PERAWAN CINTA

PERAWAN CINTA
kan ku ukir sejarah kita


__ADS_3

Mentari menyapa dengan kehangatannya, membuat penghuni bumi ini terasa dalam dekapan kasih sayang-Nya. Kehangatan itu di rasakan Tiara dengan kehadiran sahabat-sahabatnya yang selalu mengukir senyuman di bibirnya, Allah mengirimkan orang-orang yang begitu menyayanginya sebagai dekapan kasih sayang dari-Nya. Hal apa yang membuatmu merasa bahagia dan hidupmu berarti selain merasakan kehadiran-Nya di dalam setiap hembusan nafas mu.


Tania dan Rani masih terlelap, sepertinya mereka kelelahan karena mereka tiba tadi malam. Tiara yang tidak terbiasa tidur setelah subuh itu, langsung beraktifitas membereskan dan merapikan istananya. Memesan beberapa makanan kerena ia tidak ada persediaan apa pun untuk di masak.


"Assalamu'alaikum" Ucap seseorang di seberang pintu


"Wa'alaikumsalam warohmatulohi wabarakatuh," Jawab Tiara sambil membuka pintu


"Ustadz Lutfi, masuk ustadz. " Mempersilahkan Lutfi masuk ke apartemen nya


"Gak usah Ra, cuman mau mampir sebentar nanya kamu hari ini sibuk gak? Saya ada hal penting yang mau di sampaikan" Dengan wajahnya serius


"Ada apa ustadz, sepertinya penting sekali. Rencananya mereka pulang nanti sore, jadi saya mau ajak mereka keliling sekitar sini dulu ustadz" Jelas Tiara


"Oh gitu ya, kalau saya gabung boleh? " Tanya Lutfi


"Tentu saja ustadz, biar Kak Yosi ada temennya juga" Jawab Tiara


"Baiklah kalau begitu saya pulang dulu dan nanti saya nyusul kemana kalian ya" Lutfi langsung pergi dengan cepatnya


"Ia ustadz, assalamu'alaikum" Ucap Tiara


"Wa'alaikumsalam" Jawab Lutfi yang sudah setengah berlari karena memang dia sedang kegiatan joging


"Aneh ustadz Lutfi, ada apa ya? Jadi penasaran" Sambil perlahan menutup pintu


"Hayo, penasaran dengan apa itu" Tania tiba-tiba muncul


"Eh, udah bangun Tan. Rani di mana? " mengalihkan pertanyaan


"Dia lagi mandi. Aku lapar Ra, mesan makanan yuk" Pinta Tania


"Udah, bentar lagi datang kok. Sabar ya" Mencubit pipi Tania


"Tan, udah. Jadi mandi gak? " Suara Rani dari kamar


"Ia, bentar. " Jawab Tania


"Ya sudah sana mandi dulu. siap mandi, makanan menanti" Jawab Tiara


"Dulu udah Ra, sekarang yang belum" Sambil ninggalin Tiara

__ADS_1


"Iya, iya. Sono mandi sekarang" Ucap Tiara tersenyum


Benar saja, tidak lama Tiara meninggalkan pintu. Pesanannya pun datang, Tiara bergegas mengambilnya dan meletakkannya di meja makan.


"Rani. kalau sudah dandanannya, ayo kita makan. Jangan lama-lama, entar dingin gak enak lo" Ajak Tiara yang sedang mengeluarkan pesannya


"Ok, I am coming" Tanpa menunggu lama sudah muncul di depan Tiara


"Tania belum kelar mandinya Ra? " Tanya Tiara


"Baru keluar kamar mandi," Langsung terputus


"Yuk kita makan, lapar banget nih" Tania langsung bergegas menuju meja makan yang sudah tersedia beberapa makanan untuk di santap


"Kamu belum sisiran Tan, " Rani melihat penampilan Tania yang masih menggulung rambutnya dengan handuk dan dengan pakaian seadanya


"Sebaiknya saya kunci dulu pintu ya, takut ada maling tiba-tiba datang" Senyum Tiara yang khawatir ada orang datang melihat apa yang ada di dalam apartemen mereka saat ini


Tanpa menunggu lama, mereka memakan makanan yang sudah memanggil-manggil dari tadi untuk di habisin. Dan tentu saja perut mereka juga sudah minta di mengerti karena memang sudah jamnya.


*****


"Assalamu'alaikum" Ucap Lutfi menghampiri Tiara dan para sahabatnya yang sedang asik menikmati pemandangan di Galata.


"Mau ke Tiara, boleh? " Tanya Lutfi balik


"Boleh, tentu saja ustadz. Kami boleh ikut kan?" Tanya Tania lagi


"Tentu saja, sekalian ngajak kalian ke sana. Kalian perlu melihat salah satu peradaban dunia dan akan menjadi sejarah saya juga nantinya" Senyum Lutfi penuh arti


"Dengan senang hati ustadz, " Rani bersemangat namun ada seorang yang masih gelisah hatinya melihat kedekatan Lutfi dan Tiara. Yosi dengan perasaan cemburu tetap mengikuti langkah mereka


Ya, masjid biru. Mereka mengelilingi setiap tempat yang ada, merasa bangga dengan sebuah karya yang menunjukkan keindahan rumah-Nya. Semoga sebesar dan semegah ini jualah nama-Nya bertahta di hati kita, sehingga tiada tempat untuk yang lainnya.


Ting


"Bisa bicara sebentar Tiara" Pesan singkat itu datang dari Lutfi yang sedang asik duduk di taman masjid menikmati keindahan masjid secara menyeluruh.


Ting


Baru selesai membaca pesan dari Lutfi, ada pesan masuk lagi dari Yosi

__ADS_1


"Bisa bicara sebentar Ra" Tulis Yosi yang entah di mana orangnya, tidak kelihatan dari tadi.


"Mereka kenapa sih, apa mau ngerjain." Ucap Tiara sendiri yang tanpa di sadarinya, Yosi sudah berada di belakangnya


BAIK-BAIK SAYANG ADA AKU UNTUKMU


tiba-tiba ponsel Yosi berbunyi, panggilan dari perusahaan yang di kelolanya.


"Astaghfirullah" Ucap Tiara yang terkejut melihat Yosi yang ada di belakangnya


"Bentar ya Ra, angkat telpon sebentar" meninggalkan Tiara sendirian karena Tania dan Rani asik mengelilingi bangunan megah itu dan berselfi ria. Tiara yang sudah sering memilih untuk duduk di depan masjid megah itu sambil mengutak atik ponselnya yang ternyata ia sedang membaca laporan yang di kirim dari karyawannya dari email.


"Assalamu'alaikum bidadari cantik" Ucap Lutfi tiba-tiba yang sudah ada di depannya


"Wa'alaikumsalam salam ustadz, maaf belum balas pesannya. Kebetulan ustadz sudah di sini, emangnya apa yang mau di bicarakan ustadz? " Tanya Tiara sambil mematikan ponselnya sementara


Tanpa menjawab langsung pertanyaan dari Tiara, Lutfi meletakkan satu lututnya di lantai dan mengeluarkan kotak cincin di hadapan Tiara


"Maukah kamu menjadi bidadariku" Ucap Lutfi dengan penuh perasaan. Wajah tampannya di hiasi senyuman yang begitu ikhlas dengan kesungguhan hati


Tiara yang tidak menyangka hal itu hanya mampu membeku, seakan waktu berhenti berputar dan pikirannya pun tak mampu menjalankan tugasnya sebagaimana biasanya.


"Gimana Tiara,? " Merasa tidak nyaman karena orang-orang mulai memandang mereka


"Boleh gak, kasih waktu Tiara untuk bertanya pada pemilik hati ini ustadz" Ucap Tiara yang mulai sadar karena tatapan orang-orang ke arah mereka


"Baiklah, ini kamu simpan. Jika kamu siap, silahkan kamu pakai ya. Namun jika kamu bukan di takdirkan untuk saya, biarlah dia tetap untukmu sebagai lambang bahwa saya pernah menjadi bagian sejarah dari hidupmu" Menyerahkan kotak cincinnya kepada Tiara


"Ce ile, ada yang di lamar ni" Tania dan Rani bertepuk tangan ke arah Tiara


"Selamat ya Ra" Ucap Tania dan Rani sambil memeluk Tiara hari


Yosi yang menyaksikan dari adegan saat Lutfi berlutut di hadapan Tiara, memahami bahwa Tiara belum memberikan jawabannya untuk Lutfi. Namun entah kenapa hatinya semakin tidak menentu dan meninggalkan mereka tanpa ada yang tau. Entah kemana arah langkahnya, ia hanya mengikuti kakinya berjalan menenangkan hati yang terus bergejolak seperti ombak yang tidak menentu.


"Maaf, saya ada janji sama teman. Saya tinggal kalian tidak apa-apa kan" Ucap Lutfi yang memang sebenarnya ada kegiatan bersama organisasi yang di pimpinnya, karena hatinya selalu merasa tidak aman makan ia amankan terlebih dahulu. Urusan hasil sudah ia pasrahkan kepada sang Maha Penentu takdir yang terbaik untuk setiap hambanya.


"Ia ustadz, silahkan" Ucap Tiara yang merasa tidak seperti biasanya jika berbicara dengan ustadz Lutfi


"Assalamu'alaikum" Sambil melangkah meninggalkan mereka


"Wa'alaikumsalam salam warohmatulhi wabarakatuh" Mereka memandang kepergian Lutfi yang terlihat terburu-buru.

__ADS_1


"Wah, luar biasa ustadz Lutfi ternyata ya. Mengungkapkan perasaannya dengan romantis dan tanpa basa basi" Rani berkata sambil tetap memandang Lutfi yang semakin jauh terlihat


__ADS_2