, hanya Allah yang tau Bah" Jelas Lutfi


"Ia, semua kita kembalikan kepada Allah. Kalau abah sangat mendukung, tapi emangnya Tiara nya mau sama kamu" Abah mulai memandang Tiara


"In sya Allah, kali ini Allah bukakan hatinya untuk Lutfi Bah" Dengan penuh keyakinan


"Yakin sekali kamu, Abah belum tanya sama Tiara. Gimana Tiara, kamu mau sama anak saya yang manja ini" melihat Tiara dengan tersenyum


Tiara yang di tanya langsung seperti ini jadi malu dan mengangguk


"Kalian sudah janjian ya" Tebak Abah melihat Tiara dan Lutfi bergantian


"Itu dia Bah, abah tidak tau perjuangan Lutfi menanti jawaban dari Tiara" Jelas Lutfi menggebu-gebu


"Ia maaf sebelumnya Bah, ummi. Tiara mengundang makan malam ini sebenarnya untuk menyampaikan ini kepada ustadz Lutfi, tapi keburu ustadz Lutfi mengutarakannya ya jadi begini situasinya.maksud Tiara tadi menyampaikannya setelah makan" Tiara menunduk malu


"maaf Abah, ummi. Lutfi jadi menunda waktu makan malam ini, abisnya perasaan ini mau meledak kalau di tunda" senyum bahagia Lutfi terpancar begitu jelas

__ADS_1


"ia, ia. nanti kita lanjutkan lagi ya, ummi mau makan dulu" sebenarnya ummi Syarifah pun merasa bahagia sekali namun ia me-netralkannya dengan segera makan-makanan yang telah di hidangkan untuk di dimakan.


Entah mengapa rasa yang begitu bahagia ini membuat apa yang di makan terasa hambar, rasanya bibir ingin tersenyum selebar mungkin mengekspresikan hati yang begitu bahagia. Beginilah rasanya cinta yang di sambut setelah sekian lama terjaga namun Allah mengizinkan akhirnya mereka mendapat jawaban yang membuat hati bahagia. Cinta yang terjaga begitu terasa jika telah waktunya bersua, rasa syukur semakin merasa tercipta untuk sang penggenggam cinta yang telah menitipkan cintanya di hati kita yang membuat hidup begitu berwarna. Cinta karenaNya akan menghantarkan kita kepada cinta yang abadi dan hakiki dan terasa indah yang tiada bisa terucapkan di lisan ini yang hanya mampu di rasakan dengan hati yang begitu bahagia terasa


__ADS_2