
"Ra, kita ngerjain tugas kelompok makalah Filsafatnya menurut kamu dimana? " Tanya Arya saat mereka keluar kelas setelah dosen sastra menyelesaikan jam pertemuannya
"Terserah, asalkan tidak malam hari dan hari minggu" Jawab Tiara
Saat mereka berdiskusi, kak Yosi datang dari arah berlawanan
"Ra, nanti sore Ke rumah ya. Kakak jemput, ibu kangen. Dia nagih janjimu" Ucap Yosi santai
"Iya Kak, kami ke kantin dulu ya Kak. Laper Kak, belum sarapan. " Sambil melangkah
"Iya Lanjut, Kakak pun ada kelas ini. Tadinya mau jumpai kamu, tapi sudah keburu ketemu disini, sekalian aja" Dengan senyum manisnya yang membuat siapa yang melihatnya terpana
Mereka pun melanjutkan langkah
"Kamu akrab ya sama kak Yosi Ra? " Kata Arya
"Iya, emangnya kenapa? " Tanya Tiara
"Dia itu terkenal garang Ra"
"Kamu tau dari mana? "
"Kami kan ngadain rapat anggota BEM, dia di segani. Gak ada yang berani bercanda sama dia Ra"
"Di segani bukan berarti dia garang Ya," Kata Wulan yang nimbrung pembicaraan mereka
"Betul tu Ya, sama aku bahkan suka bercanda. Kita gak bisa menilai orang dari hanya melihatnya sekolah aja Ya, " Jelas Tiara
"Jadi menurut kamu, dia lebih baik dari aku Ra? " Tanya Arya
"Kenapa jadi bertanya begitu" Wulan menengahi
"Tiara terlihat dekat sama kak Yosi, bahkan dengan keluarga nya" Ucap Arya
"Biasa aja" Jawab Tiara santai
"Kalau begitu mengerjakan tugas kelompok kita di rumahku aja, biar aku kenalin ke ayah" Melihat reaksi Tiara
"Ok, tidak masalah. Lagian fasilitas di rumahmu juga mendukung, jadi kita gak terlalu repot ngeprint keluar lagi" Kata Tiara
"Jadi kapan, minggu depan kita udah persentase? " Tanya Arya yang seakan peduli dengan tugas-tugasnya
"Sore ini gimana" Jawab Wulan yang satu kelompok dengan mereka
Karena Arya Kosma, mudah baginya menyusun kelompok dengan orang yang di inginkannya. Karena harus bertiga, akhirnya dia memilih Wulan kerena begitu dekat dengan Tiara sehingga membuat Tiara tidak akan menolak.
"Kalau besok sore gimana, boleh ya. Soalnya hari ini aku punya janji" Kata Tiara
"Baiklah, aku tidak masalah" Ucap Wulan
"Yaudah kalau begitu, jangan lupa ya" Tambah Arya mengingatkan lagi
Langkah kaki merekapun akhirnya tiba di kantin yang menjadi tujuan mereka.
__ADS_1
*****
"Bu, Tiara pamit sekarang ya? " Sembari mencium punggung tangan Bu Mala
"Hati-hati di jalan" Balas Bu Mala
"Buk, pinjam Tiaranya sebentar ya. Ibu kangen katanya, dah lama gak main ke rumah" Berpamitan membawa Tiara
"Ra, " Tiba-tiba Yosi memanggil sambil mengendarai motor nya
"Kak Chantika memutuskan Kakak, "
"Kok bisa Kak"
"Dia cemburu dan katanya kakak mengkhianati nya. Soalnya kebelakangan ini, semenjak kakak ketemu sama kamu, kami jarang bertemu sehingga menambah kecurigaannya"
"Ya udahlah Kak, jangan sedih gitu. Itu namanya gak jodoh, gak usah pacaran lagi Kak. Nanti Kakak kalau sudah siap mau menikah baru cari pasangan yang tepat, kenalan atau ta'arufan, kalau suka langsung dech nikah" Jelas Tiara
"Hmmm, jadi gitu ya Ra. Emang kamu gitu? " Tanya Yosi
"Iya Kak, walau pun gak mudah ya Kak. Tapi mencoba untuk bisa" Menyemangati dirinya
"Baiklah, kakak coba saran dari adik kakak tersayang"
"Gak usah gitu juga kali Kak ngomongnya"
"Biarin aja"
Mereka pun tiba di rumah Yosi yang terlihat ramai. Ada yang merapikan ruangan, ada juga yang sibuk mengolah hidangan.
"Iya, nanti malam ada pengajian di rumah Ra. "
"Kok gak bilang dari awal sih Kak. "
"Kenapa harus bilang"
Tiara segan, lihat tatapan orang kayak mau menerkam Tiara Kak"
"Udah tenang aja, kita langsung ke ibu ya"
Mereka pun terus berjalan melewati ruang tamu dan naik ke lantai dua
"Assalamu'alaikum Bu" Ucap Yosi saat memasuki ruang keuarga di lantai dua
"Wa'alaikumsalam, " Jawab Buk Yeni dan juga Pak yoga yang juga ada di sana
"Udah nyampe Tiaranya, sini Nak duduk" Sambil menarik tangan Tiara agar duduk di samping Buk Yeni
"Ibu, kalau udah ada Tiara. Abang gak dianggap" Canda Yosi yang melihat tingkah ibunya
"Kamu kan sering ibu lihat, kalau Tiara kan jarang" Bela ibu Yeni
"Ya udah kita bawa aja Tiaranya tinggal di sini Bu" Ucap Yosi tanpa berpikir panjang
__ADS_1
"Ibu sih mau, tapi gimana Tiaranya" Menatap Tiara yang terdiam saja. Maklum dia belum terbiasa di perlakukan manja seperti saat ini
"Tiara sih seneng, tapi bagaimana pun pandangan orang dan agama kita tidak baik, " Jawab tiara pelan
"Betul itu" Jawab Pak Yoga menambahi
"Tapikan Tiara udah jadi anak angkat Ibu dan ayah" Jelas Yosi
"Tapi anak angkat itu tidak merubah statusmu menjadi hubungan yang halal untuk bersama" Jelas Pak Trisno lagi
"Iya, tadi aja orang pada liatin Tiara. " Ucap Tiara angkat suara
"Ya udah, nanti malam kan ada pengajian. Biar Ayah umumkan kalau kita sekalian mengangkat anak, biar tidak timbul fitnah" Kata Pak Yoga
"Bagus juga ide itu Yah" Ucap Yosi semangat
*****
Para jama'ah pengajian telah berkumpul, biasanya sebelum memulai pengajian di buka dengan pembacaan kalam ilahi dari tuan rumah
"Assalamu'alaikum warohmatulhi wabarakatuh" Ucap Pak Yoga membuka pengajian selaku tuan rumah
"Wa'alaikumsalam salam warohmatulohi wabarokatuh" Jawab jama'ah
"Baiklah seperti biasa, sebelum memulai acara. Disini saya ingin mengumumkan bahwa kami telah mengangkat anak yang bernama Mutiara Intan Permata, seperti yang bapak ibuk lihat sendiri, dia juga memiliki wajah yang begitu mirip dengan almarhumah anak saya. Mungkin hal ini cukup menjawab segala pertanyaan yang ada di benak bapak ibu sekalian.
Disini, kami minta juga kepada anak kami Tiara. Perwakilan dari tuan rumah untuk melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Kepadanya kami persilahkan"
Jelas Pak Yoga
Tiara pun tanpa ragu, hanya sedikit gugup karena banyak pasangan mata yang menatapnya. Akhirnya ia membuka kalam ilahi dan membacanya dengan begitu merdu. Suaranya mampu menyihir pendengarnya menjadi terpaku dan terlena. Keluarga Pak Yoga pun tidak menyangka Tiara memiliki kemampuan yang luar biasa, mereka semakin mengagumi dan menyayangi nya.
terbesit di hati Pak Yoga tidak hanya sekedar menjadikan Tiara anak angkatnya tetapi menginginkannya menjadi pasangan Yosi. namun semua ia pasrahkan kepada penentu jodoh dan takdir hidup.
Hadirnya Tiara membawa suasana baru dan mampu mengobati kerinduan kepada Bella. putri bungsu Pak Yoga yang telah tiada.
*****
"sepertinya perjodohan anak kita bisa tetap berlanjut ya Pak" ucap Pak Broto sahabat Pak Yoga.
Bella dan Alvin telah di jodohkan sejak kecil agar persahabatan kedua keluarga semakin erat. Namun Bella tidak terlalu menghiraukan nya dan masih mau berpacaran dengan yang lain.
"maaf sebelumnya To, kalau hal ini harus kita tanyakan sama Tiara. Gak adil rasanya jika saya mengambil seluruh kehidupannya, mengertilah To"
menepuk punggung Broto
tanpa ada yang menyadari Alvin selalu memperhatikan Tiara yang begitu mengusik hatinya
"Pa, gimana perjodohan Alvin sama putri Pak Yoga. berlanjutkan? " tanya Alvin saat sudah berada di mobil mereka
"kata Pak Yoga, itu tergantung kepada Tiaranya. Pak Yoga tidak berhak menentukan semua kehidupan Tiara" jawab Pak Broto
"hmmm, jadi Alvin harus berusaha sendiri nich. gimana cara dapetin Tiara" ucap Alvin
__ADS_1
"terserah kamu Vin, asal cara yang bener aja ya". mengingatkan Alvin