PERAWAN CINTA

PERAWAN CINTA
menentukan pilihan


__ADS_3

Sore ini sahabat Tiara akan kembali ke tanah air, ia melepasnya dengan perasaan berat. Rasanya kurang lama mereka bersama menghabiskan waktu bersama, tapi karena asa yang membuat mereka harus mengikuti arus kehidupan yang telah mereka pilih.


"Kabari kalau sudah sampai ya" Tiara melepas pelukannya dari Rani dan Tania yang masih terus mengeluarkan air mata


"Tentu" Balas Tania


"Kamu hati-hati ya di sini Ra, jangan nakal-nakal" Ucap Rani lagi


"Ustadz, kami titipkan Tiara ya. Bilang aja ke kami kalau di macam-macam" Senyum Tania nakal


"Terbalik lah Tan, gimana sih kamu" Bela Rani


"Oh, iya ya" Menepuk jidat Tania


"Ya sudah, jangan lupa kabar baiknya di bagikan ya Ra" Menyenggol sisi kanan Tiara oleh Rani


Mereka yang asik mengobrol sambil menunggu giliran check-in, sengaja yang paling akhir agar masih punya waktu bersama walau pun hanya sebentar. Tiba-tiba Yosi menarik lengan Tiara agak jauh dari sahabatnya dan Lutfi


"Kak, mau ngapain lagi. Ini waktunya sudah harus check-in" Ucap Tiara menghentikan langkah Yosi


"Sebentar aja Ra, kakak mau nanya untuk yang terakhir kalinya. Apakah tidak ada kamu memiliki rasa sama Kakak sedikit pun Ra? " Tanya Yosi


"Haduh Kak, sempatnya masih membicarakan ini. Nanti Kakak ketinggalan pesawat lo" Dengan nada khawatir


"Mungkin ini tidak penting bagimu Ra, tapi ini penting bagi Kakak Ra" Yosi memandang Tiara dengan tatapan seriusnya


"Ok Kak, nanti kita bahas lagi di telepon ya. Kalau Kakak sudah sampai, sekarang ayo kita ke sana" Tiara balik mendorong Yosi ke arah antrian yang sudah tidak ada orang lagi

__ADS_1


Dengan wajah yang masih gelisah, mau tidak mau ia mengikuti Tiara karena sebentar lagi pesawat yang akan membawanya kembali akan melayang di udara. Tiara mencoba dengan tegar menghadapi kecanggungan semua ini dengan santai, padahal hatinya juga semakin tidak menentu. Jawaban yang belum juga di pasti kan untuk Lutfi, muncul satu pertanyaan lagi yang akan menjadi PR baginya nanti untuk di tanyakan kepada hatinya. Saat ini yang terpenting adalah mereka kembali dengan selamat sampai tujuan.


*****


"Hari yang melelahkan" Tiara menghempaskan tubuhnya di ranjang, mengistirahatkan hati dan tubuhnya yang terasa menegang yang butuh refleksi sejenak sebelum bertemu air untuk membersihkan diri.


Gema suara azan berkumandang membuat rasa rindu akan kampung halaman, Tiara masih terbayang wajah sahabatnya ketika mereka akan berpisah tadi. Ingin rasanya ikut bersama mereka dan mengakhiri semua ini, tapi asa dan kesempatan itu tidak akan datang dua kali.


"Ya Allah, Tuhan yang menyerukan seruan yang sempurna, dan shalat yang di tegakkan, berikanlah kepada Muhammad wasilah dan fadhilah, serta kedudukan terpuji yang telah Engkau janjikan, maka pada hari kiamat nanti ia berhak mendapatkan pertolonganku. Aamiin" Tiara mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya menyudahi doa setelah selesai mendengar azan yang dilantunkannya


Ia berdiri menegakkan Sholat yang tidak hanya sebatas menggugurkan kewajibannya sebagai seorang muslim, namun hal itu merupakan sesuatu yang ia butuhkan untuk salah satu bukti bahwa ia tidak bisa jauh dari sang penciptanya yang selalu ia membutuhkannya dalam setiap langkah hidupnya. Setiap gerakan ia lakukan dan setiap bacaan ia resapi membuat tubuhnya merinding dalam keheningan dan merasakan Tuhannya yang Maha Mendengar itu selalu ada untuknya.


Tiara yang sedang tenggelam dengan sang penciptanya, sedangkan pemuda tampan itu tidak mampu melupakan bayangan yang selalu melintas di pikirannya saat Lutfi memberikan sebuah cincin kepada Tiara.


"Kenapa hati ini sulit sekali melepas mu Tiara" Ucap Yosi menghempaskan dirinya di di tempat duduk yang menjadi sandarannya.


"Apa Kakak bilang? " Tanya Rani tiba-tiba yang tentunya mendengar ucapan Yosi karena ia duduk di sebelahnya


"Jangan bilang Kakak juga suka sama Tiara" Menguatkan praduga nya dengan kata-kata untuk meyakinkan dirinya terhadap Yosi


"Sudahlah, kamu gak akan mengerti" Memejamkan matanya karena saat ini ia hanya ingin istirahat dan melupakan semuanya


"Ayo ngaku Kak, jadi selama ini Kakak memendamnya ya? " Tanya Rani yang masih penasaran


"Bukankah Kakak itu sudah seperti saudara sama Tiara? " Terus bertanya


"Tapi kan bisa aja rasa itu ada Rani, mereka kan bukan saudara kandung. Tidak ada hubungan darah sama sekali" Jelas Tania di sebelahnya yang ternyata menyimak kejadian di sebelahnya

__ADS_1


"tapi Kakak tau Gak, kalau ustadz Lutfi sudah melamar Tiara tadi lo. sweet banget Kak" Rani mencoba memancing keadaan untuk semakin memanas


"tau" jawab Yosi singkat tetapi mencoba tetap memejamkan matanya untuk melupakan semua kejadian itu


"sudahlah Kak, mengalah saja demi kebahagiaan Tiara. Kan Kakak tetap bisa menyayanginya sebagai adik Kakak seperti biasanya, jangan sampai karena perasaan Kakak itu membuat semuanya berantakan" mencoba menenangkan perasaan orang yang sedang galau


"kenapa bisa jadi berantakan? " tanya Yosi yang sudah tidak bisa berfikir jernih akibat virus yang menggerogoti hati dan pikirannya saat ini


"ya bisa berantakan lah Kak, seharusnya Tiara hanya memantapkan satu pilihan yang ada di hadapannya. Namun ia juga harus memikirkan perasaan Kakak juga jadinya, kan kasian Tiara nya" jelas Rani yang sok dewasa itu


"kamu tau gak, Kakak sudah berusaha semaksimal mungkin untuk benar-benar menetralkan perasaan Kakak ini dari dulu. Tapi entah kenapa melihat ustadz Lutfi melamar Tiara, semakin bergejolak hati Kakak. Bukan maksud Kakak ingin membuat Tiara bingung, tapi Kakak hanya ingin Tiara juga mencintai Kakak" curhat Yosi akhirnya


"ya itu sama aja egois Kak" ucap Rani


mendengar kata-kata Rani seakan Yosi menyadari kesalahannya yang kedua kali, bukankah dulu dia pernah mengungkapkan perasaannya hanya membuat suasana menjadi lebih buruk. Padahal ia telah berusaha untuk menjaga perasaannya selama ini agar tidak mengulangi kesalahan yang sama, namun apalah daya sang pujangga yang begitu di mabuk cinta tanpa sadar sudah tenggelam di lautan cinta yang entah bagaimana menyelamatkannya.


Mata Yosi tetap terpejam menenangkan perasaanya saat ini, hingga akhirnya ia terlelap dan melupakan segalanya. wajahnya terlihat tampan walau hatinya terasa tak tentram membuat Rani yang memandangnya menggelengkan kepala.


"beruntungnya lah Tiara di hadirkan pangeran- pangeran tampan di hidupnya, baik hati dan penyayang" ucap Rani


"kamu mau Rani" jawab Tania yang dari tadi melihat tingkah temannya ini


"mau sih, tapi pasti melelahkan juga ya Tan." jelas Rani lagi


"itu kamu tau" ucap Tania


"semoga semuanya baik-baik saja" doa Rani

__ADS_1


"aamiin, kita sebagai sahabatnya bisa apa ya. lagian Tiara orangnya tidak terlalu terbuka walaupun kita sudah begitu akrab" jawab Tania


Mereka termenung ke depan memandang harapan dan keadaan sesuai versi mereka masing-masing sambil menikmati perjalanan yang tidak lama kemudian menghantarkan mereka ke alam mimpi yang indah.


__ADS_2