PERAWAN CINTA

PERAWAN CINTA
Pesantren Dadakan


__ADS_3

Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan, mengikhlaskan semuanya.



Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus.



Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawa pergi entah kemana,,,,


"Assalamu'alaikum mas, melamun aja. Kenapa? " Tanya ummi Syarifah yang tiba-tiba datang menghampiri Lutfi yang sedang bertafakur di halaman pesantren yang hijau nan rimbun


"Waalaikum salam mi, ummi ini buat Lutfi terkejut aja"


“ummi biasa aja datangnya gak kejutan kamu, kamunya aja yang serius "


"Lutfi lagi nikmati suasana yang Lutfi kangenin mi, rasanya sudah lama kali Lutfi pergi. Padahal cuma tiga bulan ya mi"


"Ya tiga bulan itu lama lo mas, apalagi ninggalin sesuatu yang kita suka. Semakin terasa lama, "


"Benar mi, oh iya mi. Kabar Tiara gimana, apa ada yang berubah darinya mi"


"Alhamdulillah, dia sehat. Masih sering ikut pengajian abahmu, kemarin aja saat ujian akhir saat kamu pergi itu dia izin tidak hadir"


"Dia ada gak mi, nanyain Lutfi"


"Hmmm, ada... Ada. Iya ada"


"Kok ummi gak ngasih tau sih, "


"Emang penting ya"


"Ih, ummi. Kan ummi tau gimana perasaan Lutfi"


"Tapi ummi ingin mas disana fokus tugasnya, jadi biar cepet selesai. Lagian Tiara hanya nanya dimana kamu kok gak kelihatan"


"Mungkin bagi ummi itu gak berarti apa-apa, tapi bagi Lutfi itu berarti banget mi. Berarti Tiara perhatian sama Lutfi"


"Ih, masnya gede rasa"


"Ummi tau gak, disana kemarin. Lutfi di ta'arufin sama anak pak kades mi"


"Terus gimana "


"Sebelum pak kades nyampein niatnya ada temen Lutfi yang juga ingin ta'arufin anaknya pak kades. Jadi ya Lutfi kasih aja ke teman Lutfi"


"Emangnya masnya gak mau jadi mantu pak kades"


"Enggak mi, hati Lutfi susah berpaling mi, bahkan kalau menikah dengan putri pak kades, di suruh gantikan posisi ayahnya"


"Ternyata masnya serius sama Tiara ya"


"Gak tau kenapa hati Lutfi manteb banget sama Tiara mi"


"Ya udah di istikharah in, biar tambah mantab"


"Ngomong-ngomong ummi kenapa kemari"


"Astaghfirullah, ummi lupa. Tadi abah diminta manggilin kamu, kok malah asik ngobrol"


"Memangnya kenapa abah manggil mi"

__ADS_1


"Ada hal penting yang mau di bicarakan katanya, ada tamu ayah juga yang ingin ketemu kamu"


"Siapa mi"


"Mari kita kesana aja dulu, udah kelamaan ini ummi manggilnya"


"Baiklah mi"


Begitulah Lutfi bersama umminya, terlihat manja. Seperti kata orang, anak bungsu itu memang manja. Lutfi memiliki tiga bersaudara, mas dan kakaknya masih di sibukkan menyelesaikan studinya di luar negeri dan kakaknya di luar kota.walaupun mereka sudah berkeluarga, dan terus melanjutkan setudynya. Kedua kakaknya dari kecil sudah sering berpisah karena mengenyam pendidikan di pesantren lain. Namun beda halnya dengan Lutfi yang tidak pernah berpisah dari kecil, umminya yang meminta untuk Lutfi belajar di pondok abahnya aja.


"Apa bah, perjodohan. "


"Iya, abah dan kyai Mustofa dari dulu ingin sekali berbesanan. Tadi mereka datang, kamunya lama sekali. Berhubung mereka tidak bisa lama, jadi nitip ini aja ke abah" Sambil menyerahkan selembar foto


"Apa ini Bah? "


"Itu foto putri Kyai Mustofa, cantik, pintar, dan in syaa Allah sholehah. Namanya Khairunnisa"


"Maaf sebelumnya nya bah, bukan maksud melawan abah. Tapi Lutfi sudah mantap dengan seorang wanita"


"Siapa? "


"Nanti Luthfi kasih tau ya bah, kata ummi selesaikan kuliah terlebih dahulu"


"Baiklah kalau begitu, nanti biar abah jelasin ke kyai Mustofa"


"Terima kasih bah, atas pengertian nya" Sambil mencium punggung tangan abahnya


para santri sebagian berpamitan untuk merayakan hari idul fitri bersama keluarga mereka yang hanya tinggal beberapa hari lagi. namun ada juga santri yang tidak pulang karena berbagai alasan.


*****


Allahu Akbar,,, Allahuakbar,,, Allahuakbar


Allahuakbar walillah ilham


kumandang suara takbir menggema di seluruh penjuru dunia


mengagungkan kebesaran dan keagungan sang Pencipta


rasa sedih dan haru menjadi satu


sedih karena telah berlalunya bulan yang mulia


dan terharu bahagia akhirnya sampai di hari yang fitri


pesantren dadakan ini tidak pernah sepi walaupun sudah banyak santrinya yang pulang namun masih terlihat banyak juga yang tetap berada di pondok.


Kyai Yahya termasuk Kyai sepuh di kota ini, sehingga banyak tamu yang berkunjung dan bersilaturahmi. Tidak lupa pula Kyai Mustofa beserta keluarganya hadir dan bersilaturahmi.


"assalamu'alaikum warohmatulohi wabarokatuh"ucap Kyai Mustofa sambil memeluk Kyai Yahya


" waalaikum salam warohmatulohi wabarokatuh, silahkan duduk" sambil mengulurkan tangan kanannya


"waaah, ini Lutfi ya. ternyata sudah besar, kemarin tidak sempat melihat. saya tidak bisa lama" sambil memandang Lutfi yang duduk di samping abahnya


"iya Kyai" sambil mencium punggung tangan Kyai Mustofa


"ini, Nisa. kamu masih ingat gak, dulu kalian sering ngaji bareng saat kita masih tinggal di kampung bersama" mengarahkan pandangannya ke arah Nisa


"oh, ya ingat Kyai. Dia kan sering nangis kalau saya kasih ulat, " sambil tersenyum mengingat kenangan masa kecil yang ternyata ia suka usil

__ADS_1


"jadi kamu sudah semester berapa sekarang Lutfi? " tanya Kyai Mustofa


"alhamdulillah sudah semester tujuh Kyai"


"tidak terasa ya, sudah mau selesai aja. "


"iya Kyai, mohon doanya semoga cepet selesai"


"aamiin, rencana mau kemana Lutfi? " bertanya lagi, yang lain hanya mendengarkan


"belum tau Kyai, masih fokus sama penyusunan skripsi"


"sudah ada calon belum? " bertanya to the point


"alhamdulillah, sudah Kyai. " menjawab mantap tanpa ragu karena ia tau, jika tidak di jawab maka perjodohan akan terjadi. walau pun saat ini ia tidak tau pasti bagaimana hubungannya akan di mulai bersama Tiara yang masih ada dalam bait doa-doa nya, namun ia telah melakukan sholat istikharah dan semakin mantap hatinya untuk Tiara. ia yaqin bahwa jodoh, rezeki dan maut sudah di tentukan oleh Allah dan ia yaqin bahwa jodohnya nanti bersama Tiara membangun mahligai rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan marohmah. walaupun saat ini perasaan nya masih ia titipkan di dalam bait doa-doa nya dan belum ia sampaikan kepada bidadari pujaan hatinya namun ia yaqin bahwa Allah punya rencana indah nantinya mempertemukan mereka. entah mengapa ia begitu yakinnya.


"siapa? " tanya Kyai Mustofa penasaran


"in syaa Allah, saya kabari jika sudah pasti Kyai. saat ini masih proses Kyai" dengan tersenyum mengharapkan pembicaraan tidak berkelanjutan.


dan benar saja tidak lama kemudian handphonenya berdering


"maaf Kyai, saya permisi. mau angkat telepon"


"iya, silahkan Nak" ucap Kyai Mustofa


"assalamu'alaikum warohmatulohi wabarokatuh,"


ucap Lutfi


"wa'alaikumsalam salam warohmatulohi wabarokatuh, Fi aku bisa minta tolong gak" jawab Anwar di sebrang sana


"toqobballallahuminkum minna waminkum taqobbal ya karim" ucap Lutfi


"eh iya, mohon maaf lahir dan bathin ya Fi"


"ada apa sih War, kayak ada sesuatu yang besar aja bakal terjadi sampe lupa kalau ini bulan yang fitri"


"iya, maaf Fi. soalnya aku bahagia banget, keluarga pak kades mengiyakan keluargaku datang membawa rombongan Fi"


"kapan? "


"seminggu setelah lebaran Fi, kamu ikut ya? "


"cepat War, enggaklah.Aku mau fokus nyiapin proposal biar cepet kelar, emang situ aja yang mau menikah"


"ayolah Fi, atau jangan-jangan kamu suka ya sama Bunga Fi"


"enggak lah War, kalau aku suka sama dia mana mungkin aku kasih ke kamu"


"mungkin saja, kamu kan teman terbaik. mungkin saja kamu korbanin perasaan kamu demi temen kamu Fi"


"tidak lo War"


"kalau tidak buktikan kalau begitu"


"dengan cara? "


"kamu ikut"


"ok, baiklah. kalau itu membuat kamu bahagia dan percaya sama aku War"

__ADS_1


"siap, di tunggu. assalamu'alaikum"


"waalaikum salam warohmatulohi wabarokatuh" sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum sendiri


__ADS_2