PERAWAN CINTA

PERAWAN CINTA
Rindu


__ADS_3

Setelah sebulan menjalani kehidupan jauh dari orang tua, Lutfi mulai merasakan rindu kampung halaman.


"Aku harus segera menyelesaikan kuliah, agar bisa cepat pulang ke abah dan ummi" Ucap Lutfi sendiri


Turki, memang menjadi tempat yang sangat bagus untuk menambah referensi ilmu agama. Di sana pernah menjadi jayanya peradaban islam, namun di sana jugalah berakhirnya peradaban islam itu.


Lutfi mendalami sejarah kebudayaan dan bangkitnya islam, sehingga menambah pengetahuannya tentang islam dan menyampaikannya dalam dakwahnya. Dakwah dengan sejarah lebih di minati menurutnya karena mengandung cerita dan di perkuat dengan dalil yang ada.


"Assalamu'alaikum ummi, bagaimana kabarnya. Semoga selalu dalam lindungan Allah" Ucap Lutfi menghubungi ibunya. Ini telpon yang kedua setelah Lutfi sampai di Turki, karena awal masuk kampus banyak yang harus di urus sehingga Lutfi di sibukkan dengan urusannya di sana sehingga setelah selesai semua, dia pun merasa rindu


"Wa'alaikum salam warohmatulohi wabarokatuh, alhamdulillah kami di sini semua sehat. Kamu bagaimana di sana sayang, betah kan"


"Alhamdulillah semuanya berjalan dengan baik mi, lumayan betah sih. Tapi kangen sama ummi"


"Itu biasa, ummi juga kangen di sini. Kamu belajar yang rajin, biar cepat selesai"


"Ia mi,"


"Doa ummi selalu menyertaimu, "


"Kirim salam sama abah ya mi"


"Baiklah Nak, assalamu'alaikum warohmatulohi wabarokatuh


" Wa'alaikum salam warohmatulohi wabarokatuh "


Segera menutup telepon nya, bukan tidak ingin berlama-lama. Hanya saja menahan air mata yang ingin tumpah


Oh Tuhan kuatkan lah hamba mu


Untuk lalui jalan hidup ini


Yang ku inginkan selalu dalam Ridho Mu


Doa Lutfi lirih menguatkan hatinya


"Baiklah, kamu harus kuat Lutfi. Karena Allah semua akan menjadi mudah"


Tut tut tut


"Assalamu'alaikum Kak" Ucap Bilqis mahasiswa satu jurusan dengan Lutfi yang berasal dari Jakarta


"Wa'alaikum salam warohmatulohi wabarokatuh, iya Bilqis"

__ADS_1


"Jadi buat tugasnya di mana Kak"


"Di perpustakaan kampus aja, biar mudah mencari referensi nya"


"Oh, gitu ya Kak. Baiklah, Bilqis nunggu di sana ya Kak"


"Iya"


"assalamu'alaikum"


"Wa'alaikum salam warohmatulohi wabarokatuh"


Bilqis berharap mengerjakan tugasnya di luar kampus, di tempat yang indah untuk di kunjungi.


"Ganteng-ganteng cuek ya" Ucap Bilqis sendiri


"Ayolah Bilqis, fokus. Jangan mikirin cowok, ingat niat kamu ke sini untuk belajar" Ucapnya lagi


"Belajar sambil cari jodoh kan gak papa ya" Jawabnya membenarkan dirinya


"Hus, fokus-fokus. " Akhirnya ia berangkat dari apartemennya menuju kampus yang tidak jauh dari tempatnya


*****


"Maklum, bos kita yang satu ini masih di sibukkan dengan kuliahnya" Ucap Tania lagi


"Ra, ceritain dong kejadian yang menimpamu kemarin. Gimana ceritanya, kami penasaran"


"Males mau cerita itu, sesuatu hal yang buruk sama memory ku otomatis terhapus. Jadi sulit mau cerita lagi" Jelas Tiara


"Ya sudah, kita bantu untuk ingat sedikit-sedikit ya. Ngomong-ngomong kamu kok bisa selamat Ra" Tanya Rani


"Kamu pernah gak ngerasain bahwa Allah itu benar-benar selalu ada, memang sih Allah itu sepengetahuan kita Dia selalu ada tetapi tidak semua orang mampu merasakan kehadiran Nya. Betul gak? "


"Betul Ra, bahkan di saat sholat tidak mampunya kita khusuk karena kita belum mampu benar-benar menghadirkan Allah yang kita sembah. Terus apa kaitannya dengan kejadian yang kamu alami Ra"


"Saat aku benar-benar gak mampu berbuat apa-apa, aku benar-benar pasrah kepada Allah dan memohon pertolongan Nya. Dan saat yang tepat saat Alvin ingin menyentuh ku, saat itu Allah mengirimkan Kak Yosi sampai di tempat kejadian"


"Wah, kalau di pikir. Dari mana Kak Yosi tau keberadaan mu ya Ra" Tanya Tania


"Itu satu, dan pertolongan Allah itu terasa tepat saat benar-benar di ambang kepasrahan. Tidak ada lagi yang dapat kita lakukan kecuali hanya pertolongan Allah yang mampu menyelesaikannya." Jelas Tiara yang masih takjub akan Tuhannya


"Berarti Kak Yosi yang di kirimkan Allah untuk mu ya Ra" Ucap Rani sambil bergaya mikir

__ADS_1


"Kenapa ekspresi mu seperti itu Rani" Tanya Tania yang melihat gaya Rani


"Coba kamu pikir lagi, bukan kah Allah sudah ngasih pertanda untuk Tiara"


"maksud nya" tanya Tiara yang belum mengerti


"mungkin Kak Yosi adalah jodoh mu, lihatlah. Dia selalu ada untuk mu, bukan kah Allah ingin menyatukan kalian"


"kamu ada-ada saja Rani, Kak Yosi itu kan Kakak angkatnya Tiara." jelas Tania


"Kakak angkat kan bukan berarti jadi penghalang jodoh, kan bukan saudara kandung yang tidak boleh di nikahi" bela Rani yang merasa argumennya benar


"sudah-sudah jangan di bahas lagi, kalau kalian percaya bahwa Allah sudah mengatur jodoh kita yang bahkan sudah tertulis di Lauh mahfuz Nya kenapa kita harus pusing mikirin nya, kita lihat saja kedepannya. Biar waktu yang akan menjawabnya" jelas Tiara lagi


"ia sih, tapi penasaran aja Ra. Akhirnya kamu nantinya sama siapa ya" tanya Rani lagi


"udah gak usah di pikirin, aku saja belum mau memikirkan nya." ucap Tiara


"betul itu, lebih baik kita ngapain ya enaknya" tanya Tania antusias


"gimana kalau kita wisata, menjelajah daerah-daerah yang memiliki keunikan sehingga kita bisa menambah rasa kagum kepada sang Pencipta bahwa begitu menakjubkannya penciptaannya" ajak Tiara


"ok juga tuh, biar iman ku bertambah lagi" kata Rani


"hidup ini hanya sementara dan memang harus kita melakukan banyak-banyak kebaikan, tapi kita harus mengiringinya dengan menikmati setiap keindahan yang ada" jelas Tiara


"kita ambil paket wisata aja" kata Tania


"iya, soalnya aku sudah kepikiran hal ini. pingin ngajak kalian wisata saat aku ada libur, tapi tertunda karena kejadian kemarin. Jadi aku sudah melihat paket wisata religi dan mengkepoinnya, jadi tinggal mengdeal kan saja" terang Tiara


"memang kamu lah yang terbaik Ra," puji Rani


"kalian yang terbaik juga, sudah bantu usaha ku dari awal hingga bisa sampai semaju ini" balas Tiara


"tapi kan, bagaimana pun berawal belajar dari kamu Ra. bahkan kami belajar banyak hal dari mu sampai sekarang" kata Tania


"hidup kami tidak terlalu berliku jika di bandingkan hidup mu Ra, jadi kami belajar untuk menjadi orang yang lebih bersyukur lagi" ucap Rani terharu


"makasih ya, kalian selalu menjadi penyemangat ku. " tersenyum bangga


"boleh kah kita berpelukan" Rani membentangkan kedua tangannya berharap ada yang menyambutnya


"dengan senang hati" mereka berpelukan erat

__ADS_1


"kalau ada apa-apa di antara kita, jangan sungkan untuk berbagi" pinta Tiara


__ADS_2