PERAWAN CINTA

PERAWAN CINTA
kepulangan Billa


__ADS_3

"Kakak" Langsung berlari memeluk Yosi ketika melihatnya memasuki rumah mereka


Yosi yang hanya terpaku dan terdiam, ia masih tidak percaya dan menganggap ini semua sebuah mimpi


"Kak, apa tidak kangen sama aku" Menggoyang tubuh Yosi yang tidak merespon Billa


"Apakah kakak tidak mimpi" Mencubit pipi Billa


"Kalau mau tau mimpi atau tidak Kakak, kenapa pipi Billa yang di cubit" aneh melihat kakaknya


"Oh iya, " Mencubit tangannya sendiri


"Kemana saja kamu selama ini, kalau kesel sama Kakak gak gitu caranya" Menatap Billa dengan sok garang


"Kakak" Mulai menangis lagi


"Kenapa Bill, " Jadi bingung


"Sudah, sudah. Kita duduk di sofa sini" Ajak Buk Yeni


"Kamu kenapa Bill" Tanya Yosi lagi


Billa menceritakan semua yang di alaminya dan rasa ketakutannya begitu tergambar di raut wajahnya


"Sini" Memeluk erat Billa


"Sekarang kamu tidak perlu khawatir lagi, Alvin sudah tertangkap. Dan Kakak usahakan di sidang nanti dia di hukum seumur hidupnya" Menenangkan Billa


Bug


Billa tiba-tiba memukul dada Yosi dengan manjanya


"Tapi kenapa Kakak cari pengganti aku, apa begitu inginnya Kakak aku tiada"


"Kamu tau dari mana" Tanya Yosi heran


"Adalah" Billa tidak ingin memberi tahu


"Pasti dari Alvin kan, dari siapa lagi" Tebak Yosi


"Panjang ceritanya Bill, nanti kalau kamu sudah tenang Kakak cerita ya" Merayu Billa


"Dasar" Tetap tidak Terima


"Satu yang harus kamu tau Bill, dia juga hampir mengalami hal yang kamu alami. Karena Kakak mencurigai Alvin, jadi Kakak ikuti setiap pergerakan nya melalui Tiara. Hingga terbongkar semuanya Bill, jadi jangan marah ya" Jelas Yosi


"Hebat Kakak ya" Puji Billa


"Kakak siapa dulu, eh ngomong-ngomong kamu gak kenapa-kenapa kan Bill" Tanya Yosi baru menyadari kondisi adiknya saat ini


"Enggak Kak, adik siapa dulu" Puji Billa untuk dirinya sendiri


"Alhamdulillah, kalau begitu. Berarti doa Kakak di kabulkan oleh Allah" Ucap Yosi


"Emang Kakak berdoa untuk Billa" Tanya Billa yang terharu


"Ia, di saat orang mengirimkan doa untuk arwah mu. Karena kamu di kira sudah tidak ada, tapi Kakak yakin kamu masih hidup. Jadi Kakak selalu berdoa semoga Allah selalu menjaga kamu di mana pun kamu berada" Jelas Yosi


"Wah, Kakak sudah berubah ya" Puji Billa lagi


"Kamu tau Billa, Kakak mu banyak berubah karena siapa? " Tanya Buk Yeni menyambung pembicaraan mereka


"Karena Kak Chantika ya ma" Tebak Billa


"Kamu mau tau ya" Membuat Billa penasaran


"Ia lah Kak, Kakak ku yang keras kepala tapi baik hati ini sih bisa berubah lebih baik" Kata Billa


"Mau tau kali atau mau tau banget Bill" Canda Yosi


"Kakak, aku serius ni" Memukul kakaknya dengan bantal kursi yang sedang ia pegang


"Ya sudah, jangan terlalu penasaran nanti kecewa lo" Ucap Yosi yang merindukan kemanjaan adiknya yang satu ini

__ADS_1


"Hem, kita gak kawan Kak" Membelakangi Yosi


"Ia, ia Kakak kasih tau. Nanti kalau dia punya waktu luang, Kakak kabari kamu ya. Soalnya saat ini dia lumayan sibuk" Jelas Yosi


"Janji" Ucap Billa


"Janji" Menyambungkan jari kelingking mereka bersama


Tut tut tut


HP Yosi berdering adanya panggilan masuk


"ni dia, panjang umur" Tiara menghubungi Tiara lagi setelah dia tiba di rumahnya


"Assalamu'alaikum warohmatulohi wabarokatuh" Ucap Tiara di seberang sana


"Waalaikum salam warohmatulohi wabarokatuh" Jawab Yosi tidak kalah lengkapnya


"Pasti ini ni, yang buat Kakak jadi beda. Dari gaya ngucapin salamnya aja Billa baru dengar kali ini semenjak Billa jadi adiknya" Tebak Billa yang mencoba menguping namun di non speaker kan oleh Yosi


"Kak, Tiara ke rumah Ya. Sekarang" Masih dengan nada khawatir


"Gak perlu dik, nanti Kakak jemput ke rumah ya. Ada kejutan buat kamu, tunggu aja di rumah ya" Jelas Yosi


Karena mendengar suara Yosi yang terdengar bahagia, Tiara pun lega


"Baik lah Kak, Tiara Tutup ya Kak. Sudah azan"


"Ia dik, assalamu'alaikum" Ucap Yosi


"Wa'alaikum salam warohmatulohi wabarokatuh"


"Adik, sejak kapan kata itu ada Kak. Membuatku semakin cemburu aja Kak" Semakin heran melihat Kakaknya


"Tidak itu saja Bill, bahkan Kakak mu rela melepaskan Kak Chantika " Tambah buk Yeni


"Mama, tidak ada kaitannya sama dia. Yosi memang sudah males dengan dia" Bela Yosi


"Bukannya Kakak dulu akan melakukan apa saja buat dia"


"Luar biasa, jadi semakin penasaran Billa sama dia. Ayo Kak kita pergi, bukannya Kakak tadi mau menjemputnya


" Tunggu dulu, kita buat kejutan buat dia"


"Kakak, gak ada pun buat kejutan buat Billa"


"Ini sekalian buat kamu"


"Benar Kak, ya sudah kalau begitu apa rencana Kakak" Antusias Billa


Yosi belum ada menceritakan bahwa mereka begitu mirip dan menjelaskan apa yang harus di lakukan Billa nantinya


"Sekarang kamu istirahat dulu, Kakak masih ada perlu. Nanti setelah Asar kita berangkat" Pinta Yosi kepada Billa


"Baiklah Kak, Billa istirahat ya" Melangkah ke kamarnya bersama bu Yeni sedangkan Yosi langsung menghubungi seseorang dan langsung memerintahkan untuk menyiapkan sesuatu. Ia merasa saat ini adalah saat yang tepat ia mengungkapkan kegelisahan hatinya karena tidak ada alasan lagi dia menjadi adiknya


*****


"Assalamu'alaikum, Tiara" Ucap Yosi sambil mengetuk pintu rumah Tiara


"Waalaikum salam warohmatulohi wabarokatuh, ia sebentar Kak. Jawab Tiara dari dalam rumahnya


" Kok gak kasih kabar kalau datangnya sekarang" Saat membuka pintu


"Sekali-kali mau lihat kamu apa adanya"


"Ada aja Kak Yosi, maaf ya Kak. Gak boleh masuk, "


"Ia, Kakak tau. Kapan ya boleh masuk" Goda Yosi


"Biar cepat, Tiara bersiap sebentar ya Kak. Nanti Kakak pegal nungguin nya" merasa tidak enak


"Ia, Kakak duduk di sana ya. " Menunjuk halaman rumah Tiara yang ada pohon rimbun dan ada tempat duduk santai

__ADS_1


"Silahkan Kak" Sambil bergegas pergi meninggalkan Yosi dan langsung menyambar handuk untuk mandi


"Aku tidak suka menunggu, tapi juga tidak mau di tunggu" Lirih Tiara langsung memasuki kamar mandinya


Tanpa perlu waktu yang lama Tiara selesai dan segera keluar rumah. Ia tidak ingin Kak Yosi menunggu lama dan ia tau betul bagaimana rasanya menunggu itu


"Kamu sudah selesai dik, cepat sekali. "


Melihat Tiara yang sudah datang menuju ke arahnya


"Emangnya kita mau kemana, kan cuma mau cerita aja. Sebenarnya Tiara tadinya males mau mandi, tapi takut ada yg pingsan pula nanti" Canda Tiara


"Kakak kan mau kasih kejutan tadi bilangnya" Cemberut yang melihat Tiara santai


"Di sini aja lah Kak ceritanya, Tiara udah penasaran apa yang terjadi sebenarnya" Dengan ekspresi ingin tau


"Kakak ingin membuat mu merasakan apa yang Kakak rasakan kemarin saat kamu buat Kakak penasaran" Jelas Yosi


"Kakak pendendam ya" Ucap Tiara


"Ia dik, jadi jangan sekali-kali kamu mempermainkan Kakak" Aktingnya


"Gak lucu Kak, ya sudah. Di taman aja kita sambil jalan-jalan"


"Gak mau" Menggelengkan kepalanya


"Jadi maunya gimana Kak,"


"Ayo ikut Kakak kemana pun Kakak pergi" Bergaya pangeran yang ingin membawa tuan putrinya pergi


"Kenapa Tiara lihat, tingkah Kakak semakin aneh ya"


"Nanti kamu akan tau kenapa Kakak seperti ini, ini semua karena Kamu" Menegaskan di akhir kalimatnya


"Terserah Kakak lah, asal Kakak bahagia Tiara ikut. Tapi Tiara mau pamit sebentar sama ibu


" Baiklah tuan putri, " Mempersilahkan Tiara berlalu tanpa menghiraukan tingkah Yosi yang merasa seperti dulu perlakuan almarhum Arya kepadanya


"Apa Kak Yosi akan pergi juga seperti Arya, astaghfirullah. Apa sih yang aku pikirkan" Ucapnya lirih saat menuju rumah Buk Mala


"Assalamu'alaikum warohmatulohi wabarokatuh Buk" Ucap Mala yang melihat rumah Buk Mala sepi


"Waalaikum salam Ra, masuk. Ibu lagi masak di dapur" Jawab bu Mala dari dapur


"Ibu masak apa, wangi sekali" Puji Tiara yang mencium aroma menggugah selera dari dapur bu Mala


"Ini, bapak mu minta di buatin rendang jengkol. Kamu mau Ra" Tanya bu Mala menawarkan Tiara


"Mau Buk, tapi nanti ya Buk. Tiara sudah di tunggu dari tadi sama Kak Yosi, Tiara mau izin keluar sebentar ya Buk"


"Ia, jangan malam-malam ya. Kenapa Kak Yosi nya gak kemari, tumben"


"Emang agak aneh kelihatannya buk sekarang"


"Kamu hati-hati Ra"


"Kenapa Buk, emang dia punya niat jahat sama Tiara. Bukannya Tiara ini adiknya,"


"Bukan seperti itu maksud ibu, mungkin dia punya rasa sama kamu"


"Gak mungkinlah Buk, kita kan Kakak adik"


"Ibu kasih tau ya Ra, kakak adik yang tanpa ada hubungan darah itu bisa saja berbuah perasaan ingin memiliki mu"


"Sudah ibu ah, berpikiran terlalu jauh. Tiara pamit ya Buk, kasih Kak Yosi sudah menunggu dari tadi" Mencium punggung tangan Buk Mala


"Tidak akan merasa lama jika yang di tunggu adalah bidadari nya Ra" Goda bu Mala lagi. Bu mala mengantar Tiara sampai ke depan pintu rumahnya dan melihat Yosi sudah ada di depan pintu dan langsung menyambut tangan Bu Mala untuk berpamitan


"Pinjam Tiara nya sebentar ya Buk"


"Pulangkan jangan sampai lecet ya Yosi" Canda bu Mala


"Siap Buk" Sambil berjalan menuju mobil yang di gunakan Yosi

__ADS_1


"Sangat terlihat dia begitu mencintainya, apa kamu tidak melihat itu Tiara" Lirih bu Mala sambil meninggalkan mereka dan kembali ke dapur melihat masakannya


__ADS_2