
Yosi terbangun dari mimpi panjangnya, ia merasa ada yang nyeri di bagian punggungnya. Ia melihat Tiara yang tertidur di kursi yang tidak jauh darinya,
memandangi Tiara yang tertidur lelap. Mencoba memutar kembali kejadian yang telah berlalu sehingga ia berada di sini saat ini, walau tubuhnya merasakan sakit tetapi ia merasa bahagia karena bukan Tiara yang terluka. Dilihatnya jam menunjukkan pukul 21.00 sudah sepi.
"Maafkan Kakak ya dik, sudah membuat hidupmu jadi seperti ini" Mencoba memegang kepala Tiara namun ternyata Tiara terbangun mendengar suara Yosi
"Kak Yosi, sudah sadar. Alhamdulillah ya Allah, " melihat Yosi dengan berbinar bahagia
"Alhamdulillah sudah dik, kamu gak kenapa-kenapa kan? “ tanya Yosi kepada Tiara
" Seharusnya Tiara yang bertanya seperti itu Kak"
"Yang penting itu kamu, karena Kakak tidak ingin kamu terluka dik. Apalagi semua ini karena kamu menjadi anggota keluarga Kakak" merasa bersalah
"Tapikan Tiara gak kenapa-kenapa karena Kakak. Makasih ya Kak"
"Kakak juga makasih buat kamu"
"Kenapa Kak"
"Gak ninggalin Kakak di saat seperti ini"
"Bagaimana pun juga kan semua yang Kakak lakukan untuk nolongin Tiara, masak Tiara tega ninggalin Kakak. Tiara gak mau lagi kehilangan orang yang menyayangi Tiara"
"Maksud kamu? "
"Nantilah kalau Kakak sudah sembuh, Tiara cerita"
"Kamu itunya, buat Kakak penasaran aja"
"Soalnya cerita nya panjang Kak, Kakak harus banyak istirahat dulu"
"Dulu sudah Dik"
"Oh iya sekarang Kak, sempatnya bercanda Kak" Tersenyum
Mendengar desas desus suara yang tidak jauh, Buk Yeni pun terbangun
"Yosi, Kamu sudah sadar. Gimana kejadiannya kok bisa jadi seperti ini Nak"
"Sudahlah ma, biasa aja. Jangan heboh, ini sudah malam. Nanti di kira ada apa di sini" Jelas Yosi yang melihat ibunya heboh
"Maafkan mama, mama hanya khawatir."
"Iya ma, sekarang gak perlu di khawatir kan lagi. Yosi kan baik-baik saja "
__ADS_1
"Baiklah, " Dengan menahan rasa khawatir nya
"Ya sudah, ini kan sudah malam. Yuk kita istirahat, "
Yosi langsung memejamkan matanya agar mamanya dan Tiara pun istirahat
*****
"Sebenarnya mama masih penasaran, kenapa kamu lakukan semua ini bang. Bukannya kamu begitu menyayangi tubuh mu ini, bahkan kamu akan heboh banget kalau kulitmu lecet sedikit"
"Yosi tidak ingin Tiara terluka ma, apa itu salah"
"Tidak sih sayang, tetapi sepertinya lebih dari itu mama lihat"
"Mama itu lihatnya terlalu dalam" Yosi tersenyum
"Apa kamu begitu menyayangi nya bang, sampai rela mengorbankan diri mu"
"Seorang abang tentu saja tidak ingin jika adiknya terluka kan ma"
"Iya, iya" bu Yeni hanya tersenyum
Ternyata Tiara menghentikan langkahnya yang ingin masuk ke dalam ruangan karena mendengar percakapan antara ibu dan anak itu.
"Assalamu'alaikum warohmatulohi wabarokatuh"
"Ini Bu, sarapannya"
"Kakak boleh minta, sepertinya enak tuh"
"Kakak belum boleh makan ini, nanti kalau sudah keluar Tiara terakhir makan di mana Kakak mau"
"Benar ya"
"Benar"
"Janji"
"Janji"
"Lagi pula Kakak mau nagih janji kamu yang semalam, buat Kakak penasaran"
"Iya Kak, makanya cepat sembuh. Ayo kita sama-sama makan, tadi Kakak belum mau makan karena nunggu kami"
"Baiklah" makan dengan lahap nya
__ADS_1
"Kok seperti itu makannya bang" Tanya bu Yeni yang heran melihat cara Yosi makan tidak seperti orang yang sedang sakit
"Iya ma, biar cepat keluar dari sini"
"Kamu itu ya" Geleng-geleng kepala bu Yeni
*****
Ku manusia yang penuh dosa
Berharap ampunan Mu
Lihat di langit kesempurnaan hadir Mu
Kau cinta pertama dalam hidup
Tiara menatap langit yang begitu sempurna keindahannya di hiasi ribuan bintang. Hal seperti ini sering ia lakukan menghapus rasa kesepiannya dengan menghadirkan sang Maha Cinta di hatinya. Ia lebih senang cerita dengan Tuhannya di keheningan malam, bertafakur memandang indahnya lukisan sang Maha Karya membuat hati tertawan dan tertegun. Menyadari bahwa hanya Dia lah yang pantas untuk di cintai seutuhnya dan melakukan apa yang hadir di kehidupan dengan sebaik mungkin karena ingin membuktikan cinta ini untuknya.
Ya Robbi...
Pantaskah diri ini mengatakan cinta untuk Mu yang maha sempurna dari hamba yang berlumur dosa
Tapi hamba tidak pernah merasakan begitu merindu dan indahnya mencintai selain kepadaMu
Tiara merinding di saat ia mampu merasakan hanya dia dan Tuhannya yang ada, ia merasakan lega di saat kesulitan jika dia curhat kepada Tuhannya
"Tiara, kamu harus kuat. Ingat pesan ayah dulu, jika kesulitan datang menghampiriMu bawalah ia kepada sang Maha Kuasa. Pandanglah segala ciptaannya yang begitu sempurna agar kamu tidak meragukan kehadirannya selalu ada" . Mengenang pesan ayahnya seminggu sebelum tragedi maut itu terjadi
Ya Allah, jangan pernah tinggalkan Tiara. Tiara hanya punya Engkau yang selalu ada dan mengerti segala rasa Tiara. Peluk rindu Tiara untuk Mu ya Robbi...
Setelah puas menikmati indahnya malam yang temaram dan hati juga terasa lebih tenang, Tiara pun akhirnya masuk ke dalam rumahnya. Ia langsung menuju kamar dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Hah, hari yang melelahkan. Tapi alhamdulillah, kak Yosi akhirnya sudah pulang. Jadi bisa istirahat dengan tenang" Menjatuhkan tubuhnya di ranjangnya
Ia mengambil HPnya di meja yang tidak jauh dari tempat tidurnya, sedikit mengecek keadaan toko.
"Ada pesan, dari siapa ya" Masih trauma dengan kejadian beberapa hari lalu. Sebenarnya bu Mala memintanya untuk tidur di rumahnya, tetapi Tiara bersikeras untuk tetap Tidur di rumahnya sendiri karena ia lebih nyaman.
"Assalamu'alaikum adik Kakak yang manis, besok Kakak jemput ya. Kakak mau nagih janji yang hari itu" Pesan singkat Yosi
"Waalaikum salam warohmatulohi wabarokatuh, bukannya Kakak baru keluar dari rumah sakit. Kakak istirahat aja dulu sampai benar-benar pulih ya Kak, kalau masalah janji itu jangan khawatir. Tiara bakal tepati, yang penting sekarang Kakak sehat dulu" Balas Tiara
"Rasa penasaran Kakak mengalahkan rasa sakit dik, tolong jangan siksa Kakak seperti ini" Balas Yosi
"Kirain Kakak sudah tidur. Tiara bukan bermaksud seperti itu Kak, Tiara hanya ingin Kakak lekas sembuh" Kirim
__ADS_1
"Tumben gak di balas" Ucap Tiara dengan HP yang di pegang nya. Karena merasa lelah ia pun tertidur dengan HP yang masih di genggamnya
sedangkan yang di seberang sana masih belum tidur, ia masih memikirkan kejadian yang baru saja menimpa keluarga nya. ia ingin menuntaskan semua masalah sampai ke akar-akarnya, ia ingin tau dan ingin membuktikan bahwa ada hal lain yang masih belum terungkap. Ia meminta kepada pihak yang berwajib melanjutkan kasus sampai di meja hijau. Oleh karena itu, sebenarnya ia sedang berusaha keras mencari bukti bahwa Alvin juga terlibat kasus hilangnya adiknya.