
"Sampai" Memarkirkan kendaraannya
"Resto alam Kak, sepertinya menarik" melihat sekeliling
"Kamu udah pernah ke sini dik" Tanya Yosi
"Belum sih Kak, cuman sering lihat di media sosial. Salah satu resto yang menjadi favorit"
"Baguslah belum pernah kemari"
"Kenapa bagus Kak"
"Artinya Kakak orang pertama yang mengajak mu ke sini"
"Emang seperti itu bagus ya Kak"
"Iyalah"
"Terserah Kakak lah, yang penting Kakak bahagia selalu"
"Gitulah adik yang baik budi"
"Iya Kakak Budi"
"Ayo turun, mau Kakak gendong"
"Belakangan ini Tiara lihat Kakak makin lebay aja, ada apa sih Kak. Apa ada yang konslet"
"Ia, terkena virus dik"
"Wah, bahaya itu Kak. Sebaiknya Tiara harus menjauh, soalnya takut tertular"
"Tidak bisa dik, virusnya itu muncul karena kamu dik"
"Sudah lah Kak, males Tiara "
"Kalah, kalah"
"Yuk kita ke sana"
"Bukannya sudah ada yang duduk Kak"
"Kamu ikut saja dik"
Setelah mereka duduk dan Tiara sedang mengamati seorang wanita di hadapannya
Dor
Pernak pernik berhamburan di area mereka
"Selamat datang kembali Billa"
"Billa, bukannya dia adik Kakak yang"
Tiara tidak menyambung kalimatnya dan masih memahami situasi yang ada sedangkan Billa juga memperhatikan Tiara yang terlihat mirip dengannya. Dua wanita ini saling memperhatikan dan mulai berpikir dengan pikirannya masing-masing.
"Sebenarnya dia di culik sama Alvin dan di sembunyikan, setelah Alvin tertangkap maka Kakak meminta untuk mengusut tuntas kasus Alvin sampai ke akar akar nya"
"Alhamdulillah," Sambil tetap memperhatikan Billa
"Salam kenal" Mengulurkan tangan Billa kepada Tiara dan di sambut hangat
"Selamat kembali ke keluarga mu" Balas Tiara dengan senyuman ramahnya
"Sekarang aku mengerti mengapa Kakak menggantikan aku dengan dia" Menganggukkan kepalanya
"Baguslah kalau kamu mengerti, Kakak tidak perlu menjelaskan lagi kan" Ucap Yosi sambil melihat menu apa yang ingin di pesannya
"Kalian mau pesan apa" Sambil menyerahkan buku menu kepada Tiara
"Aku gak perlu Kak, sepertinya rasa penasaran ku sudah terjawab. Jadi aku pergi dulu ya" Seperti janji mereka tadi pagi, asal sudah bertemu langsung pergi meninggalkan mereka berdua. Yosi ingin mengakhiri hubungannya menjadi kakak adik
"Kan kita belum makan, ayolah kita pesan dulu Billa" Mencoba bersikap ramah padahal ia masih merasa canggung
"Gak papa, santai aja. Aku sudah ada janji sebenarnya dari tadi, kumpul sama sahabat lama. Udah kangen, aku bertahan dari tadi nungguin kalian karena penasaran aja nya, kalau tidak sudah aku tinggal dari tadi" Tersenyum sambil melangkah meninggalkan Tiara dan Yosi
"Hati-hati Bill, pulangnya jangan malam-malam ya" Pesan Yosi
"Siap Kak, by"
"Assalamu'alaikum" Ucap Yosi
"Wa'alaikum salam" balas Billa
"Kok Kakak tidak berusaha menahan nya" Tanya Tiara pada Yosi
"Gak papa dik, dia lagi kangen berat sama sahabatnya itu." Mencoba memahami situasi
"Oh, begitu ya. Jadi sebenarnya yang terjadi tadi pagi, yang buat Kakak langsung menghilang seperti angin karena adik Kakak kembali" Tebak Tiara
__ADS_1
"Betul sekali, awalnya masih seperti tidak nyata. Tapi sekarang sudah sadar kok" Kata Yosi
"Alhamdulillah ya Kak, Allah menjaganya dan mengembalikannya lagi kepada Kakak" Senang melihat kondisi saat ini
"Ia dik, kamu jadinya mau pesan apa. Jangan bahan mie lagi ya, gak baik sering-sering"
"Pasta Kak, minumnya teh pucuk harum" Ucap Tiara
"Itu apa bedanya dik"
"Tenang saja Kak, Tiara gak sering-sering kok. Hanya saja dua hari sekali atau tiga hari sekali" Jelas Tiara tanpa rasa bersalah
"Order" Ucap Yosi
Dengan segera pelayan resto datang
"Kami pesan pasta dua dan minumnya teh pucuk harum ya Kak" Memandang Tiara dengan lirikan usil
"Bukannya tadi Kakak yang duduk di sini tidak berjilbab ya, kok sudah berubah ya"
"Oh, mereka orang yang berbeda"
"Tapi sepertinya sama"
"Memang mereka mirip tapi tidak sama, yang tadi adik saya"
"Kalau yang ini" Tanya pelayan masih penasaran
"Kalau yang ini calon istri" Jawab Yosi santai tanpa memandang Tiara
"Oh begitu, maaf mengganggu. Pesanan akan segera di siapkan, mohon bersabar" Meninggalkan mereka yang masih terlihat membisu
"Dik"
"Ia"
"Boleh Kakak bicara serius"
"Gak usah lah Kak, Tiara gak mau dengar"
"Tega kamu dik, menyiksa Kakak seperi ini"
"Kapan Tiara menyiksa Kakak, Kakak saja yang merasa tersiksa"
"Emang benar sih, Karena perasaan Kakak ini begitu menyiksa Kakak dik. Mohon bantu Kakak terbebas dari belenggu penyiksaan ini dik"
"Jika penawar rindu adalah bertemu dengan yang di rindu, maka penawar rasa ini ketika sudah tersampaikan apa yang membuat rasa ini terbelenggu dan terbebas"
"Tiara belum paham Kak"
"Maukah adik menjadi pendamping hidup Kakak"
"Oh, Kakak mau melamar Kak Chantika. Jadi mau latihan dulu sama Tiara ya Kak" Ucap Tiara dengan tanpa bersalahnya
"Tiara"
"Kenapa Kak"
"Ini pesanannya, silahkan" Iklan sejenak karena pesanan tiba
"Ya sudah, makan dulu. Nanti kita sambung lagi"
"Baiklah Kak, dengan senang hati"
Yosi sudah berusaha sebaik mungkin tapi kok sulit sekali rasanya.
"Kenapa sulit sekali tinggal jujur aja, hem" Lirihnya sebelum memasukkan makanan ke dalam mulut nya
"Apa Kak, Tiara gak dengar"
"Gak apa-apa, makan aja dulu. Nanti Kakak jelasin ya" Mencoba tetap tersenyum padahal perasaannya begitu bergejolak
"Bismillah" Memulai memasukkan makanannya ke dalam mulut
Yosi hanya menarik napas beberapa kali untuk menenangkan perasaannya. Dapat di rasakan bagaimana rasanya ketika kita mengutarakan perasaan kita dengan susah payahnya namun yang menjadi sasaran malah menganggap itu semua hanya sebuah latihan.
Yosi dengan lahapnya menghabiskan makanannya, hal itu sebenarnya pelampiasan perasaannya yang tidak tentu arah.
"Pelan-pelan Kak, nanti tersedak" Sambil menyodorkan sebotol teh pucuk harum
Yosi segera meneguk teh tersebut sampai tersisa sedikit
"Hah, ternyata teh pucuk ini lumayan juga"
"Pastinya Kak"
"Kakak nunggu di sana ya dik, kamu santai aja makannya. Kakak mau menghirup udara segar, entah kenapa di sini terasa sesak" Menunjuk ke sebelah timur resto alam yang menawarkan tempat yang bersahabat dengan alam
"Ia Kak, dulu lah. Nanti Tiara nyusul kalau sudah selesai" Menjauhkan makannya
__ADS_1
Yosi langsung meninggalkan Tiara yang masih menyantap makanannya
"Ya Allah, tenangkan lah hati hamba Mu ini" Doa Yosi menenangkan hatinya
"Saat dulu pertama kali aku menyatakan cinta kepada wanita, perasaan tidak menyiksa seperti ini" Ucap Yosi sendiri
"Apa Kak, perasaan yang menyiksa. iSepertinya Kakak saat ini sedang di mabuk cinta lagi ya, sama siapa Kak. Apa masih wanita yang sama" Tiba tiba-tiba Tiara muncul dari belakang dan mendengar di akhir ucapan Yosi
"Ia dik, sampai membuat Kakak seperti ini"
"Pantesan ke belakangan ini Kakak suka bertingkah aneh" Mencoba mengerti
"Bantu Kakak untuk melepaskan segala rasa ini dik"
"Tentu saja Kak, bagaimana cara Tiara harus membantunya"
"Tolong mengertilah perasaan Kakak yang sebenarnya kepada mu dik"
"Bentar-bentar, Kakak mau belajar dari Tiara cara mengungkapkan perasaan kepada wanita Kakak"
"Ia dik"
"Bagusnya gimana ya"
"Seperti yang pertama tadi sebelum kita makan itu sudah cukup bagus Kak, sekalian melamarnya. Lagian Kakak sebentar lagi selesai Wisuda, pastinya sudah siap untuk membina rumah tangga kan Kak. Jangan pacaran lagi Kak"
"Kakak pun maunya seperti itu dik, dan Kakak punya harapan saat wisuda sudah ada yang mendampingi"
"Alhamdulillah, Kakak ku luar biasa sekarang. Cerita punya cerita siapa wanita yang beruntung itu Kak, boleh Tiara Tau"
"Tapi janji jangan terkejut ya"
"Insya Allah Kak, "
"Sebaiknya Kamu mempersiapkan diri untuk mendengarnya dik, bagaimana siap"
"Siap Kak"
"Maukah kamu menjadi wanitaku dik, mendampingi hari-hari indah kita bersama" Menatap Tiara dengan penuh harap
"Top, bagus sekali Kak. Sekarang Tiara mau tau siapa dia Kak, bukan latihan lagi"
"Kamu dik, "
"Jangan bercanda Kak, tidak lucu"
"Kenapa kamu tidak percaya sih dik"
"Bagaimana mungkin Tiara bisa percaya Kak, bukankah selama ini kita sudah seperti keluarga. Jangan egois Kak, jangan karena perasaan Kakak ini membuat kita berjauhan"
"Maafkan Kakak dik yang mungkin egois, tapi Kakak tidak bisa membohongi perasaan ini terus menerus dik"
"Tiara memang sayang sama Kakak, tapi rasa itu hanya sebatas rasa sayang adik kepada Kakaknya, tidak lebih Kak." Jelas Tiara
"Tapi Kakak benar-benar menyayangi mu dik"
"Ia, Tiara tau Kak. Tapi itu Tiara rasakan rasa sayang seorang Kakak kepada adiknya"
"Maafkan Kakak dik" Menunduk dan pasrah
"Tiara ingin terus kita seperti sebelumnya Kak, jangan rubah itu. Jika Kakak ingin Tiara bahagia, karena semenjak Kakak mengangkat Tiara sebagai adik di keluarga Kakak dan di sambut hangat oleh keluarga Kakak, tiada hal yang lebih bahagia selain itu bagi seorang gadis yang sudah kehilangan keluarganya Kak"
Yosi hanya mengangguk dan merasa bersalah dengan perasaannya
"Maafkan Kakak ya dik"
"Apa karena Billa sudah kembali Kak, jadi Kakak tidak ingin Tiara menjadi adik Kakak lagi"
"Bukan dik, sebenarnya perasaan ini sudah lama bersemayam di hati Kakak, dan Kakak berusaha tetap menjaganya. Karena Kakak tau jika perasaan ini akan membuat kita menjadi tidak nyaman, tapi ketika Billa kembali rasanya tidak salah kalau Kakak ingin membebaskan segala rasa ini"
"Sebenarnya tidak ada yang salah dengan perasaan Kakak, karena kita bukan keluarga kandung tidak menutup kemungkinan rasa itu ada pada akhirnya. Tapi Tiara ingin kita tetap seperti sebelumnya Kak, Tiara mohon" menunduk kan kepalanya
"Baiklah Kakak mengerti, tapi bisa bantu Kakak"
"Bantu apa Kak"
"Untuk sementara kita jaga jarak dulu ya, untuk mengamankan perasaan Kakak ini"
"Baiklah Kak, jika itu mau Kakak"
"Kakak janji, jika rasa ini sudah bisa Kakak jaga. kakak ajak main ke rumah Kakak lagi"
Tiara hanya menganggukkan kepala
"Sudah sore, kita pulang yuk." Sambil melangkah ke kasir


__ADS_1