
Ku merayu rayu
Pada Allah yang tau isi hatiku
Di malam hening aku selalu mengadu
Tunjukkan padaku
Ku aktifkan radar ku mencari sosok yg dinanti
Ku ikhlaskan pengharapan ku di hati
Siapa dirimu
Dalam kesabaran ku langkah menjemputmu
Cinta dalam hati kan ku jaga
Hingga Allah persatu kan kita
Namamu rahasia
Tapi kau ada di masa depan ku
Ku sebut dalam doa
Ku ikhlaskan rinduku
Lutfi melepaskan segala perasaannya di sepertiga malamnya. Pagi ini ia memantapkan hati meninggalkan kota kelahirannya untuk hijrah mencari jati dirinya yang masih di rasa kelabu.
Ia telah menyelesaikan semua keperluan keberangkatannya pagi ini ke Turki. Ia yakini langkahnya ini adalah yang terbaik untuk dirinya, pastinya untuk menyemarakkan kalimat Tauhid tidak terbatas tempat dan waktu.Ia juga masih merasa ilmu yang di milikinya masih kurang dan harus di tambah.
Kukuruyuk....
Suara ayam mengawali kehidupan setiap insan, bagi mereka yang ingin mendapat pembagian rezeki dari malaikat Mikail, hendaklah menyambut pagi sebelum ayam bersahutan
"Lutfi, jangan jadikan semua ini pelarian dari perasaan kamu ya Nak" Ummi Syarifah duduk di tepi ranjang Lutfi melihat anaknya menyusun berkas yang harus di bawanya
"Makasih mi, selalu mengingatkan Lutfi untuk hal kebaikan. Alhamdulillah, Lutfi sudah menata niat Lutfi lagi mi. Selalu sebut nama Lutfi di bait doa ummi ya" Tersenyum haru
" Insya Allah,,, selalu Nak. Ya sudah, ayo kita sarapan. Biar tidak terburu-buru nanti berangkatnya"
"Baik mi"
Menuju ruang makan yang sudah terhidang dan tercium aroma yang sangat menggelitik hidung dan membuat air liur tertelan
"Inilah hal yang akan membuat Lutfi selalu rindu kepada ummi, masakan spesial yang selalu membuat perut Lutfi berontak ingin di isi"
"Kamu itu, pandai sekali membuat hati ummi berbunga-bunga"
"Ini fakta mi, tidak hanya sekedar rayuan gombal"
__ADS_1
"Di sana ada juga restoran yang menjual masakan Indonesia, jadi kalau rindu masakan ummi kan bisa beli di sana"
"Baiklah ummi ku tersayang"
"Tunggu sebentar, ummi panggil abi"
Menuju ruang khusus Kyai Yahya, biasanya beliau sedang bersama kalam ilahi. Men-tadabbur dan mengintropeksi diri terhadap ayat-ayat Allah yang tersirat mau pun tersurat
"Assalamu'alaikum abi, sarapan Yuk. Lutfi sebentar lagi mau pergi BI"
"Wa'alaikum salam warohmatulohi wabarokatuh, iya mi"
Kyai Yahya beserta ummi Syarifah pun keluar menuju ruang makan dan sarapan bersama Lutfi putra bungsunya yang akan melanjutkan pendidikannya. Setelah menikmati makanan mereka, kyai Yahya pun memberikan beberapa nasehat kepada putra nya
"pesan abah hanya satu Fi, jangan pernah jauh dari Allah. kita selalu butuh Dia, Dia tidaklah butuh kita. Namun Dia akan selalu ada buat kita yang selalu bersamaNya. Jangan pernah takut jika itu karena Dia, namun takutlah jika kamu jauh dariNya"
"makasih bah, Lutfi akan jadikan itu pegangan Lutfi dalam menapaki langkah di negeri orang yang terasa asing namun tidak jika merasa di bumi Allah"
"abah percaya sama kamu, semoga Allah selalu membimbing mu"
"aamiin, mohon doanya selalu bah"
"insya Allah, jam berapa keberangkatan kamu? "
"satu jam lagi bah"
"ya sudah, kita gerak sekarang. semua keperluan kamu sudah kan"
"sudah bah"
"tidak ada yang ketinggalan kan Nak" meyakinkan lagi ummi Syarifah
"ada mi"
"apa Nak, sebelum jauh kita"
"cinta Lutfi mi,"
"kamu, ummi serius malah canda ini"
"biar nantinya ngangenin mi"
"perasaan kamu, siapa yang kangen sama kamu"
"ada mi"
"siapa"
"nyamuk"
"ia ya, paspor sudah Nak"
__ADS_1
"insya Allah, semua udah Lutfi cek tadi sebelum berangkat mi"
"kamu di sana jangan nakal-nakal ya Nak, belajar yang benar terus cepat pulang"
"ummi, belum lagi Lutfi berangkat sudah di suruh cepat pulang"
"siapa lagi teman cerita ummi, yang selalu usil dan cerewet"
"abah kan ada mi, yang selalu ada buat ummi"
Kyai Yahya yang mendengarkan percakapan ibu dan anak dari awal berangkat sampai telah tiba di bandara yang tidak ada diamnya hanya menyimak dan tersenyum
setelah tiba di bandara, pak Toto membawa koper Lutfi dan abi sarta ummi menemani Lutfi memasuki ruangan menuju cek in.
"abah, ummi. Lutfi berangkat sekarang ya, Lutfi yakin doa abah dan ummi selalu ada buat Lutfi"
"ingat ya Fi, hadirkan Allah selalu di sini" Kyai Yahya meletakkan telapak tangan kanannya di dada Lutfi
"iya Bah" sambil memeluk erat Kyai Yahya
"sebenarnya ummi berat melepas mu Nak"
"udah saatnya Lutfi mengembara mencari jati diri Lutfi mi, dan semoga cepat bertemunya dan kembali lagi ke pangkuan ummi"
"baiklah Nak" melepas kepergian Lutfi dengan haru
"ya Allah, hamba titipkan anak hamba kepadaMu, Sebaik-baiknya penjagaan" doa ummi Syarifah
Lutfi memasuki ruang tunggu setelah melakukan cek in. setelah Lutfi masuk kedalam ruang tunggu, Kyai Yahya dan ummi Syarifah kembali ke pesantren dengan perasaan masing-masing.
"kenapa ummi merasa kehilangan sekali ya bah, ummi tidak merasa seperti ini saat melepas Putra sulung dan kakak Lutfi"
"itu karena kita dari kecil tidak pernah jauh darinya, jadi hal seperti itu membuat terasa kehilangan karena tiba-tiba dia sudah jauh dari kita. Yang biasanya dia tertawa, mengomel dan suka bercanda, akan terasa sepi karena dia sudah pergi"
"ia bah, mungkin Allah punya cara lain untuk menjadikan dia insan yang lebih baik"
"itu pastinya mi"
"ingin ummi dia nikah, setelah S1 nya. Tetapi Allah berkehendak lain, Sebaik-baik rencana manusia tetapkan keputusan Allah yang punya ya Bah"
"ia mi, kita jadi pengantin baru lagi mi. Tidak ada anak"
"abah bisa aja"
sambil menikmati perjalanan pulang dengan sejuta kenangan masa lalu yang semakin jelas terlihat karena suasana yang mendukung untuk memutar memorinya
"Kyai, sudah sampai" ucap pak Toto yang melihat Kyai Yahya dan ummi Syarifah belum juga bergerak turun setelah mobil di parkiran
"oh iya, saya kira masih jauh. kok tidak terasa ya"
Kyai Yahya tersenyum melihat dirinya sendiri
__ADS_1
"ummi juga gak sadar kalau sudah sampai bah, ummi asik melamun tadi" sambil turun dari mobil menuju pesantren yang damai dan tenang karena suasana saat ini santri sedang ujian semester.
asiknya kehidupan pesantren itu, mereka sibuk dengan dunianya tanpa memikirkan hiruk pikuk dunia luar yang begitu banyak cobaan dan godaannya. punya banyak waktu bercengkrama dengan Tuhannya, mentadabburi kitab cintanya bersama saudara yang telah seperti keluarga tanpa memandang ras atau pun asalnya. Hidup satu atap, satu kuali bahkan satu piring menjadi hal yang membuat mereka semakin saling menyayangi satu sama lain.