
Waktu terus bergulir tanpa ada yang mampu menghentikannya, saat ini mahasiswa sedang di sibukkan dengan ujian karena sudah menyelesaikan tugas-tugas nya dan mencukupi jam tatap muka. Tiara begitu antusias menghadapi ujian pertamanya di Turki, akan kah ia bisa mempertahankan prestasinya.
Tiara mengulang dan memahami kembali materi yang akan di ujian kan sambil santai menikmati indahnya selat Bosphorus, sambil memegang buku ia juga menikmati hembusan angin yang membelai lembut kulitnya.
Tiara memang tipe orang yang suka melakukan suatu hal dengan sendiri, karena dengan kesendiriannya itu ia mampu merasakan kehadiran Tuhannya begitu dekat dan seakan berkomunikasi mencurahkan segala asa dan rasanya. Walau pun ia memiliki sahabat yang cukup baik dan dekat, tapi Tiara sangat tertutup.
Ia lebih senang menyampaikan segala perasaan nya dengan sang Maha Mengetahui, karena itu ia lebih suka sendiri di saat tertentu.
Setelah ektra memahami pembelajarannya, Tiara mengabadikan ke indahan selat Bosphorus dan mengunggahnya di statusnya. Menarik nafas secara perlahan dan menghempaskan nya kembali ke udara.
Tut tut tut
Handphone Tiara berdering, ia pun mengangkatnya
"Assalamu'alaikum warohmatulhi wabarakatuh" Ucap Tiara seperti biasa
"Wa'alaikumsalam warohmatulhi wabarakatuh," Jawab yang menelpon
"Ada apa ustadz? " Tanya Tiara
"Bolehkan saya mengganggu waktunya sebentar" Sambil berjalan mendekati Tiara dan Tiara seakan menyadari suara ustadz Lutfi sepertinya ada di dekatnya
"Ustadz" Tiara terkejut melihat ustadz Lutfi yang benar ada di belakangnya ternyata menelpon nya
"Maaf ganggu ya" Kata Lutfi
"Ia gak papa ustadz, kok bisa tau saya di sini? " Tanya Tiara
"Kebetulan tadi saya lagi lewat sini dan melihat kamu" Jawab Lutfi yang sebenarnya mengetahui keberadaan Tiara dari unggahannya dan memang dia juga berada tidak jauh dari selat Bosphorus
"Oh begitu" Mengangguk dan memandang burung-burung camar yang indah berterbangan sambil mengkhayal ini seperti burung yang dapat terbang tinggi kemana pun ia mau
"Sendiri aja Tiara? " Tanya ustadz Lutfi memecahkan lamunan Tiara
"Ha, maaf ustadz. Apa tadi ustadz bilang" Gagal fokus
"Kamu kesini sendiri aja? " Tanya ulang Lutfi
"Tidak ustadz" Jawab Tiara masih tanpa menoleh
"Jadi sama siapa? "
"Sama malaikat yang selalu ada di sisi kanan dan kiri saya ustadz" Jawab Tiara dengan senyumannya
"Masya Allah" Ucap Lutfi yang melihat dari samping senyuman Tiara begitu manis nya terlihat
__ADS_1
"Ustadz habis dari mana tadi? " Bertanya basa basi
"Selesai kegiatan di masjid biru"
"Kegiatan apa ustadz"
"Berbagi sedikit ilmu dan mengasahnya bersama rekan-rekannya yang aktif di organisasi dakwah" Jelas Lutfi
"Subhanallah, selalu menjadi orang yang bermanfaat ya ustadz" Puji Tiara
"Biasa aja Tiara, kamu juga bisa gabung kalau tidak sibuk Ra, nambah-nambah saudara dan pengalaman" Ucap Lutfi
"Insya Allah ustadz, kabari aja kalau ada kegiatan lagi ustadz" Sambil sesekali melihat ke arah ustadz Lutfi
"Kegiatannya selalu ada Tiara, tinggal kamu nya aja yang bisanya kapan Ra" Balas Lutfi dengan senyum
"Ooo, gitu ya ustadz. Untuk seminggu ini sepertinya belum ustadz, saya masih fokus sama ujian, mungkin bisa gabung setelah ujian ya ustadz" Jelas Tiara
"Ia gak papa, di tunggu ya. soalnya kita butuh rekan yang bisa bahasa Inggris, biar ada tambahan bahasanya Ra"
"Insya Allah ustadz" Sambil melihat jam yang ia gunakan di tangannya yang menunjukkan pukul 18.05
"Sepertinya sudah sore Tiara, kita pulang yuk" Mengerti keadaan dengan melihat Tiara yang melihat jam tangannya
Mereka melangkahkan kaki meninggalkan selat Bosphorus yang terlihat mulai temaram karena sinar matahari mulai bersembunyi di ufuk barat.
Berjalan dengan membisu namun perasaan menggebu tetapi harus tetap terjaga kokoh sampai takdir mempertemukan jalan untuk bersama. Mungkin saat ini sedang berjalan bersama namun ada benteng yang kokoh yang harus tetap terjaga.
Hati berbisik mengatakan cinta namun bukan cinta yang tertanam harus di paksa
Cinta karena ilahi yang mampu mengepakkan sayap-sayapnya terbang bersama menuju cinta yang abadi
Keinginan ingin memiliki harus di dasarkan kepada ridho ilahi
Begitulah dia insan ini menjaga cintanya sehingga harus menunggu radar dari sang Maha Cinta untuk melangkah dan masih terjaga agar tidak tersandung oleh cinta yang semu semata
Setibanya di persimpangan jalan Lutfi baru membuka percakapan lagi
"Hati-hati di jalan, semoga ujiannya lancar" Ucap Lutfi
"Makasih ustadz, assalamu'alaikum" Balas Tiara
"Wa'alaikum salam warohmatulohi wabarakatuh" Jawab Lutfi yang meneruskan langkahnya
Tuhanku berikan ku cinta
__ADS_1
Yang Kau titipkan bukan cinta yang pernah ku tanam
Aku ingin rasa cinta ini masih menjadi
Cinta perawan
Cinta yang hanya aku berikan saat ijab qobul telah ter tunaikan
Bait-bait syair di lantunkan Lutfi sambil berjalan untuk menggambarkan perasaannya yang saat ini ia rasakan.
"Yakinlah, semua akan indah pada waktunya" Ucap Lutfi menguatkan hatinya
"Mutiara Intan Permata, mengapa engkau begitu sulit untuk ku lupakan jika memang kita tidak ditakdirkan bersama, kamu tidak tau bagaimana aku harus sampai ke negeri ini untuk bisa menghindari mu. Tetapi engkau seakan muncul kembali untuk berkata bahwa jangan melupakanmu, ya Allah hati ini mulai menjerit jika aku harus menahannya terus. Beri hamba Mu ini petunjuk ya Robb" Lutfi menumpahkan segala rasanya sendiri di Galata sambil memandang selat Bosphorus dari atas. Jalan menuju kediaman Lutfi melewati Galata yang terlihat sepi menjelang maghrib. Setelah puas dan merasa lega ia pun melanjutkan langkahnya ke masjid tempat yang selalu membuatnya damai dan tenang.
Sama halnya dengan Tiara yang merasakan hal yang sama kepada Lutfi, hatinya merasa terusik jika berhadapan dengan ustadz Lutfi namun wanita begitu pandai untuk menyimpan perasaannya dan tetap menjaga kesucian cintanya hingga sampai saat ini.
"Assalamu'alaikum" Ucap Tiara membuka pintu apartemennya
"Wa'alaikumsalam" Jawab Jihan dari dalam yang sedang asyik dengan handphone nya.
"dari mana aja Ra?, kok baru pulang" Tanya Jihan
"Biasa, keliling aja mencari udara segar" balas Tiara
"Bukannya ini lagi musim ujian ya, kamu gak belajar"
"Ini," Menunjukkan tasnya yang ada di punggungnya
"Jadi ceritanya kamu belajar bersama udara segar Ra" Tebak Jihan
"Tepat sekali"
"Unik juga tuh, bisa di coba besok"
"Silahkan, aku lebih senang belajar seperti itu. Jika sudah merasa lelah dalam memahami maka hirup udara yang segar akan membuat otak segar kembali" Senyum Tiara
"Kamu itu ada-ada saja ya" Ucap Jihan menggelengkan kepala
"Ya sudah, aku mau mandi dulu ya" Tiara melangkah menuju kamarnya.
"Bukannya dulu sudah mandi Ra"
"Oh iya lupa, sekarang" meralat ucapannya kembali
Begitulah kebiasaan anak sekarang yang harus benar-benar tepat dalam menggunakan kata, jika tidak akan di pertanyakan lagi.
__ADS_1