
"ada apa ummi, sepertinya serius sekali" setelah tiba di taman belakang pesantren karena ummi nya memanggil Lutfi dan ingin berbicara kepadanya
"menurut ummi serius Nak, sebelumnya kamu harus melapangkan dada terlebih dahulu ya"
"ada apa sih mi, langsung saja. Buat Lutfi penasaran"
"Tadi malam, setelah selesai pengajian. Tiara dan Wulan mampir ke rumah"
"ia mi, kok Lutfi tidak tahu ya"
"kamu belum pulang dari masjid"
"ia sih mi, soalnya ada santri yang ingin curhat. Jadinya Lutfi agak lama pulangnya, terus cerita apa aja tadi malam mi?"
"sebenarnya, gimana ya ummi mau bilangnya"
"ih, ummi. Suka buat orang penasaran"
"bukan buat kamu penasaran, tapi ummi bingung gimana cara menyampaikan ke kamu beritanya"
"ayo dong mi, ceritain"
"tapi janji jangan down ya"
"insya Allah"
"semalam Tiara minta solusi, dia di lamar temannya yang hari itu ikut pengajian kemari. Tetapi saat ini kondisinya dia sedang dirawat di rumah sakit karena terkena kanker otak stadium akhir"
"jadi ummi kasih solusi apa? "
"ya walau pun ummi tau kamu juga ingin melamarnya tetapi ummi bilang semua kembali kepada Tiara, ummi kembalikan lagi kepadanya untuk memperkuat istikharah. Agar jalan yang di pilihnya kelak atas bimbingan dari Allah"
"syukurlah kalau ummi kasih solusi seperti itu, ya walau hati ini takut kehilangan Tiara tetapi kita harus tetap yakin bahwa jodoh itu sudah tertulis di lauh mahfuz. Kita tidak boleh memaksakan diri dan melawan kehendak Tuhan, yakin aja bahwa akan indah pada waktunya"
"ummi juga minta maaf sama kamu karena menunda niat kamu ingin kitbah Tiara"
"tidak ada yang perlu di salahkan mi, semua sudah di atur"
"bukannya skripsi mu sebentar lagi selesai Nak"
"mohon doa nya ya mi, semoga semuanya lancar"
"aamiin, jadi apa rencana kamu selesai kuliah nanti Nak?"
"untuk saat ini, Lutfi ingin fokus menyelesaikan kuliah dahulu mi. Kedepannya nanti kita lihat aja apa yang Allah hadirkan"
"atau kita lamar putri kyai Mustofa yang hari itu di jodohkan sama kamu"
"ih ummi, emangnya gampang melupakan dan langsung mencari penggantinya"
__ADS_1
"kamu itu ya, nurun siapa lah memiliki sifat seperti itu"
"Lutfi juga tidak mengerti dengan perasaan Lutfi sendiri mengapa seperti ini kepada Tiara, padahal banyaknya wanita di muka bumi ini. Namun terhadap Tiara berbeda mi"
"baiklah kalau seperti itu mau kamu, ummi tidak memaksa. Semoga kamu di anugerah kan pasangan yang sholehah, yang mendukung perjuangan dakwah mu "
"aamiin ya Allah, doa ummi adalah salah satu senjata ampuh yang membawa kesuksesan dan kebahagian dalam hidup Lutfi"
"tetapi semua perlu usaha juga kan sayang, ummi bantu do'akan dan kamu yang berusaha semaksimal mungkin"
"siap ummi"
"ya sudah, kita kembali ke rumah. Nanti abi mu mencari karena tidak melihat kita"
"untung saja abi belum di beri tahu hari itu ya mi"
"iya Nak, kalau kita belum memiliki kepastian atas segala sesuatu lebih baik kita simpan aja dahulu"
"betul sekali mi"
sambil berjalan meninggalkan taman belakang menuju rumah mereka yang terlihat sepi. Sepertinya kyai Yahya masih bersama ustadz-ustadz yang lain dan belum kembali ke rumah, biasanya jika kyai Yahya di rumah maka suasana rumah pun ramai karena orang akan berdatangan ke rumah, baik santri mau pun ustadz-ustadz yang memiliki kepentingan
*****
bismillah
ia langkahkan kakinya menuju ruangan di mana Arya di rawat. Dengan keyakinan yang telah di pasrahkan kepada peng-genggam takdir yang terbaik, ia harus segera memberikan jawaban sesuai janjinya hari ini.
"waalaikum salam warohmatulohi wabarokatuh, masuk Tiara" langsung di jawab oleh pak Wijaya
"boleh izinkan Tiara melihat kondisi Arya Pak"
"silahkan"
begitu miris melihat kondisi Arya saat ini, namun dari wajahnya tetap terpancar cahaya keikhlasan yang membuat siapa yang melihatnya menjadi kagum. tiba-tiba saat Tiara termenung sejenak
"izinkan aku menjadi imam mu kali ini saja Tiara"
lirih Arya memandang Tiara dengan penuh harapan dan cinta
dengan tanpa berfikir lagi Tiara pun menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia menyetujui nya.
Sontak saja hal ini membuat pak Wijaya terharu dan menitikkan air mata kebahagiaan untuk anaknya.
"baiklah kalau begitu ayah persiapkan segala sesuatunya ya" bergegas mengambil HP yang tidak jauh dari jangkauannya
"sekarang Pak? "
"ia, bukankah perkara yang baik itu harus di segerakan"
__ADS_1
"ia sih Pak, tapi Tiara belum kasih kabar kepada keluarga Tiara"
"tenang saja, nanti kalau Arya sembuh kita buat acara sekalian pengumuman pernikahan kalian ini. Bapak tidak ingin menunda lagi Tiara melihat kondisi Arya seperti ini"
"baiklah Pak, bagaimana baiknya. soalnya sebelumnya bu Mala dan keluarga untuk menyerahkan segala keputusan kepada Tiara"
"alhamdulillah, Allah permudahkan semuanya"
satu jam telah berlalu segala persiapan sudah selesai. Arya pun sudah di pindahkan ke kursi rodanya.
"saya nikahkan Mutiara intan Permata binti Latif dengan Arya Kusuma dengan seperangkat alat sholat di bayar Tunai" ucap wali hakim
"saya Terima nikahnya Mutiara Intan Permata binti Latif dengan mas kawin tersebut di bayar Tunai" jawab Arya berusaha menekankan suaranya yang semakin lemah
"bagaimana para saksi, sah" tanya wali hakim lagi
"sah" jawab yang hadir di ruangan di mana Arya di rawat
"alhamdulillah, Barakallahu lakukan wabaroka 'alaikum wajama'a bainakuma fi khoir" doa terlantunkan untuk kedua mempelai
"astaghfirullah, Arya. Sadar Nak"
Pak Wijaya menyadarkan Arya yang tiba-tiba pingsan. Wajahnya begitu pucat dan langsung di angkat ke tempat perawatannya. Karena para saksi pernikahan mereka tidak ada orang luar, hanya wali hakim. para saksi yang di minta adalah dokter Kurniawan dan suster yang sering merawat Arya, karena untuk siaga juga jika ada hal-hal yang tidak di inginkan terjadi. Karena jika melihat kondisi Arya saat ini, sulit baginya dapat bertahan lebih lama lagi karena kankernya sudah menyebar dengan cepat.
setelah suasana kembali tenang, dokter dan suster sudah kembali ke ruangannya. Pak Wijaya juga sedang mengantarkan wali hakim keluar rumah sakit, tinggallah Tiara berdua di dalam ruangan ini. Ruangan yang tertutup, masih merasa asing dengan suasananya. Karena Tiara tidak terbiasa berada di dalam ruangan yang sama dengan lelaki. Ia hanya berani menatap Arya dari kejauhan walaupun ia tahu saat ini Arya adalah suami sahnya.
"ya Allah, angkatlah penyakit Arya, s u a m I ku ya Rob" dengan terbata mengucapkan kata suami
"assalamu'alaikum " ucap pak Wijaya memasuki ruangan
"wa'alaikum salam warohmatulohi wabarokatuh"
"apakah Arya sudah sadar"
"belum Pak"
"hal ini sering terjadi ke belakangan ini, fisiknya semakin lemah bahkan ia lebih sering pingsan dari pada sadar"
"ia Pak, maafkan Tiara jika terlalu lama memberikan jawabannya"
"seharusnya bapak yang meminta maaf karena sudah memintamu menikahi putra bapak yang harus mengorbankan masa depan mu"
"tidak pak, Tiara akan tetap lanjut Kuliah. Bapak jangan khawatir"
"alhamdulillah, bapak kira kamu malu dengan status baru mu ini."
"kan, tidak ada yang tau kalau kami sudah menikah Pak. Mungkin nanti hanya keluarga yang tau. Bolehkan Pak, untuk sementara waktu ini pernikahan kami tidak di kabarkan ke pada teman-teman kami. Nanti jika ada waktu yang tepat dan Tiara sudah siap, kami akan memberitahukan kepada yang lain"
"ia gak papa, yang penting sekarang buat bapak mewujudkan keinginan Arya untuk menikahi mu tidak lebih dari itu"
__ADS_1
kampus UNINDRA, adalah kampus favorit bagi mereka yang memiliki impian yang tinggi dan memiliki kepintaran di atas rata-rata. Kampus yang di kenal kedisiplinannya namun juga banyak menawarkan beasiswa bagi mahasiswa yang berprestasi di bidangnya masing-masing. Tidak seperti kampus lain, karena kampus ini di pilih oleh mahasiswa yang konsekuensi nya tinggi di bidang pendidikan jadi sangat jarang mahasiswa yang menikah sebelum tamat. Oleh karena itu untuk sementara Tiara ingin merahasiakan pernikahannya dengan teman-temannya.