
"kok, beberapa hari semenjak kita masuk. Arya tidak kelihatan ya Ra" ucap Wulan
"iya, dia sakit" jawab Tiara
"kok kamu tau, hayo ngaku"
"saat absen mata kuliah kan keterangan nya dia sakit"
"apa ia, aku kok gak perhatian ya. Ternyata kamu Ra, dalam diam memperhatikan ya"
"gimana aku gak perhatikan, yang mengisi absennya aku Wulan. Gak mungkin kan aku ngisi absennya sambil merem"
"iya juga sih, kita gak jenguk Ra"
"nanti rencananya mau di diskusikan"
"oh, begitu. Kira-kira Arya sakit apa ya, ternyata dia bisa sakit juga"
"kamu itu kalau ngomong ada aja Wulan, yang namanya manusia ya akan merasakan sakit lah. emangnya seperti Fir'aun yang tidak pernah merasakan sakit seumur hidupnya"
"apa ia Ra, kok aku gak pernah tau ya"
"makanya rajin membaca sejarah Islam Wulan, agar kita tau bagaimana kehidupan orang-orang sebelum kita"
"baik bu guru, perintah akan saya laksanakan"
"maaf, perintah di cancel"
"yah, kok gitu"
"ayo ke kelas, sebentar lagi kita masuk"
"baiklah" melangkahkan kaki menuju kelas mereka
*****
"assalamu'alaikum warohmatulohi wabarokatuh" ucap Riko selaku wakil Kosma
"wa'alaikum salam warohmatulohi wabarokatuh"
"baiklah teman-teman, di sini saya hanya ingin mendiskusikan rencana kita yang ingin mengunjungi ketua kita yang di kabarkan sedang di rawat di rumah sakit Thamrin. "
"sakit apa Arya? " tanya Leli yang ternyata selama ini mengagumi Arya
"saya juga belum tau, untuk yang pastinya kita jenguk nanti"
"kok nanti, sekarang lah"
"kita diskusikan sekarang setelah itu nanti kita besuk, bukankah begitu teman-teman? " tanya Riko kepada yang lainnya
"ia" jawab mereka
"ya sudah. Nisa, apakah uang kas masih ada"
"ada Riko" jawab Nisa
"kalau begitu kita tidak perlu mengumpulkan iuran lagi, tinggal siapa saja yang mau ikut"
__ADS_1
"kan gak harus semuanya yang ikut kan Rik"
"iya tidak, tetapi saya minta sekertaris dan bendahara serta seksi sosial wajib ikut ya"
"yang lain? "
"terserah, boleh ikut dan boleh tidak. karena tidak memungkinkan juga untuk ikut semua.
jadi, sampai disini ada yang mau di tanyakan lagi? "
"tidak" jawab mereka
"baiklah kalau begitu yang berniat untuk ikut kita kumpul di depan kampus. Agak cepat geraknya ya, ini sudah sore. sekian dari saya, assalamu'alaikum warohmatulohi wabarokatuh"
"wa'alaikum salam warohmatulohi wabarokatuh" mereka langsung membubarkan diri
*****
"assalamu'alaikum Buk, ruangan Arya Kusuma dimana ya? " tanya Tiara
"sebentar ya, saya cek dulu.
Arya Wijaya, ruang VVIP lantai dua nomor 071"
"Terima kasih Buk"
mereka pun menaiki lip menuju lantai dua dan mencari ruangan Arya
"assalamu'alaikum" Riko membuka ruangan 071
"wa'alaikum salam" jawab pak Wijaya
"silahkan" mempersilahkan mereka masuk ruangan
"ya Allah, sakit apa sebenarnya Arya pak? " tanya Riko yang tidak percaya melihat Arya yang hampir tidak di kenali lagi, dengan tubuh yang kurus dan kepalanya di tutupi serta matanya yang begitu cekung
"kata dokter Kanker otak, mohon bantuannya ya. Semoga Arya bisa melalui semua ini dengan ikhlas"
"insya Allah Pak, kami akan selalu mendoakannya"
Mereka lebih banyak terdiam dan sedih melihat kondisi Arya saat ini. Arya yang dulunya tampan dan gagah serta terlihat berwibawa kini terlihat begitu lemah. Begitulah kehidupan, seperti roda yang terus berputar. posisi kita terus saja berubah, menjadi rahasia apa yang akan terjadi di masa depan kita. Selagi ada waktu, lakukan yang terbaik. Agar kita tidak menyesal nantinya
setelah kurang lebih satu jam telah berlalu, akhirnya mereka pamit undur diri
"kami permisi dulu ya Pak, semoga Arya lekas sembuh"
"Terima kasih sudah melihat Arya" balas pak Wijaya
"sama-sama Pak"
mereka pun undur diri dari ruangan Arya menuju parkiran rumah sakit, mereka yang ikut menjenguk Arya lebih banyak diam tanpa suara karena punya pikiran dan bayangan sendiri-sendiri tentang kondisi yang di alami Arya saat ini.
"kita berpisah dari sini ya, pada tau jalan pulang kan? " tanya Riko kepada anggotanya
"tau" jawab mereka sebagian
"ya sudah, Hati-hati semuanya" ucap Riko memajukan kendaraannya
__ADS_1
*****
"bagaimana perkembangan anak saya dok" tanya pak Wijaya sangat cemas karena kondisi Arya terlihat tidak semakin baik bahkan saat ini tidak ada lagi sehelai rambut pun di kepalanya
"kami sudah mencoba semaksimal mungkin pak, tapi kanker yang di derita putra bapak cukup ganas. Bahkan saat ini sudah mencapai stadium akhir. kita hanya bisa berusaha namun yang Maha Kuasa jugalah yang memberikan kesembuhannya" jelas dokter Kurniawan
jelas hal ini membuat pak Wijaya terduduk lemas
"ya Allah, kuatkan lah kami melalui ujian Mu ini" lirih pak Wijaya
ia melangkahkan kakinya yang terasa berat menuju di mana ruangan putra nya di rawat. setelah sampai dia memandangi wajah putranya dengan sendu, menguatkan diri untuk tidak menyalahi takdir yang hadir dalam hidupnya.
"ayah kenapa? " tanya Arya yang melihat wajah ayahnya begitu kusut
"gak apa-apa Nak" jawab Pak Wijaya
"apa kata dokter Yah, Arya gak bisa sembuh ya" dengan lemah
"yang memiliki kesembuhan itu hanya Allah Nak, kita harus percaya itu" ucap Pak Wijaya menguatkan
"semua tubuh Arya terasa kebas dan susah di gerakkan Yah"
"kamu yang sabar ya Nak" tanpa terasa mata pak Wijaya memerah menahan sedih
"Yah, Arya bisa minta sesuatu yang penting bagi hidup Arya"
"apa itu Nak, katakan saja. Ayah akan berusaha mewujudkannya"
"tapi, sedikit sulit Yah"
"ia, ayah akan coba"
"lamar kan Tiara untuk Arya Yah, Arya ingin menyempurnakan separuh iman Arya sebelum kembali kepada Nya"
"kamu harus kuat Nak, walau pun itu sepertinya sulit tetapi ayah akan berusaha"
"Terima Kasih Yah"
Ayah nya tau benar bagaimana perasaannya anaknya saat ini, tetapi apakah dia juga harus mengorbankan masa depan Tiara untuk mewujudkan keinginan putranya.
"ya Allah, bantulah hamba Mu yang lemah ini"
doa pak Wijaya selalu.
setelah seminggu meminta petunjuk dengan sholat hajat dan sowan ke pada tuan guru yang ada. Akhirnya seperti saran para gurunya, semua dapat di lakukan dengan sama-sama saling menerima dengan ikhlas. Tanpa menunda-nunda waktu lagi pak Wijaya mengunjungi rumah Tiara dan menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya tentu saja hal ini sangat mengejutkan dan membuat Tiara bingung
"boleh kah Tiara, memikirkannya beberapa hari terlebih dahulu Pak. Jika nanti Tiara sudah memiliki jawaban, Tiara akan datang ke rumah sakit." jawab Tiara dengan perasaan galau
"baiklah, kalau begitu Nak. Walaupun hal ini sulit bagi kita semua, bapak tidak memaksa kamu. Bapak hanya berusaha jika hasilnya apa pun itu bapak kembalikan kepada Allah yang memiliki kuasa atas segala sesuatu,"
"baik Pak, Tiara minta tiga hari untuk memikirkannya"
"kalau begitu, bapak permisi ya. Kasian Artinya sendiri"
"iya Pak"
"assalamu'alaikum"
__ADS_1
"wa'alaikum salam warohmatulohi wabarokatuh"