
Detik waktu terus berjalan tanpa ada yang mampu menghentikan. Gelap dan terang menghiasi perjalananmu waktu yang terus bergulir, di antara indah dunia yang penuh cinta maupun air mata. Persembahkan segala rasa untuk Nya sang Maha sempurna. Di antara beribu mimpi dan berjuta harapan di hati yang menemani langkah perjuangan Tiara, akhirnya selesai sudah untuk sidang skripsinya dan telah mendapat gelar sarjananya dengan predikat cumlaude.
"harus kah aku pergi, biarlah langkah kaki ini menapaki kemana ia ingin melangkah. Lagi pula tidak ada salahnya jika harus pergi, toh di sini hanya berteman kan sepi dan kenangan bersama orang-orang yang aku sayang. saatnya aku terbang meninggalkan semua kenangan yang pernah ada untuk mengejar asa yang ada di hadapan" ucap Tiara menguatkan dirinya berbicara sendiri di taman kampus setelah selesai acara wisuda. memang seperti itulah kebiasaan Tiara jika ia lagi galau hati dan perasaannya, tidak suka bercerita kepada temannya sehingga orang mengira bahwa dia adalah wanita yang tegar dan kuat karena tersenyum selalu. padahal dia tidak jauh beda dengan yang lainnya, hanya saja dia kurang suka berbagi apa yang dia rasakan.
"selamat ya dik" Tiba-tiba Yosi muncul di hadapannya dengan memberikan bunga
Tiara yang tidak percaya hanya terpaku dan melihat yang ada di hadapannya apakah benar kak Yosi
"dik, kamu kenapa? " tanya Yosi yang melihat Tiara terdiam tanpa suara
"oh, kirain Tiara hanya berkhayal melihat Kakak datang" ucap Tiara
"kamu sendirian aja" duduk di bangku taman
"ia Kak, bu Mala tadi sudah pulang duluan. Soalnya pak Tejo ada keperluan mendadak"
"maaf kan Kakak ya, tidak seharusnya Kakak membiarkan mu sendiri seperti ini" melihat Tiara
yang tanpa melihatnya lagi
"gak papa Kak, sudah biasa Tiara seperti ini. terkadang sendiri itu bagi Tiara memiliki kedamaian sendiri" memandang jauh ke depan. ia mencoba tegar, padahal hatinya begitu sedih saat melihat teman-teman nya masih sibuk berfoto dan mengabadikan momen bersejarah bersama keluarga mereka.
"ingin rasanya Kakak memeluk erat tubuh mu dik, kamu hanya ingin terlihat tegar tetapi terlihat di mata mu kamu merindukan seseorang" batin Yosi
"apa rencana kamu kedepannya dik? " tanya Yosi penasaran
"kenapa Kakak kemari, bukannya Kakak ingin menjaga jarak sama Tiara" merasa tidak suka di usik lagi karena dia sudah berusaha terbiasa menjauh dengan susah payahnya
"Kakak tidak bisa jauh dari mu dik" jelas Yosi langsung tanpa basa basi
"tapi Kakak harus bisa, karena Tiara kedepannya akan pergi jauh" ucap Tiara tersenyum kepada Yosi
"kamu kok tega dik"
"bukannya Kakak yang selama ini tega buat Tiara seperti ini"
"kamu marah sama Kakak dik? "
"enggak, untuk apa Tiara marah. gak ada gunanya" tanpa melihat Yosi
"memangnya kamu mau kemana dik? "
"apa itu masih penting bagi Kakak"
"sangat penting dik"
"Tiara dapat beasiswa ke Turki Kak"
"apa, jadi kamu akan pergi ke sana dik"
"sepertinya ia Kak, Tiara ingin terbang mengikuti arah angin yang akan membawa Tiara pergi"
__ADS_1
"sendiri dik"
"emang mau sama siapa lagi Kak. lagi pula tidak ada yang membuat Tiara untuk tetap bertahan di sini"
"butik kamu bagaimana? "
"kan ada sahabat Tiara"
"Kakak bagaimana dik"
"apanya yang bagaimana Kak, bukankah ini salah satu langkah agar Kakak bisa melupakan Tiara"
"Kakak bukan bermaksud untuk melupakan mu dik, Kakak hanya lagi mengobati perasaan Kakak saja. saat ini Kakak sudah bisa mengerti bahwa cinta itu tidak harus memiliki"
"tapi kita sudah tidak bisa lagi seperti dulu Kak"
"maafkan Kakak dik, yang tidak bisa menjaga semuanya sehingga kita jadi seperti ini"
"ya sudahlah Kak, nasi sudah menjadi bubur. Tidak mudah bagi Tiara menjalani semua ini Kak, tapi ya harus di jalani"
"jadi kamu beneran mau pergi dik? "
"ia Kak, insya Allah bulan depan"
setelah mengatakan itu, mereka berdua hanya terdiam membisu. Ada rasa perih yang menyayat hati dan perasaan. Hampir setengah jam mereka berdua diam membisu sehingga di kejutkan oleh Wulan yang datang menghampiri mereka
"hayo, kok pada melamun sih" memegang punggung Tiara dari belakang dengan maksud mengejutkannya karena dari kejauhan hingga dekat hanya melihat mereka terdiam tanpa kata
"kamu Wulan, hampir keluar jantung ku" mengelus dadanya yang terkejut di buat Wulan
Yosi dan Tiara hanya terdiam tanpa menanggapi pertanyaan Wulan
"sebenarnya kalian kenapa sih" ucap Wulan lagi yang jadi semakin heran melihat tingkah mereka berdua
"kamu rencana mau ke mana Wulan? " tanya Yosi kepada Wulan
"papa meminta aku bantu dia di perusahaan cabangnya Kak, ya walau pun tidak sesuai dengan jurusan Wulan. Tapi itu sudah janji Wulan saat dulu aku di izinkan kuliah di sini. papa memberi izin di mana pun kampusnya asal selesai tetap bantu di perusahaan papa"
"oh seperti itu"
"Kakak kenapa kok sepertinya lemes amat ya, pasti kerena Tiara mau pergi ya"
"kok kamu tau"
"ya taulah, sangat tergambar di wajah Kakak. Itulah resiko punya adik pintar Kak"
"ia ya, kamu bisa aja Wulan" Yosi mencoba tersenyum menanggapinya
"ayo dong kita foto dulu, kapan lagi kita bisa seperti ini" ajak Wulan dengan menarik tangan Tiara
dengan mengikut saja saat tangan Tiara di tarik Wulan berdiri dan mengambil tempat berfoto
__ADS_1
"Kak tolong ya" menyerahkan Handphone nya kepada Yosi
"baiklah, siap. satu, dua, tiga" menghitung untuk aba-aba mengambil gambar
Wulan dan Tiara dengan senyuman semanis mungkin saat Yosi menghitung
"sudah" kata Yosi
"gak terasa Kak" ucap Wulan
"mau terasa, biar pakai ini Kakak buat" membentuk gaya melempar Handphone yang ada di tangannya
"boleh juga Kak, kalau tega" ucap Wulan
"sayang lah" jawab Yosi
"apanya,"
"ya orangnya lah, masak HPnya"
"HPnya juga sayang lah Kak, Kakak ini" sambil mengambil HP dari genggaman Yosi
"gantian ya" sambil menyerahkan HP milik Yosi juga
"Kakak gak mau kalah ya"
"ya iyalah, memangnya kamu aja yang mau berfoto bersama mahasiswa terbaik ini" sambil ambil posisi di sebelah Tiara
"ok, bayar ya. senyum ya, satu, dua, lima" mengambil foto mereka berdua
"lihat-lihat, bagus gak" Yosi langsung mengambil HPnya dari tangan Wulan yang masih ingin melihat hasilnya
"baguslah Kak, siapa dulu fotografer nya" melepaskan HPnya yang sudah di rebut oleh Yosi
"lumayan, ini bagus bukan karena fotografer nya tapi karena yang di foto. Menurut kamu gimana Ra" menunjukkan hasilnya kepada Tiara
"biasa aja tuh, " ucap Tiara datar. Suasana hatinya mendung dan masih ingin sendiri
"bagaimana kalau Kakak traktir kalian makan sebagai perayaan kesuksesan kalian"
"boleh juga tuh Kak, kapan lagi kita bisa kumpul. Apalagi dengan Tiara yang akan terbang jauh"
"gimana Ra? " tanya Yosi kepada Tiara yang hanya diam saja
"ia, terserah lah. aku ikut aja" mencoba mengikuti mau sahabatnya
"kamu baik-baik aja kan Ra" Wulan menyadari sikap Tiara yang terlihat tidak seperti biasanya
"ayo naik mobil Kakak aja Ya, nanti kendaraan Tiara Kakak ambil" mencoba membuat Tiara senang
Mereka bertiga melangkah bersama menuju ke mobil Yosi yang tidak jauh dari taman kampus. setelah sampai di parkiran, mereka pun menaiki kendaraannya. Yosi melajukan kendaraannya menuju resto alam yang pernah ia dan Tiara kunjungi berdua.
__ADS_1
"wah, pintar sekali Kakak mencari tempat nya" Wulan kagum melihat resto alam yang ada di hadapannya
Yosi sengaja membawa mereka ke tempat ini untuk membuat bahagia Tiara