PERAWAN CINTA

PERAWAN CINTA
Menunggu


__ADS_3

"Makasih ya Kak," Saat mereka tiba di depan rumah Tiara


"Sama-sama dik, makasih juga sudah buat Kakak bahagia hari ini" Menatap indah wajah Tiara yang sudah merasa lebih baik dan tersenyum


"Kakak yang selalu berusaha membuat Tiara bahagia" Balas Tiara


"Itulah sebenarnya kebahagiaan, membuat orang lain bahagia adalah suatu kebahagiaan Ra" Mengucapkan dengan santainya


"Betul itu Kak, mengikhlaskan diri ini mengikuti kalian dari tadi agar kalian bahagia ternyata membuat Tiara bahagia Kak" Tersenyum kepada Yosi


"Kamu tau bagaimana Kakak itu adalah melihat kamu selalu tersenyum Ra" Ucap Yosi menatap penuh arti Tiara


"Makasih Kak," Tersenyum haru


"Ya sudah sana mandi, gak baik kalau mandinya malam" Mengakhiri pembicaraan mereka


"Baik Kak, assalamu'alaikum warohmatulohi wabarokatuh" Ucap Tiara


"Wa'alaikum salam warohmatulohi wabarokatuh" Masih memandang kepergian Tiara memasuki rumahnya


“makasih ya Allah, Engkau selalu mengirimkan orang- orang yang mampu membuatku tersenyum saat aku merindukan ayah dan ibu" Ucap Tiara sambil menghempaskan tubuhnya di springbed miliknya


*****


Dikeheningan malam menatap ribuan bintang dan harapan serta penantian


Tuhan, kirimkanlah aku kekasih pilihan


Yang mencintai Mu


Bersamanya membangun mahligai istana cinta menuju syurga Mu


Tafakur Lutfi seorang diri di depan jendelanya yang sedang menikmati keindahan malam di temani hembusan angin, saat ini sedang menyusun tesisnya. Jika ia merasa lelah, bertafakur adalah obat yang bisa menenangkannya dan mengobati segala kerinduannya dengan ummi dan abahnya di sana. Sudah hampir dua tahun ini Lutfi tidak pulang ke tanah air, ia ingin fokus dan segera menyelesaikan tesisnya sehingga bisa kembali.


"Wahai bidadari yang akan menemani langkah ku nantinya, sedang apakah kamu di sana" Ucap Lutfi tanpa tau arah pembicaraannya


Sebulan terakhir ini, Lutfi sedang melakukan sholat istikharah. Ia harus memberikan jawaban kepada keluarga Bilqis dalam tempo sebulan ini.


"Ya Allah, berilah petunjuk Mu. Siapakah bidadari yang akan mendampingi langkah ku untuk terus mensyiarkan dakwah di jalan Mu, jika Bilqis. Kenapa hati ini belum mantab untuk nya ya Allah" Ucap Lutfi seakan berbicara dengan pemilik takdir hidup nya


Tidak lama kemudian orang yang ada di fikirannya menelpon


"Assalamu'alaikum mas" Ucap Bilqis di seberang telepon


"Wa'alaikum salam," Jawab Lutfi santai


"Bagaimana kabar mas Lutfi, akhir-akhir ini tidak kelihatan di kampus"


"Ia, mas lagi fokus menyelesaikan tesis. Kalau ada perlu aja ke kampusnya" Jawab Lutfi


"Ini mas, sebenarnya paman mengundang mas makan malam ke rumahnya besok. Bagaimana mas, mas bisa kan? " Tanya Bilqis


"Sepertinya kalau besok belum bisa, kalau tidak keberatan seminggu lagi ya. Insya Allah tesis mas selesai" Jelas Lutfi yang menyadari sebenarnya keluarga Bilqis ingin keputusan cepat, tesis adalah alasan yang tepat menurut Lutfi untuk mengukur waktu memantapkan hatinya lagi kerena bagaimana pun ia tidak ingin tergesa-gesa dan mengambil keputusan yang salah nantinya.


"Oh, begitu ya mas. Baiklah akan Bilqis sampaikan sama paman nanti ya mas" Ucap Bilqis


"Ia, makasih ya. Assalamu'alaikum" Langsung menutup pembicaraan mereka


"Wa'alaikum salam" Dan langsung terputus sambungan telepon nya


"Mas ini, dingin banget orangnya. Kenapalah aku bisa jatuh cinta sama orang seperti itu ya" Ucap Bilqis yang juga merasa kesal dengan sikap Lutfi yang susah untuk di dekati


Sedangkan di seberang sana


"Akhirnya, bisa menemukan alasan yang tepat untuk mengulur waktu. Baiklah Lutfi, seminggu ini kita istikharah terus untuk memantapkan hati mu" Ucapnya. Meyakinkan dirinya sendiri

__ADS_1


"Telepon ummi gak ya, hem" Sambil berfikir


"Ada baiknya setelah hati ini mantab baru kabari ummi dan abah. Begitu juga bagus" Ucap Lutfi seorang diri


*****


tok tok tok


"assalamu'alaikum" ucap Yosi sambil mengetuk pintu rumah Tiara


"wa'alaikum salam warohmatulohi wabarokatuh, ia sebentar" jawab Tiara dari dalam


"surprise" sambil merentangkan kedua tangannya


"Kakak ngapain pagi-pagi kemari, apa tidak ada kerjaaan, bukannya Kakak sekarang sudah sibuk di perusahaan? " tanya Tiara dengan bertubi-tubi


"mama suruh jemput kamu, emangnya kamu gak mau pamitan sama mama sebelum berangkat besok"


"ia, Tiara memang ada rencana ke sana. Tapi nanti agak siangan Kak, kalau sepagi ini Tiara belum berkemas"


"perlu Kakak bantu" tawar Yosi


"gak perlu Kak, lagian gak banyak yang mau di bawa. repot nantinya, paling hanya berkas-berkas saja Kak" jelas Tiara


"ya sudah kalau begitu ayo kita berangkat"


"Tiara belum mandi Kak"


"ok, kakak kasih waktu lima menit ya. Cukup kan? " tanya Lutfi mengerjai Tiara


"jangan gitu lah Kak, Tiara jadi bingung nanti kalau di kasih waktu. " pinta Tiara


"baiklah, santai saja. Kakak siap menunggu mu asal pasti" senyum menggoda Tiara


"ia Kak, Tiara mandi dulu ya"


"kenapa Kak? " tanya Tiara menghentikan langkahnya


"kan dulu sudah mandi"


"hem kirain serius, ya sudah Tiara mandi sekarang ya"


"siap tuan putri ku"


seperti biasa jika Yosi sedang menunggu Tiara, dia duduk di taman depan rumah Tiara di bawah pohon rindang yang menyediakan tempat duduk yang cukup nyaman dan menyegarkan. Dia melihat status nya dan melihat status Tiara pastinya


"dasar anak-anak nakal, masih saja godain dia" geram Yosi yang melihat komentar-komentar siswa magang Tiara hari itu


"siap, maaf Kak. Membuat Kakak menunggu lama"


"santai saja, " ucap Yosi


"Kakak sih, gak ngabari kalau mau jemput. Tiara kan bisa persiapan"


"gak papa, namanya juga surprise"


"terserah Kakak lah mau apa, yang penting Kakak senang"


"nah, begitu baru benar. gak perlu sungkan sama Kakak"


"ia ia" jawab Tiara


Yosi pun membukakan pintu mobilnya untuk Tiara


"silahkan masuk Tuan putri"

__ADS_1


"tunggu-tunggu Kak, Tiara belum pamit sama ibuk"


"ya sudah Kamu duduk saja di dalam, biar Kakak yang pamitan"


"kenapa begitu"


"biarkan begitu dik"


"baiklah, terserah Kakak maunya apa" Tiara pasrah saja karena mengetahui watak Yosi yang keras kepala


Yosi pun berlari menuju rumah bu Mala dan kembali dengan cepat


"sudah Kak"


"sudah beres, apa lagi tuan putri"


"biasa ajalah Kak manggilnya"


"ok, kita berangkat" Yosi melajukan mobilnya namun bukan ke arah rumahnya


"kita mau kemana dulu Kak" Tiara sadar kalau ini bukan arah rumah Yosi


"kita mampir sebenar ya" menjawab santai


setelah memarkirkan kendaraannya di tempat parkiran, Yosi bergegas segera turun dan membukakan pintu untuk Tiara


"silahkan tuan putri" mempersilahkan Tiara turun


"Kakak, biasa aja lah. jangan seperti ini" Tiara merasa tidak nyaman dengan sikap Yosi


"izinkan Kakak melakukannya selagi bisa dik, besok kamu sudah pergi jauh"


"tapikan Tiara pergi untuk kembali Kak, bukan untuk selamanya"


"tapikan lama dik," sambil menunggu Tiara turun dari mobilnya


"wah, inikan pantai yang dulu kita pernah ke sini Kak"


"tepat sekali, ternyata kamu masih mengingatnya dik"


"kalau tentang mengingat jangan di ragukan Kak, in sya Allah Tiara sulit melupakannya"


"baguslah kalau begitu, ayo ke arah sini" sambil berjalan menuju ruangan yang tersedia di tepi pantai


"katanya ibu mau ketemu, memangnya di mana Kak"


"ayolah, percaya sama Kakak"


Mereka melangkah masuk ke sebuah ruangan yang telah di hiasi dan menghadap ke pantai


dor dor dor


pernak pernik berjatuhan di atas kepala Tiara


"surprise, selamat datang sayang" bu Yeni langsung memeluk Tiara


"maaf hari itu tidak bisa datang di acara wisuda kamu, sebenarnya ibu mau buat acara ini saat kamu selesai wisuda itu. Tapi kata Kakak kamu mau pergi jauh, sekalian aja buatnya saat kamu mau berangkat" jelas bu Yeni panjang kali lebar


"ia buk, gak Papa. Kan hari itu ibu sudah ngabarin, itu saja sudah cukup buk, gak perlu seperti ini. "


"ya walau bagaimana pun kamu kan anak ibu, tapi kebelakangan ini kamu sibuk jadi kita jarang kumpul. Eh dengar kabar kamu mau pergi, apa yang ibu bisa buat nak" ucap bu Yeni


"makasih ya buk" memeluk bu Yeni lagi


"ia sama-sama sayang"

__ADS_1


"aku cemburu" Billa ikut memeluk bu Yeni juga


"sudah-sudah, hangus ini nanti panggangannya" usik Pak Yoga yang merasa terabaikan


__ADS_2