PERAWAN CINTA

PERAWAN CINTA
penasaran


__ADS_3

"Assalamu'alaikum" Ucap Yosi di depan rumah Tiara


"Wa'alaikum salam warohmatulohi wabarokatuh" Jawab Tiara


"Sudah selesai Dik"


"Sudah Kak, pamitan dulu sama ibuk Kak"


"Baiklah" Menuju rumah bu Mala


"Kok naik mobil Kak" Tanya Tiara melihat mobil yang terparkir di depan rumahnya dan dia merasa kurang nyaman jika hanya berdua saja di dalam mobil


"Kamu kan tau, Kakak belum bisa terlalu kena angin" Jelas Yosi


"Kakak sih gak sabar nunggu sembuh, emang ibuk ngasih Kakak jalan"


"Mama bisa apa kalau Kakak sudah memaksa" Sambil tersenyum


"Iya sih, Kakak orangnya maksa ya"


"Sedikit"


"Hem, iyalah tu sedikit"


"Assalamu'alaikum Buk, Pak." Yosi Menyalami bu Mala dan pak Tejo yang sedang duduk bersantai di depan rumah


"Wa'alaikum salam, pada mau kemana. Bukannya Nak Yosi baru keluar dari rumah sakit"


"Iya Buk, bosen di rumah sakit. Pingin cari udara segar sebentar sama Tiara Buk, dia pun terlihat lelah jagain saya" melirik Tiara yang jadi pendengar setia


"Iya gak papa, cuman ibu minta kalau Tiara pergi-pergi pamit sama ibu atau bapak. Tidak ingin kejadian kemarin terulang kembali, kira ibu Tiara masih di rumah. Ternyata udah di bawa orang" Cerita Buk Mala


"Iya Buk, semoga kejadian kemarin tidak pernah terulang lagi"


"Aamiin, untung Tiara punya Kakak yang pengertian"


"Ibu bisa aja" Tersenyum bangga


"Jangan di puji Buk, nanti kupingnya terbang" Ledek Tiara yang melihat tingkah Yosi seperti itu


"Ibu bukan muji sayang, hanya menyampaikan apa yang sebenarnya. Ya sudah sana pergi, nanti kesiangan"


"Baiklah Buk, kita permisi ya. Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikum salam warohmatulohi wabarokatuh, Hati-hati" Pesan bu Mala


"Iya Buk" Ucap Yosi dan Tiara bersamaan


Mereka pun pergi mengendarai mobil ayla. Yosi membukakan pintu untuk Tiara dengan senyuman khasnya


"Silahkan adik Kakak yang cantik"


"Jangan gitu lah Kak, nanti kuping Tiara terbang"


Yosi bergegas masuk kedalam mobil dan memasangkan sabuk Tiara


"Sini, biar Kakak yang pasangkan" Karena tangan Yosi lebih cepat dari Tiara akhirnya Tiara pun membiarkan Yosi memasangnya


"Tiara bisa lo Kak, "


"Izinkan Kakak menebus kesalahan Kakak dik"


"Bukannya sudah Kakak lakukan dengan menyelamatkan Tiara"


"Tapi rasanya belum seberapa dik"


"Sudahlah Kak, Tiara kan sekarang baik-baik saja"


"Terimakasih ya dik"


"Untuk apa Kak"


"Untuk tidak terluka, jika kamu terluka bagaimana Kakak harus menebusnya" Ucap Yosi sambil mengemudi


"Makasih juga ya Kak, "


"Untuk apa"


"Sudah menjaga Tiara agar tidak terluka"


Yosi memandang Tiara dengan senyuman bahagia


"ngomong-ngomong kita mau kemana Kak, bukannya Tiara yang ajak Kakak makan. kenapa sepertinya terbalik ya" ucap Tiara


"kamu maunya ke mana? " tanya Yosi


"ke awan boleh Kak"


"ok, pegangan ya. Kita terbang ya" canda Yosi


"maksudnya resto awan Kak, bukan awan yang di atas"


"iya, iya. Kakak canda aja nya dik, biar awet muda"


"oh iya Kak, kapan sidang skripsi Kakak"


"belum tau dik, Kakak masih nyusun. kalau sidangnya ya tergantung kapan Kakak siap"


"oh gitu ya Kak, tunggu Tiara aja siapnya Kak"


"boleh juga, tapi Kakak harus selesai cepat dik. Soalnya papa minta segera membantu pengurusan di perusahaannya"


"iya lah Kak, ngapain juga nunggu Tiara ya" senyum Tiara


"kamu dapat magang di mana Dik"


"belum tau Kak, besok senin baru pengambilan surat tugasnya Kak"

__ADS_1


"semoga di tempat yang terbaik ya dik"


"aamiin, makasih do'anya ya Kak"


"Sama-sama"


"Akhirnya sampai juga"


"Sepertinya kakak senang sekali sampai"


"Ia lah, soalnya Kakak penasaran banget sama cerita kamu"


"Hmmm, Tiara malah malas untuk membahasnya Kak,


" Gak boleh gitu lah dik, kan sudah janji" Sambil membukakan sabuk Tiara


"Tiara bisa sendiri Kak"


"Hsst" Meletakkan jari telunjuknya di mulutnya


Mereka pun masuk ke Resto awan yang terlihat astetik dan menarik


"Kita duduk di atas aja Kak"


"Ok, " Mengikuti Tiara menaiki anak tangga menuju ke ruang atas


Suasana di atas terasa lebih estetik karena seperti berada di atas awan yang mampu melihat sekeliling


"Pintar juga kamu cari tempat ya dik, ngomong-ngomong udah pernah sama siapa ke sini dik" bertanya penasaran


"Tanya sama mbah google Kak, jadi baru pertama kali ini sama Kakak. Kan hari itu Tiara janji mau traktir Kakak, jadi Tiara langsung cari tempat yang unik" Tersenyum bangga karena Kakaknya suka


"Ternyata selera kamu tinggi juga ya"


"Dikit Kak, hanya inggin yang terbaik"


"Buat"


"Semuanya"


"Owh"


Asyik bercerita, mereka pun di tawari menu dan memesannya


"Sambil menunggu menunya, gimana kalau adik cerita"


"Bukannya dari tadi kita cerita ya Kak"


"Bukanlah, kita masih berbicara. Belum bercerita"


"Ternyata Tiara punya Kakak yang genius ya, Tiara lupa"


"Kamu juga harus tau bahwa Kakak mu ini juga punya selera tinggi"


"Tentang"


"Apa pun itu"


"Kamu itu, suka buat orang penasaran"


"Dikit"


"Baiklah, sambil menunggu Kakak boleh bertanya satu hal sama kamu dik"


"Boleh lah Kak, bukannya Kakak dari tadi selalu bertanya ya"


"Tapi ini lebih mendalam pertanyaannya"


"Sedalam apa Kak"


"Sedalam perasaan ku kepada mu"


"Boleh-boleh"


"Apa sampai sekarang kamu belum pernah jatuh cinta dik"


"Hmm, kalau terpeleset dikit pernah sih Kak. Tapi kalau jatuh sih belum"


"Kakak serius Dik"


"Tiara juga benar jawabnya Kak"


"Lebih jelas lagi dong jawabnya, biar Kakak paham"


"Begini ya Kak, kita selalu manusia sudah fitrahnya punya cinta bahkan kita terlahir juga karena cinta. Tetapi bagaimana kita menjaga dan meleburkan cinta yang di titipkan kepada kita. Ya Tiara juga manusia biasa Kak, pernah juga mengagumi seseorang dan ingin memilikinya tapi masih Tiara jaga sampai ia halal untuk Tiara cintai"


"Jadi Tiara punya seseorang yang mengusik hati Tiara juga ya"


"Dulunya Kak, sekarang sudah Tiara lepaskan. Dan Tiara yakinin aja Allah akan menyediakan yang terbaik nantinya di saat yang tepat"


"Oh gitu"


"Kalau Kakak, masih sama Kak Chantika?"


"Ternyata rasa itu memiliki masa ekspayet nya ya Dik"


"Maksudnya Kak"


"Iya, dulu Kakak cinta sama Kak Chantika. Namun setelah dia memutuskan Kakak dan kamu hadir di kehidupan Kakak saat itu, cinta itu terasa memudar"


"Tapi kan dia sekarang berusaha memperbaiki hubungan kalian Kak"


"Iya, tapi cinta itu sudah pergi dik"


"Owh gitu ya Kak, ya udahlah. Mungkin belum jodoh ya"


"Betul sekali"

__ADS_1


"Menu sudah datang, nikmati ya Kak. Semoga Kakak suka" mengambil menu yang tersedia dan meletakkannya di hadapan Yosi


"Apa mungkin kita bisa berjodoh ya dik"


"Uhuk-uhuk" Tiara tersedak saat sedang minum jeruk hangat pesanannya


"Ini minum air putih dik, pelan-pelan minumnya ya"


"Ia Kak, makasih"


"Ya sudah, kita makan tanpa bicara ya. Biar selesai cepat dan aman. Lagi pula itukan adapnya makan ya dik"


"Ia Kak"


Mereka makan dengan suasanya hening, walau pun terlihat hening. Namun hati mereka begitu berisik mengusik pikiran mereka, Yosi terlihat begitu menikmati makanannya dan sesekali memandang Tiara yang terlihat manis sekali saat makan. Ia begitu menyukai mie sepertinya, dari beberapa kali mereka makan bersama selalu memilih olahan mie. Seharusnya ia memilih makanan yang lebih bergizi saat berada di luar, jika sendiri mungkin itu hal yang biasa di konsumsi.


"Apakah kamu begitu menyukai mie Dik? " Tanya Yosi yang penasaran dan telah menyelesaikan makannya


Tiara hanya mengangguk karena ia belum selesai makan dan segera menghabiskan makannya karena melihat Yosi yang telah selesai makan


"Alhamdulillah, akhirnya habis juga" Ucap Tiara


"Kamu makannya gak perlu cepat-cepat Dik, Kakak sabar menunggu"


"He, ia Kak. Masalahnya Tiara gak enak kalau di tunggu, karena Tiara sudah sering di tunggu"


Mereka sama-sama tersenyum karena selalu dapat kata-kata yang tersirat dan memahami dengan pemahaman nya masing-masing


"Sudah siap Dik"


"Untuk"


"Jujur sama Kakak"


"Bentar Kak, Tiara masih ke kenyangan. Santai aja kenapa sih Kak, kita kan tidak ada yang mengejar"


"Ada Dik"


"Siapa Kak"


"Rasa penasaran Kakak yang begitu memburu keingintahuan tentang mu"


"Lebay Kakak ni"


"Benar Dik"


"Bentar Tiara, minum dulu ya"


"Dulu kan sudah"


"Iya, sekarang Kakak ku"


"Wah, Kata-kata mu dik. Membuat Kakak mau terbang"


"Perasaan Tiara ngomong biasa aja, di mananya yang membuat Kakak mau terbang"


"Kakak ku, itu seakan-akan Kakak ini milik mu"


"Sudah lah Kak, jangan baper. Mau tau ceritanya gak nih"


"Ya mau lah"


"Sebenarnya Tiara punya rahasia yang Tiara jaga, mungkin hanya beberapa orang yang tau. Karena ucapan Tiara kemarin, mungkin sudah saatnya Tiara kasih tau ke Kakak"


"Apa dik"


"Sebenarnya Tiara sudah menikah Kak"


"Sama siapa, kok bisa dan kenapa Kakak tidak di kabari" Jantungnya terasa berhenti berdetak


"Satu-satu tanya nya Kak, "


"Ia, jawablah yang menurut kamu mau di jawab"


Tiara menceritakan awal pertemuannya dengan Arya hingga akhirnya menjadi suaminya


"Jadi begitu ceritanya, saat itu Kakak lagi sibuk magang ya Dik. Maafkan Kakak tidak ada di samping kamu, pasti begitu berat"


"Ia Kak, sebenarnya Tiara ingin cerita sama Kakak. Tapi belum ketemu waktu yang tepat, karena keceplosan ngomong hari itu. Jadi buat penasaran Kakak, yang mengharuskan Tiara cerita"


"Jadi kamu sekarang udah tenang kan dik"


"Alhamdulillah Kak, makasih ya. Sudah mengerti Tiara"


"Sama-sama" menunduk dan merasa lega


"Kak, gawat"


"Apa Dik"


"Kita belum sholat kan"


"Iya, yuk"


Mereka ke asyikan bercerita sampai lupa waktu. Mereka segera turun ke kasir dan Tiara berusaha membayar namun Yosi yang tubuhnya lebih besar menghalangi Tiara


"Kakak, kan Tiara udah janji. Nanti jadinya Tiara ingkar janji"


"Lain kali aja janjinya di tepati, kalau Kakak perlu" Sengaja melakukan itu agar mudah mengajak Tiara jalan, karena selama ini mengajak Tiara jalan susah sekali. Tetapi karena dia ingin menunaikan janjinya, dia gampang di ajak jalan


"Kakak jahat"


"Biarin, kita sholat di mana? " Mengalihkan pembicaraan


"Terserah"


"Ngambek ni, ternyata adik Kakak ini suka ngambek juga ya"

__ADS_1


"Biarin"


Menaiki mobil dan mencari masjid yang tidak jauh


__ADS_2