
ketika Tiara merindukan kedua orang tuanya, maka pemakaman ialah tempat yang paling senang ia kunjungi. iringan doa dan taburan bunga tidak lupa ia lakukan, sedikit kerinduan itu pun memudar dan mulai menata langkah yang lebih baik lagi ke depannya.
"sudah Tiara, " membuyarkan lamunannya yang sedang asik dengan memory indah bersama orang tuanya
"Sudah Buk, " jawab Tiara
"ayo kita pulang, kamu harus istirahat. Dari tadi belum ada istirahatnya, kamu harus kuat ya Nak" menyemangati Tiara yang terlihat sendu
"iya Buk, makasih ya Buk. selama Ayah dan ibu tidak ada lagi, Ibu selalu mendukung dan menjaga Tiara, " tersenyum haru
"kamu kan sudah seperti anak ibu sendiri, ketika orang tuamu dulu masih ada kamu kan memang sering di titip ke ibu dan juga almarhum pernah berpesan untuk jagain kamu jika ayah kamu tidak ada" jelas Buk Mala
"kak Indri gimana kabarnya Buk? " tanya Tiara
"alhamdulillah, kak Indri baik." jawab Buk Mala
"sekarang udah semester berapa kuliahnya Buk?" tanya Tiara lagi
"sudah semester lima Nak, katanya semester depan udah KKN" sambil menuju ke arah rumah mereka yang tidak jauh dari pemakaman
"wah tidak terasa ya Buk, " ucap Tiara lagi
“iya Nak, seperti itulah hidup yang kita jalani. kita terus berjalan tanpa kita sadari kita sudah jauh melangkah. yang terpenting setiap langkah kita harus ada hal-hal kebaikan yang harus kita lakukan" tersenyum ke arah Tiara
"iya Buk, Tiara harus terus melangkah dan berjalan. sehingga ada masanya langkah kita terhenti karena sudah habisnya waktu kita untuk berjalan, " tambah Tiara dengan semangat
"tapi jangan lupa istirahat Nak, kalau dalam perjalanan merasakan lelah." mengelus punggung Tiara
"siap Buk," kata Tiara kepada Buk Mala
setelah berada di gerbang pintu
dor dor dor
__ADS_1
suara letupan balon yang berisi manik-manik kecil tiba-tiba berhamburan mengarah ke Tiara
"selamat ya Tiara, kami dari jurusan IPA bangga kamu mewakili kita menjadi siswa terbaik tahun ini" ucap wulan sambil memberikan buket bunga
"iya sama-sama, makasih ya kalian selalu menyemangati Tiara," balas Tiara
"cie cie, ada yang dapet buket bunga tuh. dari siapa ya? " ucap Ririn teman kelasnya Tiara
"Tiada buket bunga yang paling berharga ketika itu di berikan dari orang tua kita kawan" mencoba membuat jawaban yang gak bakal ada sambungannya
"iya Tiara, maaf ya. kamu pasti lagi sedih ya. kami kesini mau ngucapin selamat, karena tadi tidak lihat kamu pas acara dokumentasi" ucap angga ketua kelas
" jadi mau kita abadikan di mana momen ini? " tanya Tiara
"itu tuh, gedungnya sudah menunggu," sambil menunjuk gedung studio foto yang biasa di gunakan untuk mengabadikan momen penting
"kami dari tadi nungguin kamu Tiara, mana mungkin kami meninggalkan siswa terbaik kami, " tambah wulan
"ok baiklah, ayo kita jalan" ajak Angga selaku ketua
mereka pun mengabadikan momen bersejarah
bagi mereka. setelah ini mereka akan melanjutkan kejalan mereka masing-masing. Adakalanya nanti mereka merindukan kebersamaan yang sekarang mereka rasakan dan akan sulit untuk di ulang lagi di masa yang akan datang tetapi akan tetap manis untuk di kenang.
setelah puas dan bahagia mereka pun pulang karena hari pun sudah siang dan mereka merasa lelah.
lutfi
"Tiara kemana mi, tidak kelihatan belakangan ini. biasanya dia tidak pernah absen kalau ada pengajian" tanya Lutfi kepada ummi nya
"iya, dia sudah izin kok sama ummi. kenapa, kok kamu tanya? " balas ummi Syarifah
"Hamm, tidak apa-apa mi, tanya aja. soalnya tidak biasanya dia absen, jadi heran aja. memangnya dia izin kenapa mi, sakit? " tanya Lutfi lagi
__ADS_1
"tidak, dia lagi sibuk ujian akhir sekolahnya" jelas ummi Syarifah
"jadi dia udah lulus-lulusan tahun ini mi? " bertanya antusias
"alhamdulillah, barusan tadi dia ngabarin bahwa dia lulus dan mendapatkan beasiswa untuk kuliah." memancing keingintahuan Lutfi
"jadi udah boleh dong, Lutfi ta'aruf an sama Tiara mi? " akhirnya jelas sudah apa yang ingin di sampaikan Lutfi selama ini
sebenarnya sebagai lelaki yang normal dia juga tertarik terhadap wanita, apalagi wanita seperti Tiara. selama ini Lutfi terkadang menggantikan ayahnya mengisi pengajian dan sering hadir di pengajian ayahnya, sehingga dia sering melihat Tiara yang sering bertanya tentang materi yang di sampaikan.
"jadi kamu punya rasa sama Tiara? " tanya ummi
"iya mi, Lutfi suka dari cara pandangnya tentang hidup dan memahami agama ini serta plusnya cantik dan sholehah ya mi," sambil tersenyum
"bagus sih kamu langsung ta'aruf an agar tidak menimbulkan fitnah dan maksiat. tapi saran Ummi biarlah dia kuliah setahun dulu, setelah jalan baru kamu mulai ta'aruf an. kalau sekarang seperti nya dia lagi sibuk untuk mengurus pendaftaran kuliahnya lagian masih baru lulus ya? " jelas Ummi Syarifah panjang di kali lebar
"menurut Ummi seperti itu ya, ya sudah Lutfi ngikut Ummi aja ya, " mengangguk paham
"oh iya mi, Lutfi kelupaan. minggu besok Lutfi udah KKN ke daerah-daerah terpencil. jadi Lutfi mau persiapan dulu ya my," ucap Lutfi lagi
"kok kamu kok bilangnya tiba-tiba sih fi, jadi berapa lama kamu di sana? " tanya Ummi Syarifah
"insyaa Allah kalau tidak ada perubahan sekitar tiga bulan my, mau lebaran baru pulang. ya udah my, tadi ada janji kumpul sama teman kelompok" sambil meninggalkan ummi nya
"satu lagi my, kelupaan. jangan lupa doain Lutfi dijodohkan sama Tiara ya my, doa nya Ummi kan makbul," mendekati ummi nya dan berkata dengan lirih
"kamu itu ya, ada-ada saja permintaan nya. kuliah belum kelar sudah mikirin akhwat. lulus dulu dengan nilai terbaik baru Ummi bantu doanya" tantang Ummi Lutfi kepada Lutfi yang menjauh dari Ummi nya
"ok my, akan Lutfi buktikan ya. Assalamu'alaikum " jawab Lutfi antusias dan keluar rumah
"wa'alaikum salam warohmatullohi wabarokaatuh, semoga Allah memberkahi setiap langkahmu, aamiin. " doa Ummi Syarifah untuk anak sulungnya
Ummi Syarifah hanya berharap semoga Allah memberikan jodoh terbaik yang akan mendukung jalan dakwah anaknya. karena Lutfi adalah anak yang terlihat bakatnya meneruskan dakwah abi nya. walaupun Ummi juga berharap lebih, jika boleh memilih Tiara untuk di jodohkan kepada Lutfi. Tetapi Ummi yaqin bahwa Allah sudah menuliskan di laut mahfudz jodoh untuk setiap hambanya termasuk Lutfi. jika dia berdoa mencantumkan nama, bukankah berarti terlalu memaksa takdir. Biarlah waktu yang akan menjawab semua teka-teki kehidupan kita kedepannya dan yakinlah bahwa itulah yang terbaik untuk kita. karena yang menurut kita baik, belum tentu di sisi Allah itu baik, bisa Jadi yang menurut kita itu tidak baik namun si sisi Allah itulah yang terbaik. karena kita hidup untukNya maka lakukanlah hal yang baik dari sisiNya.
__ADS_1