
Turki dikenal sebagai negara yang kaya budaya karena terletak di dua benua yaitu benua Eropa dan Asia. Baik teradisi sehari-hari, pakaian, sampai kuliner sangat menarik wisatawan yang berkunjung ke sana. Di ibu kota Turki, tepatnya di Istanbul, ada banyak sekali street cafe yang bertebaran di pinggir jalan menawarkan berbagai macam makanan khas dan ikonik yang berasal dari negara ini. Dan bonusnya kita bisa menikmati pemandangan sekitar dan melihat aktifitas orang yang berlalu lalang sambil menyantap makanan yang ada di depan mata.
"Gimana Tiara, enakkan tehnya. Ini teh khas di sini" Lutfi mengajak Tiara ke street cafe yang tidak jauh dari Hagia Sophia
"Lumayan ustadz, agak berbeda rasanya" Tiara mencicipi secangkir teh yang ada di hadapannya
"Jadi gimana ceritanya kamu bisa ada di sini? " Tanya Lutfi penasaran
"Saya ambil beasiswa Universitas Istanbul ustadz" Menjawab rasa penasaran Lutfi
"Kok sama, rencana ambil jurusan apa? " Tanya Lutfi yang berharap juga memiliki persamaan
"Perkembangan peradaban Islam ustadz" Jawab Tiara
"Eem, sepertinya kita berjodoh Tiara." Ucap Lutfi
"Apakah sama juga ustadz? " Tiara balik bertanya
Lutfi hanya menganggukkan kepalanya sambil melihat orang-orang yang berlalu lalang sambil membisikkan sesuatu di hatinya
"Apakah ini yang namanya jodoh ya, di saat aku mencari kepastian. Dia pun hadir dengan memiliki tujuan dan asal yang sama" Bathin Lutfi sambil bibirnya tersenyum
"Tapi kemungkinan ustadz sudah selesai kan? " Tiara menunjukkan ekspresi sedikit sedih karena awalnya ia merasa senang ada orang yang ia kenal di negara ini
"Alhamdulillah, sedang proses penyusunan" Jawab Lutfi dengan senyuman ramahnya
"Alhamdulillah, ngomong-ngomong ustadz tidak pernah pulang selama dua tahun di sini ya"
"Ia, makanya ingin segera selesai dan cepat kembali"
"Semoga Allah memudahkan semuanya ustadz" Menundukkan wajahnya
"Kamu kenapa Tiara, kok terlihat sedih seperti itu"
"Tidak apa-apa ustadz, Tiara sedang bahagia kok" Mengubah ekspresi wajahnya dengan tersenyum
"Kamu masih seperti yang dulu ya Tiara" Melihat senyuman Tiara
"Tidak ustadz, Tiara sudah bertambah" Memutuskan ucapannya
"Bertambah apa" Penasaran Lutfi
"Bertambah umur" Jawab Tiara sedikit tertawa
Saat mereka asik dengan cerita, seorang gadis ternyata dari tadi memperhatikan mereka. Karena rasa cemburunya membuncah, dia pun tidak bisa menahan untuk tidak melangkah mendekati mereka
"Mas, paman meminta untuk ke rumahnya sekarang" Menahan suaranya
__ADS_1
"Bukannya nanti malam Bilqis, siang ini saya lagi ada urusan di kampus" Jelas Lutfi
"Ada urusan atau ada yang lain" Sindir Bilqis tanpa memandang Tiara sedikit pun. Karena dia tau, dengan cantiknya Tiara pasti membuat tertarik Lutfi
"Ada urusan apa pun kan tidak apa-apa" Menegaskan Bilqis
"Ya sudah, maaf mengganggu. Yang penting jangan lupa nanti malam ya mas" Mencoba tersenyum dan meninggalkan mereka dengan perasaan kesal
"Apa kurangnya aku sih, mas Lutfi tidak pernah mengajak aku minum seperti itu. Padahal aku sering mengajaknya, tetapi dia tidak pernah mau" Ucap Bilqis sendiri
"Tunggu" Menghentikan langkahnya sejenak dan membalikkan badannya melihat Lutfi kembali
"Apakah mungkin benar kata mereka, kalau mas Lutfi sudah menikah" Penasarannya timbul
"Ah, tidak mungkin. Kalau mas Lutfi sudah menikah, pasti sudah di sampaikan ya saat paman Syabir menyampaikan maksudnya"
Bilqis bertanya dan menjawab sendiri pertanyaan dirinya yang melintas di pikirannya
*****
"Siapa ustadz? " Tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya
"Teman kuliah, dia dari Jakarta. Maaf tadi tidak sempat mengenalkannya sama kamu" Jelas Lutfi
"Owh, tapi sepertinya dia tidak menyukai saya ustadz" Menyampaikan opininya
"Kedepannya bolehkan Tiara bertanya sama ustadz, apalagi jurusan dan kampus kita sama ustadz"
"Boleh, jangan sungkan. Apalagi kita di negeri orang, bertemu orang yang kita kenal dari negara kita menjadikan kita saling bersaudara" Jelas Lutfi lagi
"Tadi katanya ustadz ada urusan di kampus, apakah Tiara tidak mengganggu ustadz? " Tanya Tiara yang merasa tidak enak
"Tidak, tidak sama sekali." Jawab Lutfi..
"Saya tadi sedang mencari buku referensi tentang peradaban islam di negara ini. Karena tempat ini adalah salah satu bukti sejarahnya sehingga saya kemari".Menjelaskan agar Tiara mengerti
" Entah mengapa Tiara melangkah aja kemari tadi ustadz, Tiara tidak sabar untuk menjelajahi setiap sudut kota ini yang menjadi sejarah peradaban islam" Jelas Tiara lagi.
"Mungkin ini adalah jawaban dari doa ku" Lirih Lutfi yang akan meminum teh nya
"Apa ustadz, Tiara tidak dengar" Mendengar Lutfi berkata namun begitu lirihnya
"Tidak apa-apa, kamu mau pesan apalagi Tiara? " Tanya Lutfi
"Tiara tidak tau mau pesan apa ustadz, takut nanti gak suka. Ustadz aja kalau mau pesan silahkan" Kembali menawarkan
"Kamu tadi sudah sarapan belum? " Tanya Lutfi lebih jelas
__ADS_1
"Udah tadi sebelum berangkat ke kampus" Jawab Tiara
"Sarapan apa? "
"Roti ustadz"
"Jadi belum ada makan nasi"
"Tiara tidak terbiasa sarapan nasi, siang baru makan nasi ustadz"
"Oh begitu, bagaimana kalau nanti kita makan nasi. Ada tempat yang harus kamu coba di sini"
"Boleh ustadz, Terima kasih ustadz. Maaf jadi ngerepotin"
"Tidak, justru sebaliknya. " Tersenyum bahagia
Tiara mengerti maksud Lutfi namun dia akan tetap menjaga sikap agar tidak gede rasa
"Kalau begitu kita keliling Hagia Sophia dulu gimana ustadz" Ajak Tiara
"Kamu memang benar-benar pecinta sejarah Tiara" Puji Lutfi
"Sangat ustadz, bahkan Tiara ingin menjelajah dunia peradaban islam yang pernah menjadi tempat bersejarahnya umat islam di dunia" Jelas Tiara
"Sebab itu kamu hari pertama di sini sudah ke sini"
"Ustadz mengerti saja, soalnya pak Ahmad lagu mengurus segala administrasi di kampus. Dari pada saya hanya menunggu, lebih baik saya keliling. Lagi pula tempat ini tidak jauh dari apartemen yang saya tinggali ustadz" Jelas Tiara lagi
"Ada banyak cara Allah untuk mempertemukan hambanya dan semua yang terjadi ini bukanlah sebuah kebetulan. Kamu percaya itu Tiara" Menatap wajah Tiara
"Kalau ustadz Lutfi sudah berkata apa perlu di ragukan lagi" Memuji Lutfi
"Ya sudah, ayo kita memulainya" Semangat Lutfi
"Kemana ustadz? " Tanya Tiara yang tiba-tiba melihat Lutfi berdiri
"Tapi katanya mau menjadi penjelajah peradaban" Jawab Lutfi
"Oh iya" Tersenyum bahagia
"Ayo kita mulai dari Hagia Sophia" Menunggu Tiara berdiri dan Lutfi membayar minum mereka
"Ini ustadz" Menyerahkan selembar uang
"Sudah tidak perlu, anggap saja salam pertemuan" Ucap Lutfi
"Makasih ustadz" Sambil mengikuti langkah Lutfi
__ADS_1
Mereka pun menjelajahi Hagia Sophia yang penuh dengan lika liku sejarah yang sangat menakjubkan. Ustadz Lutfi sedikit menjelaskan sebatas pengetahuannya tentang Hagia Sophia kepada Tiara sambil berkeliling. sebagai umat islam mereka juga bangga karena saat ini Hagia Sophia menjadi masjid kembali.