
Di masjid biru, menjadi saksi bisu dia insan mengikat janji suci menyempurnakan separuh imannya membina mahligai istana cinta.
"Qabiltu nikahaha wa tazwijaha bil mahril madzkur haalan" Ucap Lutfi dengan tegas dan lancar
"Bagaimana para saksi, sah?" Tanya bapak Penghulu
"Sah" Jawab para saksi dan yang hadir pada momen bahagia Lutfi dan Tiara
Ijab qabul berjalan dengan sempurna, akhirnya dia insan yang menjaga kesucian cintanya selama ini di persatukan dengan ikatan suci. Suka duka menjaga hati dan cinta sampai ijab qabul terucap bukanlah hal yang mudah, namun dengan memohon penjagaan dan perlindungan kepada pemilik hati makan semua ini akhirnya berbuah manis.
Sebenarnya Tiara ingin menyelesaikan study S2 nya baru melangsungkan pernikahan. Namun Lutfi ingin mengukir sejarah mereka di masjid biru ini bersama insan yang di cintainya selama ini, serta saran abah dan ummi untuk menyegerakan hal yang baik akhirnya mereka melangsungkan akad terlebih dahulu. Untuk walimahannya nanti akan di adakan setelah Tiara Wisuda dan di adakan di pesantren dadakan. Untuk sementara Lutfi siap berpisah sejenak menunggu Tiara selesai mengerjakan tugas akhirnya agar tidak terganggu. Walau pun begitu Lutfi tetap menunggu di Turki, ia tidak ingin kembali tanpa kekasih pujaan hatinya. Mana tau ada hal yang bisa ia lakukan untuk mengurangi tugas sang istri, ya minimal sekedar menjadi teman cerita atau berjalan atau bertukar pikiran tentang hal yang akan di bahasnya.
Setelah selesai berdoa, pengabadian momen bersejarah ini pun berlangsung. Lutfi mengulurkan tangannya untuk di cium oleh Tiara, namun berapa kakunya Tiara mengulurkan tangannya untuk bisa menyentuh tangan Lutfi yang saat ini sudah sah menjadi suaminya. Perlahan ia ulurkan kedua tangannya dan menundukkan kepalanya mencium tangan suaminya. Walaupun selama ini ia begitu mengagumi sosok insan yang ada di hadapannya ini tapi sangat jauh ia bisa membayangkan hal ini akan benar-benar terjadi pada dirinya. Menjadi istri dari Lutfi Khoirul Anam, lelaki tampan nanti rupawan dan sholeh ini telah sah menjadi imam dalam hidupnya. Sosok insan yang akan menemani lika-liku kehidupan kedepannya membangun mahligai rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warohmah. Hatinya kini seperti taman bunga yang bermekaran indah, cinta yang ia jaga kini memiliki muara untuk di labuhkan. Bukan karena cinta ia memilihnya namun karena Allah yang menuntun ia untuk mencintainya. Mencintainya karena bukti cintanya kepada sang Maha Cinta.
"Ayo dong, sedikit merapat. Kan sudah sah" Ucap Yogi sebagai fotografer di momen bahagia ini
Lutfi dan Tiara masih terlihat kaku untuk bergandengan tangan. Akhirnya ummi Syarifah turun tangan untuk menyatukan tangan mereka agar posisi lebih dekat. Setelah itu di dampingi oleh abah Yahya dan ummi Syarifah. Dilanjutin oleh rekan-rekannya Lutfi yang menyukseskan acara di masjid biru ini, mereka adalah rekan-rekannya yang bergerak di organisasi kemahasiswaan Indonesia. Kumpulan mahasiswa Indonesia yang kuliah di Turki.
"Abah sama ummi apa gak bisa di tunda sehari lagi pulangnya, kita kan belum ada jalan-jalan" Ucap Lutfi saat mereka duduk bersama setelah acara selesai
__ADS_1
"Kamu tau sendirilah mas, abah mu itu punya amanah yang besar yang harus di jaganya. Abah bisa hadir kesini aja sudah hal yang luar biasa, biasanya susah sekali untuk bisa meninggalkan pesantrennya yang semakin hari semakin bertambah saja santrinya." Jelas ummi Syarifah
"Makasih ya mi, abah sudah bisa hadir di acara wisuda Lutfi dan Lutfi juga tidak menyangka akan bisa memberi kejutan yang luar biasa ini kepada abah dan ummi. Sebenarnya kejutan juga untuk Lutfi sendiri." Ucap Lutfi dengan senyum bahagia
"Ini sudah desain Allah sebagai hadiah untuk kamu mas, jadi harus lebih banyak bersyukur ya" Tambah ummi lagi.
"In syaAllah mi, doakan putra ummi ini selalu istiqomah di jalanNya" Ucap Lutfi
Setelah acara selesai mereka beristirahat sejenak kembali ke apartemen Tiara yang lebih luas karena saat ini Tiara hanya tinggal sendiri. Teman satu kamarnya lagi ambil cuti karena semenjak kembali ke tanah air kemarin orang tuanya sakit keras sehingga ia tidak tega meninggalkannya.
Setelah sholat Asar, Lutfi dan Tiara tentunya mengantarkan abah dan ummi ke bandara.
"Baiklah, abah dan ummi pamit berangkat dulu ya. Jangan lama-lama kalian di sini, abah sudah butuh pengganti" Pesan abah lagi
Tiara memeluk ummi Syarifah dengan menitikkan air matanya lagi, kini ia memiliki seorang ibu sebagaimana orang-orang yang lainnya.
"Doa kan Tiara selalu ya mi" Hanya kata-kata itu yang Tiara sanggup ucapkan
"In syaAllah, selalu kamu ada dalam doa ummi selama ini dan seterusnya" Ucap Ummi Syarifah
__ADS_1
"Benarkah ummi" memandang ummi Syarifah dengan terharu
"Ia, karena ummi berharap banyak kepadamu. Alhamdulillah Allah mengizinkannya" Ummi Syarifah mengelus kepala Tiara menandakan betapa ia begitu menyayangi wanita yang ada di hadapannya ini
"Makasih ummi" Tiara mengecup punggung tangan ummi Syarifah dengan semakin terharu
Setelah momen berpelukan berakhir, tibalah momen berpisah itu hadir. Mereka harus berpisah sementara karena Tiara belum menyelesaikan studinya saat ini.
Merekapun belum memberi tahu sanak famili yang ada di tanah air bahwa mereka sudah melangsungkan pernikahan, setelah tiba nantinya akan menyebarkan undangan dan berita bahagia ini kepada keluarga mereka Masing-masing. Ya walau pun Tiara sudah tidak memiliki keluarga kandung tetapi orang-orang yang selama ini ada di sampingnya di saat suka mau pun suka sudah menjadi keluarganya yang wajib untuk ia beri tahu kabar bahagia ini terutama keluarga angkatnya yang benar-benar begitu menyayanginya.
"yuk sayang kita pulang" panggil Lutfi kepada Tiara saat melihat ummi dan abah sudah selesai chek in
hati Tiara langsung berdesir mendengar Lutfi memanggilnya dengan panggilan sayang.
Melihat Tiara yang hanya terdiam saja, Lutfi memberanikan diri memegang tangan Tiara dan mengajaknya masuk ke dalam mobil. Tiara hanya mampu mengikut karena bagaimana pun apa yang di lakukan oleh Lutfi tidak ada salahnya. Hanya saja Tiara yang belum terbiasa ada seorang lelaki yang menggenggam tangannya.
setelah sampai di parkiran, Lutfi membukakan pintu mobil untuk Tiara dan mempersilahkan Tiara masuk.
"Silahkan masuk tuan putriku" ucap Lutfi dengan senyuman yang di buatnya semanis mungkin
__ADS_1
"jangan seperti itulah ustadz, saya jadi tidak enak" Tiara merasa serba salah karena masih belum terbiasa merubah kebiasaannya menganggap Lutfi ustadz yang selama ini di seganinya tiba-tiba berperilaku mesra di hadapannya.