
Senja telah menyapa, namun Arya masih enggan membuka matanya melihat bidadari yang selama ini ingin di milikinya.
"Pak, untuk malam ini biar Tiara yang menjaga Arya. Bapak istirahat saja di rumah. Nanti kalau Arya bangun, Tiara kabari bapak" pinta Tiara
"Baiklah, ayah percaya sama kamu. Kalau kamu butuh apa-apa jangan sungkan untuk mengatakannya ya"
"Baik Pak"
"Ya sudah, ayah tinggal dulu ya. Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikum salam warohmatulohi wabarokatuh" meninggalkan ruangan Arya
Suara azan terdengar memenuhi keheningan di dalam ruangan yang saat ini Tiara berada. Tiara bergegas untuk mengambil air wudhu dan memakai mukenah yang menjadi maharnya tadi pagi. Setelah melaksanakan shalat maghrib, Tiara memberanikan diri untuk memberi kabar kepada bu Mala tentang statusnya saat ini. Karena bu Mala sudah seharusnya ia beri tahu sebagai pengganti orang tuanya
"Assalamu'alaikum Tiara, kamu di mana kok tumben belum muncul dari tadi pagi"
"Wa'alaikum salam warohmatulohi wabarokatuh. Maaf ya Bu, baru bisa mengabari ibu sekarang. Bu, Tiara mau ngabarin kalau Tiara sudah menikah"
"Kapan, dimana, kok gak ngabarin ibu? " Tanya Bu Mala sedikit syok
"Tenang Bu, biar Tiara jelasin ya. Ibu kan sudah tau beberapa hari lalu Pak Wijaya menyampaikan maksudnya dan ibu juga ada di situ, jadi tadi pagi Tiara datang ke rumah sakit melihat kondisinya Arya. Dan setelah itu Tiara menerima Arya untuk menjadi pendamping Tiara Bu.Tanpa menunda waktu, Pak Arya langsung melakukan akad di rumah sakit ini Bu. Setelah doa, Arya pingsan dan belum sadar sampai sekarang " Sedikit ter sendu menahan tangisan yang harus menikah dengan keadaan seperti ini tanpa keluarga
"Kamu yang kuat ya Nak, jika memang itu sudah jadi keputusan kamu. Ibu selalu mendukung kamu, dan percaya sama kamu Nak" menguatkan Tiara
"Ia Bu, makasih ya Bu. Mohon doanya selalu buat Tiara agar istiqomah di jalanNya ya Bu"
"Selalu Nak, kamu sudah makan?"
"Alhamdulillah sudah Bu.Tadi sebelum pak Wijaya keluar dari ruangan, Tiara sempat membeli makanan"
"Kamu jaga kesehatan juga ya, biar tetap kuat. Kamu sekarang sudah punya kewajiban yang harus kamu laksanakan dan punya keluarga yang harus kamu jaga"
"Ia Bu, makasih untuk semua pengertian nya ya Bu"
"Ia sama-sama. Ya sudah, kamu istirahat ya. Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikum salam warohmatulohi wabarokatuh"
__ADS_1
"Alhamdulillah, lega rasanya ibu sudah di kabari" Ucap Tiara sendiri
Setelah melaksanakan sholat isya, Tiara memandang wajah Arya yang begitu lemah. Ia melangkah mendekati ranjang di mana Arya terbaring, ia benarkan selimut menutupi tubuh Arya.
"Hari yang menegangkan dan melelahkan" lirih Tiara
Ia pun menarik kursi duduk di dekat Arya dan memutar memory saat pertama kali Arya mendekatinya hingga akhirnya ia menjadi istrinya. Karena kelelahan ia pun tertidur di kursi
*****
Deru suara azan ternyata menyadarkan Arya dari pingsannya yang cukup lama. Ia melihat bidadari nya masih terlelap di dekat ranjangnya dengan duduk. Ia pun memberanikan diri mengambil tangan Tiara dan menggenggamnya dengan penuh rasa cinta. Ketika suara azan hampir selesai Tiara pun terbangun dan...
"Maaf" Terkejut karena ada yang menggenggam tangannya dan langsung menariknya
"Ia gak papa, Terima kasih ya. Sudah mau menjadi bidadari ku"
Tiara hanya mengangguk dan menundukkan kepalanya
"Boleh ya, kali ini aku menjadi imam sholat mu. Agar nantinya, bidadari kayangan pun cemburu kepada ku"
Tiara pun masih tetap dengan anggukannya. Arya dengan kondisinya saat ini ia hanya tayamum dan menguatkan badannya untuk sedikit di angkat di atas ranjangnya, dan Tiara bergegas mengambil air wudhu dan berdiri di samping ranjang Arya sedikit kebelakang.
Setelah tahyat akhir, Tiara merasa lama sekali Arya mengucap salamnya. Namun ia masih tetap menunggu, namun sekitar lima belas menit berlalu akhirnya Tiara menyadari kemungkinan Arya pingsan lagi. Segera ia mengucapkan salam dan mengakhiri shalatnya.
"Arya, bangun. Arya... " Melihat wajah Arya yang memucat dan memegang tangannya yang dingin ia pun segera memanggil suster yang berjaga
"Sus, tolong lihat kondisinya. Tadi dia sempat sadar sebentar, tetapi pingsan lagi. "
"Melihat monitor dengan bergaris lurus, suster segera memanggil dokter yang ada dan memompa detak jantung Arya berulang kali"
"Innalillahi wa Inna ilaihi rojiun, " Ucap dokter tersebut
"Apakah dia sudah tidak ada dok? " Tanya Tiara yang masih belum percaya
"Kita sudah berusaha sebaik mungkin, tetapi Allah lebih sayang kepadanya" Ucap dokter itu
Tiara lansung mengabari pak Wijaya dan keluarga ibu Mala karena hanya merekalah yang tau pasti bagaimana ceritanya.
__ADS_1
Walaupun belum sempat membuka hati untuk mencintainya, namun segala kenangan yang terbayang membuat Tiara merasa kehilangan. Ia harus menjanda walau belum menjalani status istri selama sehari.
"gimana Arya Nak"
tanya pak Wijaya yang telah sampai di rumah sakit
"dia sudah pergi Pak" akhirnya meneteskan air mata
"innalillahi wa Inna ilaihi rojiun" disaat rasa sedih akan kepergian putra satu-satunya, terselip rasa bahagia karena putranya pergi dengan bahagia. Terwujud keinginannya menyempurnakan separuh agamanya, apalagi benar-benar dengan pilihan hatinya
"kamu yang sabar ya Nak, kamu tenangkan diri dulu. Biar ayah yang mengurus segala keperluan untuk mengebumikannya" jelas pak Wijaya
"ia Pak"
tidak begitu lama kemudian bu Mala dan pak Tejo datang menghampiri Tiara
"kamu yang kuat ya Nak, ujian mu bertubi-tubi. Semoga Allah memberikan hadiah yang terbaik buat mu Nak" memeluk erat Tiara dengan menangis
"ia Bu, Tiara gak papa kok. Ayo kita ikuti mobil yang membawa jenazah Arya ke rumahnya"
"baiklah, ayo"
Bergegas mengikuti mobil jenazah ke arah kediaman pak Wijaya. Disambut masyarakat yang akan mengurus jenazah dan pemakamannya dan ibu-ibu berbondong-bondong memenuhi rumah duka memberikan simpati dan bela sungkawa atas meninggalnya putra pak Wijaya satu-satunya.
Walau pun ada beberapa yang memandang Tiara karena berada di dekat jenazah Arya tetapi siapa yang peduli saat seperti ini.
*****
Taburan bunga mengiringi akhir pengurusan jenazah Arya Kusuma bin Wijaya Kusuma. Setelah para pelayat pulang ke rumahnya masing-masing, pak Wijaya pun berbicara kepada Tiara
"kalau kamu tidak keberatan untuk beberapa hari ini, tinggallah di rumah ayah. Walau pun Arya sudah tidak bersama kita lagi, Ayah tetaplah ayahmu selamanya"
"maaf sebelumnya Pak, bukan Tiara tidak mau. Karena pernikahan kami yang tidak di ketahui, pandangan orang sepertinya tidak baik. Kalau masalah bapak adalah ayah Tiara, itu pasti" jelas Tiara
"ya sudah, kalau begitu. Pak, Buk, jangan sungkan untuk datang ke rumah saya kapan saja ya. Terima kasih sudah mewujudkan semua
keinginan putra saya, sehingga akhirnya ia pergi dengan bahagia. Terutama buat Tiara, Terima kasih sudah hadir dalam hidup Arya"
__ADS_1
"sama-sama Pak" jawab pak Tejo dan Tiara
Akhirnya mereka pun pulang ke rumah masing-masing dengan segala perasaan Masing-masing yang tidak dapat di tuliskan dengan kata-kata.