
Tidur sebentar yang Ana maksud ternyata tidur dari pagi hingga matahari beranjak tenggelam.
Naki mendengkus kesal. Dia bahkan sudah membuas SOS itu seorang diri. Tetapi Anna masih belum bangun juga. Hal itu membuat Naki geram dan bosan melihatnya.
"Apa dia mati?" gumam Naki. Sudah satu jam dia duduk pada tempatnya sambil memperhatikan Ana.
Tiba-tiba perhatian Naki tertuju pada benda dua menonjol yang sangat menarik di matanya. Naki berusaha membandingkan milik Ana dengan miliknya.
"Kok punya saya rata, ya? Tetapi kenapa punya Ana seperti itu?"
Dengan saksama Naki memperhatikan lagi. Rada mirip dengan punya mama gorila, tetapi milik Ana jauh lebih besar tiga kali lipat.
Pelan tapi pasti Naki menjulurkan tangannya. Dia mengelus-elus benda itu dengan jari-jemarinya.
"Lembut sekali. Saya jadi penasaran dengan isinya," guman pria yang polosnya kebangetan itu. Sementara di dalam mimpi Ana langsung memimpikan adegan romantis bersama Taehyung BTS.
"Lucu sekali." Naki menekan benda itu lebih keras saking gemasnya.
Kontan Ana berteriak. Sakit tak tertahankan menjalari bagian sensitif itu.
"Arghhhh! Sialan! Dasar pria mesum!
Plak ... Plakk ... Plak ...plakk ... Plak.
Ana menampar Naki sebanyak mungkin. Tangannya sampai kesemutan karena pipi Naki keras bak pohon jati.
__ADS_1
"Beraninya kamu nyentuh balon berharga aku, kamu mau mati ya?"
"Maaf, memangnya saya salah apa? Kenapa kamu menampar saya?" Naki malah bertanya dengan wajah polos. Hal itu membuat Ana gempar dan emosi tingkat tinggi.
"Tidak tahu diri! Kamu sudah berani menyentuhku malah bersikap sok polos! Memangnya kamu om polos," kesal Ana.
"Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau kamu tidak suka disentuh," ujarnya.
"Maaf?" Ana menajamkan pendengarannya sambil menyentuh daun telinga. "Kamu sudah menyentuh harta berharga yang belum pernah dipegang oleh kampret mana pun, sekarang dengan enaknya kamu mau minta maaf doang?"
"Lalu saya harus bagaimana? Jika kamu ingin menyentuh milik saya juga, saya tidak keberatan kok." Naki menyodorkan dada lebarnya ke hadapan Ana.
Sontak gadis itu menelan salivanya gugup. Dan segera ia berpaling ke mana pun asal tidak melihat lapangan sehat bergizi sumber kemesuman tersebut.
"Santuy sekali kamu menawarkan milikmu yang selalu diumbar ke mana-mana. Kita itu berbeda jenis, punyaku adalah jenis yang tidak boleh dipegang oleh siapa pun," tandas Ana geram.
"Sudahlah, tidak perlu dibahas lagi!" Sambil mendorong tubuh Naki agar menjauh sedikit.
Naki menggaruk kepala bagian belakangnya bingung. Ia tidak tahu harus berbuat apa melihat tingkah Ana yang merajuk-rajuk dan enggan melihatnya. "Emm, tapi saya sungguh penasaran dan ingin tahu benda aneh yang mengantung itu. Sebelumnya saya juga tidak tahu kalau benda besar itu tidak boleh dipegang."
"Eh, dasar manusia ngga tau diri ya! Gak usah dibahas lagi, Sialan!" Sontak Ana menutupi bagian dadanya sambil berdecak frustrasi.
Ya Tuhan, kenapa aku harus bertemu dengan manusia yang lahirnya otodidak seperti ini, sih? Bahkan organ manusia saja dia tidak tahu. Manusia purba edisi macam apa dia sebenarnya?
"Maaf tapi saya harus bagaimana?" Naki terus menerus bertanya dengan bahasa baku dan sopan. Mebuat Ana muak mendengar gaya bicaranya yang setara dengan anakan google translator.
__ADS_1
"Stop! Stop ngomong dengan bahasa sok baku. Muak tau, dengernya."
"Em, saya sudah lupa bahasa manusia. Jika kamu mau mengajari bahasa yang seperti kamu gunakan, saya akan dengan senang hati mempelajarinya."
"Cih!" Gadis itu memalingkan wajahnya. Bisa-bisanya dia berkata begitu setelah membuat Ana marah.
"Pokonya kamu harus mengganti kata saya menjadi aku."
"Aku," ucap Naki.
"Nah bagus. Begitu baru anak jaman sekarang. Kata saya itu hanya dikhususkan buat yang tua. Dan kayaknya kamu sama aku tuaan kamu."
"Makasih sudah mau mengajari aku Ana." Naki langsung mempraktekan supaya mulai terbiasa ngomong aku kamu.
"Eh, kayu buat bikin SOS, nya mana? Udah di kumpulin?"
"Itu!" Telunjuk Naki menunjuk tanda SOS yang sangat besar. Ana langsung terkesima. Padahal dia hanya menulis di pasir untuk contohnya. Tetapi Naki berhasil mengerjakan semua itu dengan benar.
"Semoga ada helikopter atau pesawat yang lewat, ya. Dengan begitu kita bisa keluar dari pulau sialan ini," ujar Ana. Naki hanya diam karena dia tidak berniat pergi kemana-mana. Bahkan dia merasa lebih senang bermain dengan ular kobra daripada manusia ribet merepotkan seperti Ana.
"Tapi sejauh ini aku tidak pernah melihat helikopter yang kamu maksud itu," ujar Naki. Karena saat kecil Naki pernah punya mainan helikopter, jadi dia sedikit paham gambaran benda terbang yang Ana maksud.
"Kita tidak boleh menyerah Naki. Aku ingin pulang."
"Semoga kamu bisa pulang. Aku ikut senang kalau kamu senang, Ana."
__ADS_1
Mulai saat itu Naki berjanji akan mengganti kata 'saya' dengan 'aku' supaya Ana senang.