PERAWAN CINTA

PERAWAN CINTA
jadikan aku sejarahmu


__ADS_3

Hembusan angin pantai selat Bosphorus menemani langkah perjalanan kami ke Topkapi Palace yang terletak di bibir pantai selat Bosphorus. Istana Topkapi Palace ini tidak jauh dari Hagia Shopia yang termasuk salah satu bukti sejarah Islam yang berada di Turki.


"Ustadz sudah pernah kemari?" Tanya Tiara sambil terus berjalan mengikuti Lutfi


"Tentu saja, karena jurusan kita sejarah peradaban islam. Maka peninggalan-peninggalan sejarah Islam yang ada di sini sudah menjadi santapan mahasiswanya" Jelas Ustadz Lutfi


"Bisalah sambil di ceritakan sejarahnya ustadz" Pinta Tiara


"Dengan senang hati, salah satu tujuan saya mengambil jurusan inikan ingin berbagi dan menyampaikan tentang sejarah peradaban islam di dunia"


"Jadi ada rencana mau keliling dunia ustaz"


"Mimpi sih ada, tapi semua kita kembalikan lagi dengan penentu segala rencana yang terbaik"


"Semoga di nyatakan mimpinya ustadz"


"Aamiin"


Mereka memasuki kompleks istana yang di dalamnya terdapat bangunan-bangunan tempat raja dan keluarganya.


"Kamu sudah siap Tiara" Melihat wajah Tiara yang antusias melihat sekeliling


"Dengan senang hati ustadz" Tersenyum


"Kamu bakal terharu melihat apa yang ada di dalam Tiara, banyak koleksi peninggalan para nabi " Sambil terus melangkah memasuki ruangan istana


"Ia ustadz," Sangat semangat menjawabnya


"Kamu tau ini apa Tiara? " Tanya ustadz Lutfi saat mereka berkeliling ruangan istana


"Pedang ustadz"


"Kamu tau ini pedangnya siapa? "


"Ini pedangnya para sahabat nabi, kamu baca penjelasannya" Menunjuk beberapa pedang.


"Dan ini tongkatnya nabi Musa ustadz? " Sambil takjub dan terharu. Tongkat itu masih terjaga meskipun sudah ratusan tahun.


Ustadz Lutfi hanya menganggukkan kepala sambil terus berkeliling


"Kemari lah Tiara" Mengajak ke sebuah ruangan khusus


"Ngapain ke situ ustadz,"


"Emangnya kita ke sini mau ngapain"


Tiara hanya mengikut karena tempat yang di tuju sebuah ruangan khusus


"Ini adalah pedang Rosulullah Sallallahu'alaihi Wasallam, potongan janggut dan rambut beliau" Jelas ustadz Lutfi yang masih mengaguminya walau pun sudah pernah berkunjung ke tempat ini untuk ke sekian kalinya


"Masya Allah" Ucap Tiara tidak kalah takjubnya


"Aku semakin merindukan mu wahai kekasih Allah" Ucap Tiara lirih


"Kalau yang ini ustadz? " Tanya Tiara menunjuk sebuah pakaian


"Coba tebak"


"Sepertinya pakaian putri Rosulullah ustadz"


"Itu tau"


"Sepertinya sudah sering melihat di media sosial" Masih dengan terus melihat-lihat yang ada di ruangan khusus


"Terima kasih ya ustadz" Masih dengan perasaan haru


"Untuk? " Tanya

__ADS_1


"Untuk semua ini"


"Ini belum seberapa Tiara, masih banyak tempat yang akan membuat kita semakin mengagumi agama kita yang mulia ini dan kita akan semakin bersyukur bahwa kita termasuk bagian dari agama yang mulia ini" Jelas Lutfi


Mereka terus berkeliling hingga suara azan pun menghentikan langkah mereka


"Sudah asar, kita sholat di masjid Biru yuk. Salah satu peninggalan sejarah juga Tiara" Ajak ustadz Lutfi


"Ia ustadz" Mengikuti langkah Tiara di belakang Lutfi, Tiara tidak berada berjalan menyeimbangi langkah Lutfi. Ia hanya berjalan di belakang mengikuti langkah Lutfi hingga sampai di Masjid Biru. Mereka bergegas untuk mengambil air wudhu, dengan perasaan hari Tiara membasuh wajahnya dengan segarnya air di masjid ini. Ia merasa hatinya tenang karena di penuhi rasa syukur karena Allah memberinya kesempatan untuk menikmati semua ini. Setiap ruku' dan sujud nya membuat kerinduan kepada sang penciptanya.


"Di mana pun ku langkahkan kaki ini, aku merasa tidak sendiri. Engkau selalu menemani setiap detik waktu hidupku kerena Engkau lah sang penggenggam waktu" Tiara tafakur melihat keindahan masjid Biru dengan duduk mengarah ke masjid seorang diri


"Masjid Biru ini menjadi saksi bisu sejarah kejayaan kekaisaran Ottoman, keindahan dan keunikan masjid Biru ini di akui oleh UNESCO sehingga di nobatkan sebagai situs warisan dunia. Arsiteknya butuh waktu tujuh tahun dalam membangun masjid terbesar di Turki ini dengan gaya Byzantium klasik. Masjid ini di sebut juga masjid Sultan ahmed dan makan Sultan Ahmed pun ada di belakang masjid ini" Jelas Lutfi yang tiba-tiba muncul dari belakang Tiara saat Tiara asik memandangi kemegahan masjid biru ini


"Di juluki masjid biru karena banyak interiornya yang berwarna biru ya ustadz" Tebak Tiara


"Ia, seperti yang kamu lihat sendiri"


Tiara mengangguk-anggukkan kepalanya dengan masih mengagumi ke indahan masjid ini


"Sebenarnya dari semalam Tiara ingin ke sini, tapi ketemu ustadz. Tiara penasaran karena hampir mirip dengan hagia Sophia ustadz"


"Memang masjid ini di katakan kembarannya hagia sophia, saling berhadapan dan berdekatan. Sultan Ahmad sengaja membangun masjid ini sebagai simbol kejayaan Ottoman pada waktu itu, karena Hagia Sophia pada dasarnya bukanlah masjid namun sebuah gereja, namun saat kejayaan Sultan Ahmed hagia Sophia di alih fungsi kan menjadi masjid. Di Turki ini jugalah berakhirnya khilafah islamiah yang menjadi sejarah umat islam seluruh dunia" Jelas Lutfi


"Pasti banyak sekali sejarah umat islam di negara ini ya ustadz, dari pernah menjadi tempat jayanya umat islam namun juga pernah menjadi bukti runtuhnya kejayaan Islam" Rangkum Tiara


"Itu mengapa saya tertarik saat di tawari beasiswa di negara ini, negara kedua yang ingin saya kunjungi"


"Yang pertama ustadz? " tanya Tiara


"Negeri para nabi" Jawab Lutfi


"Ambil gelar doktor di sana aja ustadz" Saran Tiara


"Insya Allah, inginnya" Menanggapi


"Dengan senang hati" Senyum Lutfi dengan penuh arti tapi tanpa melihat Tiara. Ia memandangi kemegahan masjid Biru yang begitu menggugah hati untuk mengagungkan asma-Nya. Diri terasa terpanggil untuk selalu bernaung di jalan-Nya, karena siapa lah diri ini tanpa Dia sang Maha sempurna


tut tut tut


Tiara di kejutkan dengan panggilan video call dari Yosi. ia pun menerima panggilan tersebut sedangkan Lutfi penasaran dengan siapa yang sedang menghubungi Tiara


"assalamu'alaikum dik," ucap Yosi membuka percakapan


"wa'alaikumsalam salam warohmatulohi wabarokatuh Kak"


"lagi ngapain tuh? " tanya Yosi di seberang sana


tanpa menjawab, Tiara menunjukkan ke arah masjid biru ke Yosi dengan mengarahkan handphone nya ke arah masjid biru. Tiara juga mengaktifkan lospeaker panggilannya sehingga Lutfi juga mendengar percakapan mereka


"dimana itu Dik? " tanya Yosi


"di masjid Biru Kak, masjid yang menjadi ikonik negara ini. bukti sejarah bahwa islam pernah jaya di sini Kak" jelas Tiara dengan antusias


"jadikan aku sejarah mu Dik" ucap Yosi


"kenapa begitu Kak" menatap heran Yosi


"agar Kakak salah satu tempat yang akan kamu kunjungi dengan wajah yang penuh senyuman Dik"


"oh begitu, terserah Kakak lah. Yang penting Kakak bahagia"


"kamu di sana jalan sendiri Dik? " tanya Arya lagi


"tidak Kak," jawab Tiara


"jadi sama siapa, jangan sama pria ya. kamu harus hati-hati Dik, jangan mudah percaya sama seorang lelaki" cerewet Yosi

__ADS_1


"bukannya Kakak juga lelaki ya"


"kakak beda Dik, kalau Kakak gak perlu di ragukan lagi. Kan kamu tau sendiri bagaimana Kakak" membela diri


"ialah itu, kebetulan ustadz yang biasa mengisi pengajian Tiara dulu juga sedang kuliah di sini. Jadi beliau ada waktu luang tadi dan mengajak Tiara yang juga kebetulan ingin berkeliling di kota ini Kak" jelas Tiara


"oh begitu, ya udah syukurlah kamu ketemu sama orang yang kamu kenal di sana"


"ia Kak"


"emangnya di sana belum malam ya Dik? " tanya Yosi


"belum Kak, masih jam 5 sore Kak"


"wah, di sini orang-orang sudah pada mau tidur Dik"


"ya sudah, kakak istirahat lah. Tiara juga mau pulang, sudah sore"


"ia Dik, baik-baik di sana ya. kalau ada apa-apa bilang ya"


"siap komandan" jawab Tiara dengan candaannya


"assalamu'alaikum" ucap Yosi


"wa'alaikumsalam salam warohmatulohi wabarokatuh" balas Tiara


Tiara pun menutup panggilannya dan memasukkan handphone nya ke dalam sakunya kembali


"ustadz, kita pulang yuk. sepertinya sudah sore" ajak Tiara


"ia, ngomong-ngomong itu tadi siapa?" tanpa bisa menahan penasarannya


"oh itu, Kak Yosi" jawab Tiara santai sambil berjalan keluar dari area masjid Biru


"kalian terlihat cukup akrab ya" masih belum puas keingintahuannya


"dia kakak angkat Tiara ustadz"


"oh pantesan"


"kenapa ustadz? " tanya Tiara yang belum mengerti


"terlihat begitu peduli dan sepertinya sangat menyayangimu" berkata tanpa melihat wajah Tiara


"begitulah ustadz" ucap Tiara


"Kakak angkat tidak menutup kemungkinan dia juga menyukaimu"


"tidak ada salahnya jika kita di sukai oleh orang kan Ustadz, dari pada di benci"


"maksud saya, pandangan suka di sini lebih spesifik lagi. suka dalam ranah ingin memilikimu seutuhnya"


"ya gak boleh lah ustadz"


"kenapa? " tanya Lutfi dengan perasaan senang


"karena hanya Allah yang berhak memiliki kita seutuhnya, siapa pun yang ada di sekeliling kita, mereka hanya lah titipan sementara tanpa ada hak cipta"


Lutfi hanya tersenyum mendengar penjelasan Tiara, hatinya yang hampir senang karena jawaban Tiara sebelumnya seperti terkena sekak mati oleh Tiara. setelah mereka tiba di persimpangan, mereka pun berpisah karena berlawan arah namun sebelum berpisah Lutfi tidak mau kalah dengan kata-katanya Yosi yang selalu terngiang di dalam pikirannya


"Tiara" panggil Lutfi saat Tiara sudah berbelok arah


"ia ustadz" jawab Tiara


"jadikan saya peta mu dalam setiap tujuan perjalananmu" ucap Lutfi


Tiara hanya tersenyum dan melanjutkan perjalananya

__ADS_1


__ADS_2