
Lutfi memantapkan langkah menuju rumah pamannya Bilqis untuk segera memberikan keputusan. Ia yaqin dengan keputusannya bahwa Allah telah memberikan jawaban doa-doa nya.
"Assalamu'alaikum" Ucap Lutfi ketika tiba di depan rumah paman Bilqis
"Wa'alaikum salam, silahkan masuk mas" Jawab Bilqis bergegas membuka pintu karena dia dari tadi menunggu kedatangan Lutfi
Lutfi di sambut baik oleh keluarga Bilqis, pamannya cukup ramah. Lutfi langsung di ajak ke meja makan, karena mereka dari tadi tinggal menunggu Lutfi. Sedangkan Lutfi sengaja datangnya selepas isya karena menghindari jamuan makannya.
"Ini mas" Bilqis sudah mengambilkan nasi untuk Lutfi
"Terima Kasih" Lutfi merasa tidak enak dengan suasana ini
"Mas, mau lauknya apa? " Tanya Bilqis yang melihat Lutfi hanya diam saja
"Ia, biar saya ambil sendiri" Jawab Lutfi
Bilqis sedikit kecewa dengan sikap Lutfi yang masih saja dingin terhadapnya walaupun dia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membuat Lutfi terkesan. Lain halnya dengan wanita yang di temuinya tadi pagi, terlihat Lutfi selalu tersenyum bersamanya
Paman dan bibi Bilqis hanya melihat tingkah ponakannya itu dengan tersenyum karena begitu jelas Bilqis menyukai Lutfi yang begitu dingin.
Mereka makan di temani sepi, hanya suara sendok yang terdengar beradu dengan piring. Setelah beberapa lama berselang mereka pun menyudahi makannya dan berkumpul di ruang tamu.
Karena paman Syabir juga dosen di kampus mereka, sehingga mereka banyak bercerita tentang kuliah. Hal ini membuat Lutfi merasa aman untuk beberapa saat.
"Bagaimana keputusan kamu tentang niat dan hajat baik dari putri kami Lutfi? " Tiba tiba-tiba paman Syabir bertanya saat 15 tahun. Sehingga keputusan untuk kuliah di Turki adalah permintaan dari paman Bilqis. Sehingga ia sangat antusias dan ingin putrinya selalu bahagia, ia senang melihat Bilqis yang selalu tersenyum. Hal ini dilihat ketika dia bersama Lutfi
"Begini pak, setelah saya istikharah. Hati saya belum memilih Bilqis untuk menjadi pasangan saya pak, maaf" Lutfi menundukkan pandangannya kebawah merasa tidak enak
"Kenapa Lutfi? " Tanya paman Syabir
"Ini masalah hati Pak, sulit untuk di jelaskan." Jawab Lutfi
"Apakah karena wanita itu mas" Bilqis tidak bisa menahan perasaannya yang kecewa
"Saya tidak ingin menyalahkan siapa pun, ini tentang hati saya. Saya mohon mengertilah" Ucap Lutfi dengan hati-hati
Paman Syabir entah mengapa merasa sedih melihat putrinya terlihat begitu terpukul. Ia memutar otak agar Lutfi tetap bersamanya bagaimana pun caranya.
"Baiklah jika itu keputusan kamu, kami hargai. Tapi ada satu hal yang harus saya sampaikan ke kamu"
__ADS_1
"Apa itu pak? " Tanya Lutfi
"Jika kamu tidak bisa menerima Bilqis, maka saya juga tidak bisa memberimu nilai. Dan kamu harus mengulang mata kuliah saya tahun depan"
"Kenapa seperti itu pak" Lutfi merasa tidak terima. Karena apa kaitannya ini semua dengan nilainya.
"Jika tidak ada lagi, kami mau istirahat" Ucap paman Syabir.
Tanpa memikirkan perasaan Lutfi, paman Syabir meninggalkan ruang tamu dan masuk ke dalam kamar. Hal tersebut tentu saja di ikuti oleh bibi Bilqis dan Bilqis hanya menundukkan pandangannya menatap lantai yang entah mengapa hanya membisu saja. Tanpa bertahan lama, Lutfi pun meninggalkan rumah dosennya itu.
"Ummi, maaf kan anak mu yang mungkin belum bisa kembali dengan cepat" Ucap Lutfi lirih dan pilu
"Ya Allah, hamba yakin setelah kesulitan akan ada kemudahan" Memantapkan langkah kakinya menuju apartemennya
*****
"Dik kamu lagi ngapain? " Yosi Vc dengan Tiara
"Tiara lagi buat agenda yang akan mengisi hari-hari Tiara di sini" Menulis tempat-tempat sejarah di Turki yang di dapatnya dari browsing
"Dik, kamu harus fokus dong kuliahnya biar cepat selesai" Pinta Yosi
"Kali ini Tiara ingin menikmati kuliah ini dengan santai Kak, Kuliah sambil menyaksikan peradaban islam" Ucap Tiara dengan semangat
"Kenapa gak bisa Kak"
"Nanti kalau kamu santai, kapan kamu siapnya"
"Kan Tiara ambil jurusan Sejarah Peradaban Islam, jadi sesuai kan. Tiara mempelajari sambil menikmati apa yang akan Tiara kunjungi"
"Kamu ya Tiara"
"Ada banyak cara membuat hidup kita lebih bahagia Kak"
"Ia, kamu bahagia. Kakak di sini selalu khawatir"
"Kenapa Kakak harus khawatir"
"Kamu sendiri di negeri orang dik"
__ADS_1
"Tiara gak pernah sendiri Kak"
"Jadi kamu sama siapa? Ayo kasih tau kakak"
"Tiara selalu dalam penjagaan Allah, mengirimkan malaikatnya selalu mendampingi Tiara di sisi kanan dan kiri Tiara. Jadi Kakak gak perlu khawatir ya"
"Baiklah, kakak coba"
"Doakan Tiara selalu Kak, insya Allah. Jangan pernah meragukan kekuatan doa, jadikan doa sebagai perisai pelindung untuk Tiara Kak"
Yosi di seberang sana hanya mengangguk dan menatap Tiara dengan bangga. Tiara tidak hanya membuat hatinya di penuhi dengan rasa cinta kepadanya saja namun juga membuka rasa cinta kepada sang pemilik cinta yang abadi.
"Makasih ya dik"
"Untuk apa Kak"
"Kamu mengajarkan Kakak banyak hal tentang hidup ini. Membuat hidup Kakak lebih berarti dari pada hanya sekedar hidup hanya menjalani seperti tanpa tujuan selama ini."
"Sama-sama Kak, Tiara juga bersyukur kepada Allah telah mengirimkan orang-orang yang begitu peduli dan menyayangi Tiara" Senyum hari
"Kamu pantas mendapatkannya dik"
"Makasih Kak"
"Makasih kembali"
"Besok apa agenda kamu dik? "
"Alhamdulillah besok sudah kuliah umum Kak, Tiara harus banyak belajar bahasa Turki disini. Jika tidak sulit untuk berkomunikasi Kak"
"Ya sudah, belajar sana. Kakak sudah cukup mengganggunya, Kakak yakin kamu satu malam ini pasti bisa menguasai beberapa kosa kata yang sering di gunakan sehari-hari di sini dik"
"Baiklah Kak, akan Tiara coba"
"Selamat berpetualang adik Kakak yang manis, assalamu'alaikum"
"Wa'alaikum salam warohmatulohi wabarokatuh" Menutup panggilannya
Yosi merasa lebih tenang setelah melihat Tiara di sana. kata-kata nya membuat hatinya lebih yakin bahwa Allah itu adalah sebaik-baiknya pelindung. semakin dia mengenal gadis itu, semakin di terjebak pada rasa yang begitu dalam. namun kini dia mampu menata perasaanya bahwa segalanya sudah di atur oleh sutradara yang begitu luar biasa dalam memberikan kejutan-kejutan di setiap langkah hidup kita.
__ADS_1
"kakak hanya ingin kamu bahagia dik, bersama siapa pun itu nantinya." ucap Yosi yang masih memikirkan Tiara dan semakin mengaguminya.
sedangkan yang di pikirkan sedang sibuk menghafal beberapa kosa kata percakapan yang biasa di lakukan oleh orang Turki. Karena di karuniai otak yang cerdas, tidak butuh waktu lama untuk Tiara menghafal puluhan kosa kata. Dengan antusias dan semangat yang menggebu ia begitu mudah untuk menguasainya, karena belajar dengan suasana hati yang senang sangat memudahkan untuk otak menangkap pembelajaran itu masuk terjebak di memori ingatan kita.