
Mentari menyapa dengan penuh kehangatan, awan terhampar begitu menawan menghiasi langit pagi. Rani dan Tania setelah selesai sholat subuh mereka memilih untuk istirahat sebentar kerena matanya susah di ajak kompromi untuk beraktifitas. Walau pun mereka tau bahwa tidur setelah sholat subuh itu tidak baik, dengan alasan darurat akhirnya mereka tertidur tanpa ampun.
Tiara sudah sibuk berbenah dan bersih-bersih pagi ini, dan segera menyiapkan sarapan untuk sahabat-sahabatnya.
Berbeda halnya dengan Yosi yang mengusir rasa kantuknya dengan segera berendam air hangat dan segera bergegas ke apartemen Tiara.
Langkah kakinya terhenti sejenak karena mengingat ada yang tertinggal, akhirnya ia kembali lagi ke kamarnya yang belum terlalu jauh.
"Kenapa bisa lupa sih, dasar sudah tua" Ucap Yosi pada dirinya sendiri sambil menepuk jidatnya
Setelah mengambil kado yang sudah di siapkan untuk Tiara, ia pun melanjutkan langkahnya ke tujuan awalnya. Entah mengapa jika langkah kaki ini menuju ke arah yang namanya Tiara, deru jantung semakin bergejolak dan rasa bahagia itu selalu hadir. Biasanya dengan mendengar suaranya saja sudah cukup membuatnya senang, apalagi saat ini ia akan bertemu lagi dengan orang yang selalu mengusik hatinya. Setelah pertemuan tadi malam, hatinya terasa seperti bunga yang sedang bermekaran. Rasanya begitu bahagia bisa membuat orang yang ia sayangi bisa tersenyum bahagia.
"Assalamu'alaikum" Ucap Yosi di depan pintu
"Wa'alaikumsalam salam warohmatulohi wabarokatuh," Tiara bergegas menyambar jilbabnya yang sengaja di letakkan di ruang tengah agar kondisi darurat mudah di temukan dan langsung membuka pintu
"Kak Yosi, masuk kak. Kebetulan kami mau sarapan, ayo sekalian."
Ajak Tiara
"Tepat sekali, kakak sengaja belum sarapan. Tadinya mau ajak kalian makan di luar, tapi kebetulan di ajak di sini senang banget. Kapan lagi merasakan masakan Tiara yang jarang ada" Goda Yosi yang memang jarang bisa merasakan masakan Tiara dari awal mereka bertemu
"Memang ia sih, rugi kalau di lewatkan Kak. Jarang-jarang Tiara mau masak, tapi ya harap maklum ajalah ya masakan sederhana" Ucap Tiara dengan tersenyum
Yosi mengikuti langkah Tiara menuju ke ruang tengah dan duduk manis bak raja yang sedang menunggu pelayanan
"Ra, yang lain mana. Kok gak kelihatan? " Tanya Yosi selidik
"Masih siapan di dalam Kak, paling sebentar lagi keluar" Jawab Tiara
Karena merasa aman, Yosi pun menyerahkan sekotak kado yang di ikat pita warta pink kepada Tiara
"Selamat ulang tahun ya Dik, semoga Allah selalu menghadirkan kebahagiaan dalam hidupmu"
__ADS_1
Tiara yang terharu itu menerima dengan senang hati
"Sebenarnya, kalian sudah datang kemari adalah kado yang terindah buat Tiara. Gak perlu repot seperti ini Kak"
"Tidak merasa repot sedikit pun Dik, kamu tau, hal yang paling membuat kakak bahagia itu membuat kamu tersenyum bahagia seperti ini" Jelas Yosi penuh perasaan
"Hayo, pada ngapain itu. Serius amat sih, sampai kita pada manggil gak kedengeran" Tania datang mengejutkan mereka
"Oh, ngasih kado Kak Yosi. Di buka dong" Pinta Rani yang penasaran
"Nanti aja ya Ra, kalau Kakak sudah pulang" Cegah Yosi karena tidak ingin di ketahui bahwa di dalam kado itu ada sepucuk surat
"Sepertinya ada yang di rahasiakan nih Kak Yosi, hayo ngaku aja sama kita" Goda Rani
"Sudah-sudah ayo kita sarapan, tadi buat nasi goreng. Enaknya makannya masih hangat, ayuk" Tiara melangkah menuju meja dapur sehingga membuat yang lainnya mengikut tanpa protes karena benar saja perut mereka juga minta di isi
Mereka duduk dengan santai dan menikmati hidangan yang tersedia di hadapan mereka.
"Ternyata masakan kamu seenak ini ya Ra, kenapa selama ini Kakak gak tau ya" Puji Yosi yang begitu lahapnya memakan nasi goreng yang di temani potongan-potongan sosis dan di taburi irisan keju membuat lumer ketika mendarat di lidahnya
"Alhamdulillah kalau kalian suka, sebenarnya ya saya masih seperti yang dulu, ini karena kondisi di sini. Makan ingin ala kampung halaman, ya jadi suka buat-buat aja apa yang di inginkan" Jelas Tiara
"Bisalah Ra, kita buka restoran nanti" Ucap Rani
"Kalian ini ada-ada aja, gak perlu lagi ya Ra. Masakin buat suami aja nanti ya kan Ra" Senyum Yosi mengembang
"Wah, Kak Yosi bisa juga tuh. Kira-kira siapa ya suami Tiara nanti" ekspresi Rani sedang menerawang masa depan
Tok tok tok
Tiba-tiba pintu di ketuk dan membuat suasana sebentar hening namun Tiara langsung segera membuka pintu
"Bisa jadi itu calon suami Tiara" Goda Rani yang masih fokus dengan gilirannya tentang suami masa depan Tiara
__ADS_1
Tiara yang sudah melangkah mendekati pintu langsung segera membuka pintunya
"Assalamu'alaikum" Ucap Lutfi saat melihat Tiara membuka pintu
"Wa'alaikumsalam salam warohmatulohi wabarakatuh, eh Ustadz Lutfi. Silahkan masuk ustadz" Jawab Tiara
"Emang boleh," Jawab spontan Lutfi
"Kebetulan, Teman-teman saya ada di sini ustadz, mereka semalam baru sampai" Jelas Tiara yang mengerti dengan ekspresi ustadz Lutfi
"Memangnya teman-teman kamu dari mana? " Tanya ustadz Lutfi yang mengira temannya Tiara yang di sini saja kok pake acara baru dateng
"Dari Indonesia ustadz, silahkan ustadz" Tiara mempersilahkan tamunya ini untuk masuk
"Baiklah, saya mengikut. Hitung-hitung nambah saudara " Ucap Lutfi tersenyum
"Ustadz, kita makan yuk. Kebetulan kami lagi sarapan" Ajak Tiara menuju ke dapur
Setibanya di dapur suasana menjadi heboh kembali, dengan sifat dia sahabatnya yang selalu membuat usil
"Jadi ini jawaban pertanyaan kamu tani Rani" Tania mencoba memancing
"Jawaban apa Tania? " Tanya Tiara yang tadi tidak mendengar celotehan sahabatnya karena bergegas membukakan pintu untuk Lutfi
"Jodoh masa depanmu Tiara" Jawab Rani senyum mengembang bahagia
"Kalian ini ya, ini saya kenalin ustadz saya yang di pesantren dadakan yang sering saya ikuti pengajiannya itu lho" Tiara mengenalkan Lutfi kepada sahabatnya
"Ustadz Ra, kok masih muda ya" Ucap Tania
"Anak Kyai, jadi sudah di tempa dari kecil kali ya" Jawab Tiara
"Ini sahabat seperjuangan saya ustadz dan itu Kakak saya" Tiara balik memperkenalkan orang-orang yang ada di hadapan mereka
__ADS_1
Lutfi langsung menjabat tangan Yosi dengan senyuman hangatnya dan merasa lega karena Tiara menjelaskan bahwa orang yang disapanya hanya seorang kakak bagi Tiara walaupun ia belum tau pasti kakak seperti apa maksudnya karena setahunya Tiara hanyalah putri tunggal.
dan mengatupkan kedua tangannya ketika menyapa kedua sahabatnya.