
Cepat... Cepat... Cepat
Arya segera di bawa ke ruang ICU untuk mendapatkan perawatan sesegera mungkin. Tiba-tiba dia di temukan oleh bibinya sedang tergeletak di lantai kamarnya. Tentu saja hal ini membuat panik pak Wijaya, hanya Arya satu-satunya yang dia punya. Ia akan melakukan apa pun untuk kesembuhan putranya.
"Keluarga Pasien atas nama Arya Kusuma? " tanya suster yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan
"Saya ayahnya Sus" Pak Wijaya langsung berdiri
"Dokter ingin berbicara dengan keluarga pasien di ruangannya, silahkan ikut saya Pak" Ucap Suster cantik
"Baik" Mengikuti langkah suster dengan perasaan yang begitu cemas
"Silahkan duduk Pak" Mempersilahkan Pak Wijaya duduk di ruangan dokter Kurniawan
Tidak lama kemudian masuklah seorang dokter yang memakai jas putih dengan wajah yang bersih
"Bapak keluarga pasien Arya Kusuma?"
Tanya dokter Kurniawan
"Iya Dok, bagaimana kondisi anak saya?" Bertanya dengan cemas
"Sebelumnya apakah anak bapak punya keluhan? " Tanya dokter Kurniawan
"Sejauh ini belum ada Dok"
"Biasanya penyakit yang di alami putra bapak memiliki gejala"
"mungkin dia tidak ingin membuat saya khawatir Dok, sebenarnya anak saya sakit apa Dok? " Tanya pak Wijaya
"Putra bapak mengidap kanker otak stadium tiga, jika tidak di tangani segera bisa menyebar dengan cepat" Jelas dokter Kurniawan
"Astaghfirullah, tolong bantu pengobatan yang terbaik Dok."
"Jika bapak setuju dengan pengobatan kita, silahkan bapak tanda tangan dan menuju administrasi" menyerahkan beberapa lembar kertas yang harus di tanda tangani untuk meminta persetujuan keluarga atas pengobatan yang akan di lakukan
"Baik Dok, mohon lakukan yang terbaik Dok"
"Insya Allah, akan kami usahakan. Kami juga mohon dukungan dari keluarganya untuk menguatkannya"
"Ia Dok, Terima Kasih" meninggalkan ruangan dokter Kurniawan menuju ruang administrasi
tanpa menunggu lama, pak Wijaya menyelesaikan administrasinya. Setelah itu, ia mengikuti suster yang mengikuti menuju ruangan dimana Arya berada. Karena sampai saat ini Arya belum sadarkan diri, ia pun di bawa ke ruangan perawatan dengan peralatan lengkap.
*****
__ADS_1
keesokan harinya Arya pun terbangun dan merasakan sakit yang luar biasa di bagian kepalanya. Ia melihat sekelilingnya yang sangat asing baginya, bisa di bilang ia tidak pernah menginjakkan kaki di rumah sakit. Jadi wajar saja ia tidak mengenali ruangan yang saat ini di amati nya.
"alhamdulillah, kamu sudah sadar" ucap pak Wijaya yang tidur di kursi sambil memegangi erat tangan Arya dengan harapan jika Arya tersadar ia pun dapat terbangun
"Arya ada di mana Yah? " tanya Arya masih dengan menahan sakitnya
"kamu ada di rumah sakit"
"Arya kenapa Yah? " tanya Arya lagi
dengan berat hati dan perlahan pak Wijaya menjelaskan apa yang Arya alami. Karena anjuran dokter ia harus diberitahu agar ia lebih siap menerima pengobatan yang akan segera di jalaninya.
"kamu pengidap penyakit kanker Nak"
sambil memandang Arya dengan iba
"kanker otak ya Yah"
"kok kamu tau, apa selama ini kamu merahasiakannya dari ayah" mulai menginterogasi karena merasa ada yang di sembunyikan nya dari ayahnya
"tidak Yah,"
"tetapi kenapa kamu tau kamu mengidap kanker otak"
"karena kebelakang ini Arya merasa sakit sekali di bagian kepala Yah" jelas Arya
"Arya kira hanya sakit kepala biasa"
"ayah akan lakukan apa pun demi kesembuhan kamu, kamu yang kuat ya" sambil mengelus kepala Arya
"maafin Arya ya Yah, sudah buat Ayah khawatir" ucap Arya terlihat lemah
"iya, tidak apa-apa. Sebentar ya, Ayah panggil dokter"
"ia Yah"
pak Wijaya langsung berlari menuju ruangan dokter Kurniawan, tetapi dokter yang di cari tidak ada di ruangan.
"permisi Sus, dokter Kurniawan di mana ya? " tanya pak Wijaya kepada suster yang lewat
"belum datang pak, bisanya sebentar lagi Pak. Ada yang perlu kami bantu Pak? "
"anak saya sudah sadar, saya ingin tahu apa tindakan selanjutnya Sus"
"sambil menunggu dokter Kurniawan, kami akan melihatnya terlebih dahulu Pak"
__ADS_1
"baik Sus"
melangkah menuju ruangan Arya bersama suster dan melihat kondisinya.
"sebelum dokter Kurniawan memeriksa nanti, mohon untuk sudah mengisi perutnya ya Pak" pinta suster
"baik Sus" jawab pak Wijaya
"saya tinggal dulu ya Pak, sebentar lagi dokter Kurniawan akan memeriksa" meninggalkan ruangan
setelah selesai memaksakan diri untuk memasukkan makanan ke dalam mulutnya tentu saja dengan bantuan ayahnya, dokter Kurniawan pun datang. Tanpa menunggu lama, dokter Kurniawan langsung memeriksa kondisi Arya dengan detail.
"kita harus cepat ambil tindakan Pak, ini kanker ganas dan penyebarannya begitu cepat" jelas dokter Kurniawan
"lakukan yang terbaik dok, saya mengikut"
"baiklah, kamu Arya. Apakah sudah siap untuk mengikuti pengobatan ini"
Arya pun mengangguk pasrah karena ia merasa kepalanya semakin sakit.
"ya Allah, kuatkan lah aku" rintihannya Arya
suster yang selalu menjadi asisten dokter Kurniawan pun membawa Arya ke ruang kemoterapi.
*****
seminggu setelah mengikuti pengobatan yang di anjurkan oleh dokter rumah sakit yang telah di setujui oleh pihak keluarga pasien. Kini Arya terlihat kurus dan rambutnya sudah tipis dan hampir botak.
"maafkan Arya ya Yah, sudah menyusahkan Arya selama Ini. Sekarang Arya baru sadar kalau selama ini Arya banyak melakukan kesalahan, maafin Arya Yah yang belum bisa buat ayah tersenyum bahagia" ucap Arya yang memandangi ayahnya tertidur di kursi sambil menggenggam tangannya
"kamu sudah bangun Nak, bagaimana kondisi kamu sekarang. Apakah masih terasa sakit sekali Nak"
"alhamdulillah sudah agak mendingan Yah, ayah istirahat di rumah saja. Kan ada suster yang menjaga Arya, nanti kalau ada apa-apa Arya hubungi ayah"
"nanti setelah dokter Kurniawan memeriksa kamu baru ayah pulang"
"Terima kasih ya Yah, sudah jaga Arya dengan baik. Maaf kalau Arya selama ini selalu menyusahkan ayah"
"terkadang ayah sedih melihat kondisi kamu seperti ini, tetapi terkadang ada rasa haru karena kamu sudah banyak berubah ke arah yang lebih baik"
"Arya menyesal kenapa Arya tidak dari dulu sadarnya ya Yah"
"hidayah itu milik Allah, kapan dan dimana Dia-lah yang menentukan untuk setiap hambanya menerima hidayah dari Nya. Jadi kita harus banyak bersyukur atas segala hal yang telah ia hadirkan dalam hidup kita. Mungkin bagi kita penyakit ini sesuatu yang buruk bagi kita namun Allah berkata lain bahwa dari penyakit ini Allah hadirkan hidayah itu untuk kita. Tentunya karena ada keikhlasan di hati kita untuk menerima takdir yang telah di tetapkan oleh Nya, dan yakinlah bahwa itulah yang terbaik untuk kita" nasehat pak Wijaya untuk dirinya dan Arya
"iya Yah, Arya merasa hidup Arya nyaman ke belakangan ini. Walau pun Arya harus melewati ini semua, Arya ikhlas Yah. semoga dengan penyakit ini Allah hapus kesalahan Arya di masa lalu"
__ADS_1
"aamiin"