
Detik waktu berdetak, terasa seperti sebuah mimpi dan telah terbangun. Sebuah peristiwa besar telah terjadi namun tiada yang menyadari, jadi seperti tidak terjadi sesuatu apa pun. Tiara pun pergi ke kampus seperti biasa dan menjalani hari-harinya seperti sedia kala.
"Ra, kamu pasti sudah tahu kalau Arya sudah meninggalkan? " tanya Wulan mendekati Tiara yang duduk di taman kampus karena dosen mereka belum memunculkan batang hidungnya
"Ia, kalian juga sudah pada tahu kan" Jawab Tiara
"Ia sih Ra, tapi belum percaya gitu Ra"
"begitulah kematian menjemput kita Wulan, tanpa pengumuman dan penawaran. Jika sudah waktunya yang sudah tertulis dalam ketentuannya maka tidak dapat di undur atau pun di majukan barang sedetik pun"
"Betul itu Ra, aku jadi kepikiran gimana nanti nya aku ya"
"Ya, kita persiapkan diri kita dari sekarang tanpa menunda hal kebaikan yang dapat kita lakukan"
"InsyaAllah, ajak-ajak ya Ra. "
"Kemana? " tanya Wulan
"Ke rumahnya pak kebaikan, kamu kan senengnya main ke sana"
"Ok, kita pergi sama-sama ya"
"Ayo" dengan tersenyum
"Bentar-bentar, muka kamu kok seperti sembab Ra. Apa terjadi sesuatu, ya Allah. Gimana sih aku ya, kok gak bertanya gimana jadinya hubunganmu itu dengan Arya Ra"
"menurut mu"
"ya aku gak kebayang. Apa mungkin kamu tidak menerimanya, jadi dia memilih untuk pergi Ra"
"Hus, kamu itu kalau ngomong ngawur aja."
"Aku gak ngawur Ra, itu bisa saja terjadi kan"
"Malah yang terjadi sebaliknya Wulan"
"Apa" Menguatkan suaranya sehingga beberapa orang yang ada di sekitar taman menoleh mereka
"Pelan kan suaramu, apa kamu mau jadi pusat perhatian"
"Maaf, aku belum mengerti Ra. Coba jelaskan sejelas-jelasnya biar aku paham Ra"
"Iya, aku sempat menerimanya sebelum dia pergi"
"Menerimanya seperti apa, yang jelas dong" penasaran abis
Tiara masih sulit menjelaskan kepada Wulan sehingga Wulan terus kepo
__ADS_1
"Menerima nya sebagai pacar, tunangan atau suami Ra. Tapi gak mungkin kamu menerimanya sebagai pacar kamu, bukannya kamu gak mau pacaran. Sebagai apa Ra, ayo dong jelasin Ra"
"Sabar lo Wulan, kok kamu yang panik ya"
"Kamu itu kok bisanya tenang aja"
"Aku bukan tenang Wulan, hanya saja aku masih seperti mimpi atau benar-benar nyata atas apa yang telah terjadi dalam hidupku. Setelah aku membuat keputusan besar dan langsung sirna sesuatu itu dariku, "
"Keputusan apa jadinya Ra"
"Kami sempat menikah sehari sebelum dia pergi Wulan"
"Ya Allah Ra, kamu kok ngabarin aku"
"Maaf Wulan. jangan kan kamu, bu Mala saja tidak sempat aku kabari. Semua terjadi begitu mendadak dan tidak bisa di tunda Ra, saat melihat kondisi Arya saat itu. Aku pun ikut saja yang di persiapkan pak Wijaya. setelah kami sah menikah dia pun langsung pingsan dan hanya sekali tersadar. Saat dia sadar, dia mengajak aku sholat berjamaah. Namun sebelum salam dia pergi Wulan, " Tanpa di sadari Tiara pun meneteskan air matanya terbayang kembali sebuah kejadian yang seolah mimpi itu
"Kamu yang kuat ya Ra, maaf aku tidak di sampingmu" memeluk Tiara erat dan ikut menangis. Untungnya suasana taman sepi karena para mahasiswa sedang berada di kelas karena jam pelajaran.
"Aku mohon, jangan beri tahu siapa pun ya Wulan. Kamu tau kan kampus kita ini sangat jarang ada mahasiswanya yang menikah sebelum selesai."
"Ia Ra, kamu kenapa sudah berada di kampus Ra, harusnya kamu di rumah dulu Ra"
"Aku males di rumah sendirian, malah kepikiran Wulan"
"Iya juga sih Ra, jadi keluarga pak Wijaya kamu sembunyikan statusmu dari orang lain Ra? "
"Syukurlah kalau begitu"
Setelah mereka menghilangkan bekas air mata yang mengalir tadi, mereka pun ke kelas.
"Sepertinya kita sudah masuk Wulan"
"Iya Ra, lihat teman-teman kita tidak ada yang di luar kelas"
"Ayo" menuju ke kelas mereka
"Kalian kemana saja sih, ini ada tugas dari buk Winda. Satu jam lagi harus selesai, dan kita tadi sudah iuran untuk tambahan mengunjungi rumah almarhum Arya"
"maaf Rik, mana tugasnya" menahan Wulan yang ingin menjawab pertanyaan Riko yang menurutnya menjengkelkan
"Itu, di papan tulis. Cepat ya, waktunya tinggal setengah jam lagi"
Mereka pun segera mengerjakan tugas yang telah tertulis di papan tulis, tanpa sampai waktu yang di tentukan Tiara pun telah selesai. Walau pun saat ini suasana hatinya masih berduka, namun pikirannya masih smart.
*****
Akhirnya selesai juga dua mata kuliah hari ini. Jurusan pendidikan dan sastra berkumpul dan mereka tidak pulang ke rumah mereka masing-masing, mereka berkumpul dan ingin mengunjungi kediaman pak Wijaya
__ADS_1
"Ayo, kalian angsur dulu. Saya dari belakang"
Saat Tiara mulai menghidupkan kendaraannya, Yosi pun menghampiri
"Ra, kamu mau kemana. Main ke rumah Kakak yuk"
"Maaf Kak, kami mau melayat ke rumah Pak Wijaya"
"Sekarang"
"Ia Kak"
"Tiara, cepetan dong. Tinggal kamu saja yang mau di tunggu dari tadi" Ucap Riko yang ternyata menunggu mereka
"Kamu itu kenapa sih Rik, dari tadi seperti tidak senang aja sama Tiara"
"Abisnya karena dia Arya pergi" jujur Riko tentang persangkaannya
"Kok bisa kerena Tiara pula"
"Sok jual mahal, pasti dia pergi karena kesal sama kamu"
"Kamu itu abah ya Rik, jelas-jelas Arya itu sakit. Bahkan kita sempat menjenguknya, kok bisa-bisa nya sekarang kamu menyalahkan Tiara" Jelas Wulan
"Dia itu kan cinta mati sama Tiara, kamu lihat Arya tiba-tiba saja sakit. Bisa jadikan kamu tolak dia dengan cara gimana yang membuatnya sakit"
"Astaghfirullah Rik, istighfar kamu Rik. Kamu tau apa tentang Tiara" Ucap Wulan lagi
"Sudah lah, ayo kita jalan. Nanti kita terlambat lagi" Berlalu tanpa menghiraukan ucapan Riko
Sementara Yosi yang berada di situ seakan mulai mengerti apa yang telah terjadi namun tidak pasti apa yang sedang di alami Tiara, akhirnya ia pun memutuskan untuk mengikuti Tiara melayat ke rumah Arya. Entah mengapa ada rasa yang terusik di dalam relung hatinya
"kamu yang sabar ya Ra, kok bisa-bisa Riko berfikir seperti itu"
"ya pikiran orang Wulan, semaunya ajalah. Biarin aja, aku gak papa Kok" sambil berjalan menuju kendaraan mereka
"kamu tau gak Ra, sebenarnya Arya pernah ada yang naksir dari kelas sebelah. Gila, ceweknya cantik. Tapi di tolaknya dengan bilang kalau dia udah punya kamu"
"kok aku gak pernah tau Ya"
"kamu kan dari dulu cuek Ra, sepertinya semenjak saat itu kamu di kira punya nya Arya"
"kadang dia itu nyebelin sih, tapi kalau sudah pergi seperti ini baru merasa kehilangan ya Wulan"
"kita baru tau kalau orang itu ternyata berarti kalau dia sudah pergi ya Ra"
Sesampainya di kediaman pak Wijaya, mereka duduk dan mendengarkan sepatah dua kata dari Riko kepada pak Wijaya sebagai rasa bela sungkawa kami selalu temannya Arya selama ini
__ADS_1