PERAWAN CINTA

PERAWAN CINTA
Momen yang tertunda


__ADS_3

"Assalamu'alaikum warohmatulhi wabarakatuh" Ucap Tiara memasuki kediaman Lutfi


"Wa'alaikumsalam warohmatulhi wabarakatuh, silahkan masuk Nak. Wah, ummi kangen banget sama kamu. Maaf ya, jadi repot-repot kesini" Ummi Syarifah sambil memeluk Tiara


"Gak repot kok ummi, lagian gak jauh tempat Tiara ummi. Hanya sedikit menyeberangi jembatan saja" Senyum ramah Tiara selalu mengembang


"Kamu gimana kabarnya, makin cantik aja di sini?" Puji ummi Syarifah


"Alhamdulillah ummi, seperti yang ummi lihat. Tiara selalu sehat" Jawab Tiara


"Alhamdulillah, ummi senang dengarnya. Ayo kita duduk di sini" Menghadap meja makan yang sudah di penuhi dengan beberapa menu yang bagi Tiara sudah tidak asing lagi


"Besok gantian ke tempat Tiara ya Kyai, ummi" Duduk dengan santai


"In Sya Allah, kita usahakan. Kapan lagi bisa kumpul seperti ini" Jawab Kyai Yahya


"Ayo kita mulai saja makannya, ummi sudah lapar ni. Penasaran juga sama makanan ala Turkinya" Memotong pembicaraan yang tiada habisnya


Dengan kehangatan dan pastinya ada rasa canggung karena sudah lama tidak bertemu, apalagi selama ini Kyai Yahya adalah guru yang di segani Tiara.


"Ini ada rendang buatan ummi Nak, yuk di cobain. Jangan malu-malu" Memberikan Tiara mangkuk yang berisi rendang daging pesanan Lutfi kemarin


"Ia ummi, makasih. Wah, sepertinya menu ini yang paling spesial di sini" Sambil mengambil beberapa potong daging rendangnya

__ADS_1


Lutfi yang dari tadi lebih banyak diam karena sampai saat ini belum terlihat cincin yang di berikannya melingkar di jari Tiara.


"Ya Allah, sabarkanlah hati ini" Lirih Lutfi yang tentunya hanya dia yang dengar karena yang lain asik dengan makanan yang ada di hadapannya


Waktu terus bergulir, karena Tiara tidak ingin mengganggu waktu istirahat Kyai Yahya dan ummi Syarifah yang tentunya lelah, Tiara segera pamit pulang.


"Jadi kamu besok gak bisa hadir di wisuda saya Ra? " Tanya Lutfi sekali lagi saat mengantarkan Tiara ke depan jalan


"Maaf ustadz, Tiara sudah ada janji sama seseorang untuk tugas kuliah Tiara. Mungkin belum saatnya ustadz" Jelas Tiara


"Baiklah kalau begitu" Ucap Lutfi yang terlihat sendu


"Jangan lupa besok ajak abah sama ummi makan malam di tempat Tiara ustadz, sekalian ada hal penting yang akan Tiara sampaikan" Senyum Tiara yang melihat wajah Lutfi terlihat kecewa karena dia tidak bisa melihat hari bahagianya besok


"In syaa Allah, saya tidak akan lupa Ra. Siapkan aja sesuatu yang menarik ya" Balas senyum Lutfi


"Assalamu'alaikum" Ucap Lutfi membiarkan Tiara melangkah menjauh darinya


"Wa'alaikumsalam salam warohmatulohi wabarakatuh" Meninggalkan Lutfi yang masih menatapnya


"Hati bersabarlah untuk cinta yang suci ini, semoga Allah hadirkan yang terbaik nantinya" Menundukkan wajahnya dan membalikkan badan melangkah ke tempat abah dan umminya berada.


*****

__ADS_1


Berkutat dengan laptop sudah menjadi kebiasaan Tiara sebagai mahasiswa, menyelesaikan tugas-tugasnya sebaik mungkin dan secepat mungkin kerena ia tidak ingin berlama-lama lagi di negara ini seorang diri. Ia juga sudah rindu dengan tanah airnya, kalau bisa di selesaikan dengan segera kenapa harus menundanya. Turki sudah habis di jelajahinya, kini ia ingin mengelilingi negaranya sendiri untuk bangga pada negaranya yang tidak kalah indah dengan negara lain. Ditemani temaram rembulan yang terlihat dari balik jendela yang belum di tutupnya dan suara merdu dari nyanyian jangkrik menandakan bahwa sudah waktunya untuk mengistirahatkan diri dari hiruk pikuk kesibukan dunia yang tiada habisnya. Tiara pun menuju kamar mandi untuk menyikat giginya dan berwudhu sebelum tenggelam ke dalam mimpi indahnya.


Sedangkan di belahan bumi lain seorang pemuda tampan masih membasahi bibirnya dengan lantunan ayat suci Al-Quran. Karena malam ini ia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya sedikit pun akhirnya ia mengambil air wudu dan mengalunkan ayat-ayat suci yang akan menenangkan hatinya. Ia ingin melabuhkan segala rasanya untuk mencintai sang penciptanya, cinta yang abadi dan membawa kedamaian selalu.


"Ya Robbi, bahagiakanlah dia selalu." Yosi memandang foto Tiara dan dirinya yang di letakkannya di meja dekat tempat tidurnya.


"Wanita yang membuatku semakin dekat dengan-Mu, mungkin Engkau sedang menguji hamba untuk tidak berubah karenanya namun benar-benar karena-Mu. Mengajarkan hamba cinta yang abadi, izinkan hamba untuk tetap seperti ini" Ucap Yosi dengan penuh perasaan. Melihatnya hingga terbawa ke dalam mimpi yang indah, membuat bibirnya tersenyum walau matanya terpejam.


Rembulan terus menerangi malam di temani bintang-bintang yang memberi kehangatan, rasa itu jualah yang di rasakan seorang pemuda sholeh dan tampan yang menghabiskan malamnya dengan Robb-nya sebelum memulai hari bahagianya lagi di pagi ini. Walau lulus yang tertunda namun jika di nikmati dan mengambil setiap hikmah di sebalik kejadian membuat semua terasa indah dan bahagia.


"ummi, gimana penampilan putra tampan ummi ini" Lutfi menunjukkan dirinya di depan umminya setelah rapi dengan baju toganya


"Masya Allah, ummi ternyata punya putra yang begitu gagah ya" puji ummi Syarifah dengan senyuman bahagia


"maaf ya ummi, telah menunda momen bahagia ini. " ucap Lutfi lagi merasa bersalah yang sedikit lama menyelesaikan kuliahnya


"semua sudah ada yang mengatur Nak, jangan merasa bersalah. kamu kan sudah tau itu kan" menguatkan Lutfi yang menunjukkan ekspresi dengan wajah yang sedih mengingat kejadian yang telah di laluinya satu tahun kebelakangan ini.


"makasih ya mi, selalu mengerti putra ummi ini.Lutfi bangga punya ummi" mencium tangan ummi Syarifah


"ummi juga bangga punya kamu Nak" mengelus pundak Lutfi dengan penuh kehangatan


"terus siapa yang bangga dengan abah ya" Tiba-tiba abah Yahya muncul dari kamar dengan tidak kalah gagahnya jika memakai jas yang tidak seperti biasanya

__ADS_1


" Lutfi juga bangga punya abah" membalikkan badan dan mencium punggung tangan abah Yahya


setelah mereka selesai sarapan, mereka pun berangkat ke kampus untuk mengikuti acara wisuda. Mengikuti setiap rentetan acara dengan hikmat dan tanpa terasa hingga sudah di penghujung acara. Bagi Lutfi kenangan manis dan pahit tergambar di benaknya di momen bahagia ini, semua terbingkai indah untuk menjadi sebuah kenangan yang tidak akan pernah ia lupakan. Dari awal pergi dengan niat menjadi lebih baik dan melupakan cintanya namun akhirnya takdir mempertemukan mereka lagi di kampus ini. Cinta yang akhirnya menentukan pilihan untuk mengikuti kata hatinya, membuatnya menjadi sedikit tertunda dengan momen bahagia ini. Keyakinan hatinya akan takdir yang telah terlukis untuknya bersama insan yang telah lama mengisi relung hatinya, sebentar lagi akan terjawab segala penasarannya.


__ADS_2