PERAWAN CINTA

PERAWAN CINTA
desa Mekar sari


__ADS_3

Pegunungan nan indah permai.


Pohon-pohon berbaris rapi menandakan bahwa masih asrinya di desa Mekar Sari ini.


Jika melihat dari atas pegunungan, maka jalanan yang melingkari punggung gunung ini.


Sebagaimana biasanya tugas bagi Mahasiswa KKN, harus melakukan pengabdian kepada masyarakat yang membutuhkan. Lutfi dan beberapa temannya sedang melaksanakan tugas mereka di desa terpencil ini. Walaupun jauh dari keramaian, namun membawa kedamaian


"Ayo kita istirahat di sini sejenak, " Ajak Lutfi kepada anggotanya


"Baiklah, " Sambil menurunkan tas yang mereka bawa.


"Nenek itu kok masih kuat ya berjalan mendaki seperti ini. Kita yang masih muda kok kecapean? " tanya Anwar


"Masyarakat sini, sudah terbiasa. Kita yang jarang bahkan tidak pernah, pastinya anggota tubuh kita terkejut melakukan hal yang mungkin baru kali ini kita lakukan. " Jelas Lutfi


"Iya juga ya, " Mengangguk paham


"Ya sudah, ayo kita lanjutkan perjalan keburu siang." Lanjut Lutfi


Akhirnya mereka pun melanjutkan perjalanan menuju desa mekar sari ujung. Sesampainya di sana, mereka langsung menemui kepala desa dan menyerahkan beberapa surat dari kampus mereka.


"Jadi, kalian yang bertugas tahun ini di sini. Memang biasanya setiap tahun, kampus kalian mengirimkan mahasiswa KKN nya kemari. Jadi, kami pun menyiapkan kosan tempat tamu. Silahkan kalian istirahat terlebih dahulu, pasti lelah kan. " Jelas pak Trisno selalu kepala desa Mekar sari


" Iya Pak, kalau begitu kami pamit sekarang ya Pak. Terima Kasih atas sambutannya Pak, " Ucap Lutfi


"Iya, kami yang seharusnya berterima kasih kepada kalian. Karena sudi kiranya mau berbagi ilmu di desa terpencil ini, yang harus jauh-jauh berjalan kaki dan mendaki, " Balas Pak Trisno dengan senyuman dan menggiring mereka ke Kos yang biasa di gunakan untuk para tamu yang datang ke desa ini.


"istirahatlah kalian sekarang di sini, jangan sungkan untuk meminta apa yang di perlukan. kebetulan saya pun tinggal di depan sana. setelah makan siang kita akan diskusikan agenda yang akan kalian buat, " jelas pak Trisno lagi


"alhamdulillah akhirnya kita bisa rebahan juga setelah melakukan pendakian yang tak biasa," ucap Anwar


"tapi jujur ya, di sini enak juga suasananya. udaranya segar, terus tidak bising seperti di kota kita. " puji Lutfi terhadap suasana kampung ini


"iya Fi, cocok buat tafakur di sini. " tambah zuhri


tanpa mereka sadari mereka bertiga pun tidur terlelap karena merasa begitu lelah


tok tok tok


"assalamu'alaikum" ucap Pak Trisno


"wa'alaikum salam Pak," jawab Lutfi yang langsung terbangun karena mendengar suara Pak Trisno


"ayo kita makan siang sekarang, sebenarnya udah lewat jamnya makan siang. tapi karena Bapak tidak mendengar suara kalian, bapak kira kalian tertidur dan membiarkan kalian istirahat dulu. " jelas Pak Trisno


"iya Pak, kami ketiduran. mungkin pada kelelahan, " ucap Lutfi dengan senyuman

__ADS_1


"ya sudah di bangunin temannya. kita makan di rumah, " sambil melihat Anwar dan Zuhri yang masih tertidur


"iya Pak" segera membangunkan temannya


"Anwar, Zuhri. ayo bangun, di tunggu sama Pak Trisno. " menggerakkan tubuh mereka tetapi tetap tidak bangun juga


"Anwar, zuhri. ada api, ada api, Api. " berteriak


"mana, mana, dimana apinya." akhirnya mereka melompat dan mencari di mana apinya


"ada-ada aja kalian, " sambil geleng-geleng kepala Pak Trisno melihat tingkah mereka


"baru kalian mau bangun, itu apinya di kompor Pak Trisno" sambil menunjuk arah rumah pak kades


******


Selesai makan bersama, Pak Trisno pun mengajak mereka untuk berdiskusi santai di pendopo desa yang berada di belakang kantor kepala desa. Letaknya benar-benar di rancang untuk merilekskan pikiran agar jernih dan tenang dalam membahas masalah yang akan di selesaikan, karena di suguhi pemandangan indah sang Maha Karya pelukis Agung yang membuat berdecak kagum bagi siapa saja penikmat nya. Deretan sengkedan tanaman petani yang menghijau di iringi suara gemercik air dari penggabungan yang terdengar tidak begitu jauh serta decitan bambu-bambu yang saling beradu karena usik an angin membuat suasana menjadi semakin syahdu.


"Masya Allah, sungguh indah ciptaan sang Maha Kuasa. Ternyata banyak tempat indah yang harus kita kunjungi agar kita semakin sadar bahwa begitu Maha Karya nya sang Pencipta, " Puji Lutfi berdecak kagum memandangi sekitaran pendopo


" Ini dia berakit-rakit ke hulu


Berenang-renang ke tepian


sakit-sakit dahulu


Terbayar rasanya perjuangan kita tadi untuk bisa mendaki ke mari dan akhirnya di suguhi pemandangan yang luar biasa. " Tambah Anwar


"Kenapa selama ini kita tidak cari tau ya, hanya di sibukkan dengan hiruk pikuk kota yang sering membuat kita lupa dan sibuk dengan kehidupan yang fana ini, " Ucap Zuhri yang juga tersihir dengan keindahan yang terpajang di hadapannya,


"Baiklah, sambil menikmati keindahan alam ini kita bahas agenda kalian yang akan dilaksanakan mulai kapan? " Tanya Pak Trisno


"Ini Pak rencana kami selama tiga bulan di sini, " Lutfi menyerahkan beberapa lembar kertas HVS yang berisi agenda kegiatan mereka


"Jadi nanti, setelah magrib kita umumkan untuk agenda kalian selama tiga bulan disini kepada masyarakat di masjid. Biasanya masyarakat antusias jika ada mahasiswa datang." Jelas


Tidak beberapa lama kemudian, azan pun berkumandang


"Kalau begitu kami permisi sekarang ya Pak, " Sambil mengulurkan tangannya


"Gak sekalian sama kita jama'ah ke masjid?" Ajak pak Trisno


"Nanti magrib aja ya Pak, soalnya kami mau jama' sholat ashar sama zuhur kami tadi belum Pak, " Jelas Lutfi lagi


"Oh iya Nak, silahkan." Mempersilahkan mereka menuju rumah kos mereka


Sesampainya mereka di rumah kos, mereka pun bergegas untuk sholat berjamaah dan tidak lupa pula membaca kalam ilahi dengan begitu syahdu. Mereka merasakan ketentraman yang jarang merek rasakan ketika mereka di kota. Suasana alam dan masyarakat yang mendukung mereka semakin merasakan ketenangan yang syahdu. Tanpa mereka sadari sudah sejam lebih mereka men-tadabbur kalam ilahi

__ADS_1


"Sodaqollaahula'dzim, maha benar Allah dengan segala firman- Nya. " Ucap mereka menutup Al-Qur'an yang mereka baca


"Keliling kampung yuk, refreshing. Sekalian kita ke air terjun yang kita dengar tadi. Aku penasaran, " Ajak Anwar


"Ayo, belum tentu besok kita punya waktu senggang seperti ini. Karena besok agenda kita sudah berjalan." Tambah Zuhri antusias


"Baiklah teman-teman. Sekali-kali ketua harus ikut kemauan anggotanya ya, “ ucap Lutfi dengan senyuman


Mereka pun berjalan berkeliling desa dan bertanya di mana arah menuju air terjun yang gemericik terdengar dari rumah kos mereka, ternyata memang tidak jauh dari lokasi mereka berada. Langsung saja mereka menuju ke arah yang di beritahu namun belum sampai turun ke bawah mereka pun terkejut dengan pemandangan yang mereka lihat


" Bisalah kita sering-sering ke mari, kan tidak jauh. "Ucap Anwar dengan sumringahnya


" Wah, kenapa ramai sekali orang di sini? " Tanya Zuhri yang merasa aneh


"Astaghfirullah, ayo kita kembali. Mungkin bukan waktu yang tepat kita kemari. " Akhirnya mereka bergegas naik ke atas kembali sebelum ada yang menyadari kehadiran mereka


Tidak jauh dari perjalanan mereka bertemu Pak Trisno


"Kalian dari mana, kok terlihat terburu-buru begitu? " Tanya Pak Trisno


"Kami tadi ingin lihat air terjun nya Pak, tapi sebelum nyampe ke bawah sudah terdengar riuh suara perempuan. Jadi kami cepat-cepat kembali, entar di kira mau ngapain gitu ya Pak," Jelas Lutfi dengan nafas yang masih tersengal


"Iya Nak, waktu kalian tidak tepat untuk menikmati air terjunnya saat jam segini. Masyarakat disini lebih senang nyuci dan mandi di aliran air terjun jika sore hari, " Cerita Pak Trisno


"Jadi kapan waktu yang tepatnya Pak? " Tanya Zuhri penasaran


"Pagi atau pun siang, jarang ada. Kalau ada pun hanya sedikit karena waktu masyarakat pada sibuk mempersiapkan bekal untuk bertani dan biasanya sampai waktu Asar" Tambah Pak Trisno lagi


"Oh seperti itu ya Pak, maaf kami tidak tau. " Ucap Lutfi meminta maaf atas kelakuan mereka


"Iya gak apa-apa. Saya hanya gak kebayang saja jika tadi kalian terpergok oleh mereka yang ada di sana, bisa-bisa kalian di kira apa ya, " pak Trisno senyum-senyum sendiri


"Iya Pak. Kami pun gak kebayang, jadi masalah pula nanti kedepannya saat kami bertugas. Dikatain apa gitu ya, " Tampak berpikir Anwar


"Kalian harus jaga sikap juga di sini Nak, berbeda dengan di kota. Jika ada anak gadis ketahuan berduaan bersama yang bukan saudara nya maka masyarakat meminta untuk menikahkan mereka segera. Bapak mengingatkan aja, takutnya nanti kalian pulang ke kota ada yang bawa istri, “ pak Trisno mengingatkan


" Terima kasih Pak atas nasehatnya, bagaimana pun kami perlu banyak bimbingan dari Bapak kedepannya. Mohon bimbingannya Pak, " Ucap Lutfi dengan sedikit membungkukkan kepalanya


"Baiklah Nak, udah sore. Ayo kita persiapan, nanti saya tunggu di Masjid ya," Mengakhiri perbincangan mereka sambil menuju ke rumah


*****


Kumandang azan begitu merdu


Masyarakat antusias menghadiri panggilan yang terdengar mendayu-dayu


Mereka pun bergegas menyusun saf dengan rapi dan melaksanakan jama'ah sholat magrib. Setelah sholat pak Trisno pun selaku imam menyampaikan pengumuman untuk tidak langsung bubar setelah sholat. Akhirnya mempersilahkan mereka bertiga untuk duduk dan menyampaikan agenda mereka di depan. Masyarakat antusias mendengarkan dan mengerti karena ini bukan kali pertama mereka di kunjungi oleh mahasiswa yang mengabdikan diri mereka untuk masyarakat di desa ini.

__ADS_1


__ADS_2