
Daun daun berguguran memasrahkan diri untuk terjatuh ke bumi. Adakah yang mampu melawan takdir dari sang Maha Kuasa. Bahkan daun yang jatuh pun sudah ada ketetapan dariNya. Begitulah hidup, Allah adalah sutradara perfilman di dunia ini yang sangat luar biasa merancang hidup setiap kehidupan yang ada dengan begitu indahnya. Jika kita memikirkannya kita akan takjub akan keagungan Nya dalam menata setiap episode kehidupan kita, akan ada bagian manis dan pahit setiap kehidupan yang akan membuat hidup kita lebih berwarna. Yakinlah setelah musim gugur ini akan ada musim semi yang begitu indah, adakah hal yang engkau ragukan tentang Nya.
Langkah gadis kecil, tentu saja dia terlihat kecil di negara ini. Membuat beberapa pasang mata gemas melihatnya, dia seperti boneka yang ingin di remas. Namun karena dia sudah menguasai beberapa kosa kata percakapan maka hal ini menjadi uji cobanya.
"Merhaba" Sapa Tiara dengan senyuman khasnya
"Merhaba" Balas orang yang di sapanya
Tiara terus melangkahkan kakinya hingga sampai ke kampusnya dan di sana pak Ahmad dan rombongan mahasiswa lain yang dari Indonesia sudah berkumpul dan mendapatkan arahan dari pak Ahmad dengan antusias. Setelah mereka mendapatkan arahan dari pak Ahmad mereka pun masuk ke ruangan yang akan berlangsungnya kuliah umum di Universitas Istanbul ini.
Detik waktu terus berlalu meninggalkan hari-hari yang kita jalani. Setelah Tiara mengikuti kuliah umum, Tiara pun berniat untuk istirahat sejenak di street cafe sambil menikmati hiruk pikuk kehidupan di sini.
Saat ia melangkah keluar kampus ia berpapasan dengan Lutfi
"Assalamu'alaikum ustadz" Ucap Tiara yang melihat wajah Lutfi sedikit sedih
"Wa'alaikum salam, eh Tiara. Udah mulai ya perkuliahannya? " Tanya Lutfi mencoba tersenyum
"Masih kuliah umum aja ustadz, ustadz sibuk ya? " Tanya Tiara balik
"Enggak sih, hanya ada urusan yang gak penting aja ke sini" Dengan nada sedikit kesal
Bagaimana tidak kesal, seharusnya ia bisa ikut sidang, menjadi batal akibat ada mata kuliah yang tidak lulus. Kerinduan yang selama ini ia pendam harus ia bendung lagi.
"Kalau tidak sibuk, Tiara mau traktir ustadz minum teh di sekitar sini." Mencoba menghibur Lutfi yang terlihat sedih
"Baiklah, dengan senang hati. Lagi pula urusannya bisa di tunda, lebih baik menikmati hidup ini" Mencoba menguatkan dirinya
Mereka pun berjalan di pinggiran kampus dan mencari street cafe yang enak untuk di singgahi.
"Di sana aja ustadz, sepertinya menarik" Tunjuk Tiara salah satu street cafe
"Siap" Melangkah mengikuti Tiara yang terlihat cerah saja hari-harinya
Mereka pun duduk dan memesan teh apel yang khas di daerah ini. Sambil memesan kebab tentunya untuk mengganjal perut yang terasa ingin di isi.
"Ustadz kenapa, ada masalah? " Tanya Tiara
"Begitu terlihatnya ya Tiara" Jawab Lutfi
"Hem" Tiara hanya bergumam dan menganggukkan kepalanya kerena tidak mungkin juga ustadz Lutfi nya mau curhat kepadanya
"Sepertinya kepulangan saya sedikit tertunda, saya hanya kangen aja sama ummi dan abah" Jelas Lutfi
"Ternyata ustadz Lutfi bisa terlihat rapuh seperti ini juga ya" batin Tiara tentunya
"Kalau begitu kan bisa Video call aja ustadz untuk sementara waktu" Mencoba memberi solusi
"Ia sih, kamu tau kan obat rindu itu apa? Bahkan saya tirakat untuk tidak pulang sama sekali selama dua tahun ini dan membendung rasa rindu ini" Jelas Lutfi
"Obat rindu, bertemu dengan orang yang di rindukannya. Kalau begitu ustadz pulang saja sebentar" Saran Tiara lagi
__ADS_1
"Saya ingin pulang dengan menghadiahkan gelar sarjana saya Tiara" Jelas Lutfi
"Sabar ya ustadz, mungkin Allah sedang mempersiapkan hal yang indah buat ustadz di hari esok"
"Iya Tiara, makasih ya."
"Tidak perlu Terima kasih ustadz, kan ustadz bilang jika kita di negeri orang kita sudah seperti saudara" Di iringi senyuman yang membuat Lutfi merasa bahagia
"Kamu bisa aja Tiara" Mulai tersenyum
"Silahkan ustadz di minum tehnya dan ini di makan" Mendekatkan segelas teh dan sepiring kebab ke arah Lutfi
"Sebentar ya Tiara, saya mau video call sama ummi. Mau kasih surprise"
"Surprise apa ustadz"
"Pasti ummi terkejut kalau kamu ada di sini bersama saya"
Mengambil handphone nya dan membuka aplikasi WhatsApp, menekan tombol video call.
"Assalamu'alaikum ummi" Ucap Lutfi saat melihat wajah ummi nya di handphone nya
"Wa'alaikum salam warohmatulohi wabarokatuh, ada apa sayang. Apakah kamu baik-baik saja, bukankah tadi baru nelpon ummi" Sedikit khawatir tapi melihat wajah anaknya sepertinya tidak ada yang perlu di khawatirkan
"Ummi, Lutfi mau kasih kejutan buat ummi"
"Apa itu, bukannya kamu tadi sedih. Sekarang sepertinya sudah lain" Penasaran dengan tingkah anaknya
"Surprise" Menunjukkan wajah Tiara kepada ummi Syarifah
"Wa'alaikum salam warohmatulohi wabarokatuh, kamu Tiara kan" Masih tidak percaya
"Ia mi, maaf kemarin tidak pamitan mau berangkat"
"Kamu kok bisa ada di sana, pantesan sudah tidak datang lagi ke pesantren" Ucap Ummi Syarifah
"Gimana menurut ummi, ini suatu kebetulan atau apa ya mi" Lutfi mengambil alih pembicaraan lagi
"Tiada yang kebetulan di dunia ini nak, sudah di atur sama yang Maha Kuasa. Apa mungkin kamu menunda pulang karena Tiara sayang" Senyum ummi menggoda anak bungsunya
"Bukan ummi, beneran. Ada sedikit masalah sama dosen Lutfi, percayalah"
"Ia nak, ummi percaya kok." Masih tersenyum
"Kenapa ummi tersenyum begitu"
"Tidak apa-apa, nikmati aja desain hidup yang sudah Allah tetapkan untuk kita ya" pesan ummi Syarifah
"insya Allah mi, semoga di depan sana ada hal yang indah yang menanti Lutfi"
"aamiin" doa ummi
__ADS_1
"sudah ya mi,"
"ia"
"assalamu'alaikum" ucap Lutfi
"wa'alaikum salam warohmatulohi wabarokatuh" jawab ummi Syarifah di seberang sana
Lutfi menutup panggilan dengan ummi nya, kini hatinya sudah lebih cerah, seperti mentari pagi yang menyinari bumi ini.
"ternyata dekat dengan orang-orang yang berpikiran baik akan membuat hati kita lebih baik ya" ucap Lutfi setelah menutup pembicaraannya dengan ummi nya
"ya begitulah ustadz, jika kita berteman dengan penjual minyak wangi setidaknya kita akan dapat juga bau wanginya dan sebaliknya jika kita berteman dengan tukang arang maka kita akan terkena juga hitamnya" tambah Tiara
"wah, ternyata kamu memang gadis cerdas ya Tiara" puji Lutfi
"biasa aja ustadz, bukannya ustadz yang pernah menyampaikan hal itu. ustadz lupa ya"
"ia, saya sudah lupa. Terkadang kita mudah dalam mengucapkan suatu hal, namun jika kita berada di posisi yang sulit itu baru kita dapat merasakan apakah kita mampu menerapkan apa yang sudah kita ucapkan ataukah hanya sebatas ucapan saja" jelas Ustadz Lutfi lagi
"ia ustadz" mencoba tersenyum melihat wajah ustadz Lutfi yang terbawa suasana hatinya lagi
"oh ya, setelah ini kamu mau kemana? ” tanya Lutfi
" rencana keliling di daerah sini dulu ustadz, kata mbah Google ada tempat yang bagus untuk di kunjungi" jawab Tiara
" mau saya antar kan"
"kemana ustadz"
" ke tempat yang bagus untuk di nikmati"
"emang ustadz tau"
"sudah beberapa tempat yang ikonik sudah saya kunjungi dan ada juga yang belum kesampaian sih"
"jadi ustadz juga senang mengunjungi tempat-tempat seperti itu"
"sangat, karena menurut saya mengunjungi tempat sejarah dan hal yang indah akan mengajarkan kita rasa cinta dan bersyukur kepada sang Pencipta"
"ia ustadz" menahan perasaannya yang semakin mengagumi pria yang ada di hadapannya itu
"kamu siap"
"siap apa ustadz"
"menjadi pendamping saya"
"sekarang ustadz"
"bukannya ini agenda kamu sekarang"
__ADS_1
"oh ia, maaf ustadz. saya Lupa" sedikit salah tingkah
Lutfi sengaja menggunakan trik itu untuk meluluhkan hati Tiara yang seperti angin, sulit sekali untuk di genggam namun ia yakin bagaimana pun angin itu sulit di genggam namun bisa kita rasakan