Perjaka Tampan Dari Hutan

Perjaka Tampan Dari Hutan
Belahan Bumi Lain


__ADS_3

Bergeser sedikit ke sudut dunia tepatnya di hutan tempat Naki tinggal. Pagi itu matahari sudah mulai meninggi. Tak jauh beda dengan Ana, Naki masih setia bergulang-guling di atas tikar sambil memandangi langit-langit yang terbuat dari lembaran kayu sikayu.


Sesekali pria itu menarik napas panjang. Dia melirik ke arah jendela di mana para peliharaan kesayangannya sudah teriak-teriak ingin mengajak bermain atau sekadar mandi di air terjun.


"Pergilah, aku masih ingin di sini," teriak Naki pada sala satu gajah yang sedang memainkan pintu dengan belalainya.


Biasanya pagi-pagi begini Naki sudah pulang dari hutan sambil membawa buah-buahan untuk Ana. Namun, buah yang kemarin ia petik saja masih ada. Kelinci panggang yang semalam Naki bakar juga tidak disentuh sama sekali oleh pria itu.


Sejak kemarin Naki tak bersemangat makan. Semenjak tak ada Ana Naki jadi menyadari kalau makan sendiri itu tidak enak sama sekali.


Hidup ini memang sialan.


Bertahun-tahun Naki berusaha menyesuaikan diri dengan hutan dan para penghuninya. Tapi semenjak ada Ana penyesuaian diri Naki luntur seketika. Dia selalu mendamba segala momen-momen yang di laluinya bersama Ana. Terutama momen saat bangun pagi dan mendapati Ana sedang bergulung di pelukannya.


Naki kemudian duduk menekuk lutut untuk menyembunyikan pedang kegelapan yang sejak tadi pagi terus memberontak.

__ADS_1


Pikiran Naki melanglang buana pada kejadian kemarin saat tangan ajaib Ana berhasil membuatnya melayang-layang dalam rasa tak karuan.


Kenapa tangan itu bisa membuatnya jauh lebih nyaman? Rasanya Naki ingin merasakan hal itu sekali lagi. Dia berusaha memegang pedang kegelapan itu menggunakan tangannya sendiri, tapi rasanya tidak sama dengan tangan Ana.


Pagi ini Naki uring-uringan karena misteri yang sulit dipecahkan itu.


Apa rasa aneh itu hanya akan berfungsi kalau menggunakan tangan Ana saja? Argh, Naki hampir gila memikirkan sensasi yang baru pertama kali ia rasakan itu.


Sejenak Naki terdiam. Ia pandangi 3 potong baju yang menggantung di dinding kayu. Naki tersenyum mengingat bagaimana susah payahnya Ana membuat 3 stel baju itu untuk dirinya.


"Ganti dan cucilah baju itu dua hari sekali!"


Sekitar jam makan siang akhirnya Naki keluar. Dia agak terkejut saat melihat para sahabatnya berkumpul di sana. Mereka seolah mengerti sedih yang Naki rasakan saat ini.


"Apa kalian sedang mengasihaniku?"

__ADS_1


Naki bergumam sambil memandangi hewan-hewan itu. Ia tatap satu persatu hewan-hewan buas itu. Ternyata mereka semua hidup berpasangan dan memiliki keturunan.


Miris.


Kini Naki menyadari kalau hewan-hewan itu bukan keluarganya. Mereka tunduk pada Naki karena lelaki itu berhasil menaklukan hutan hingga dinobatkan menjadi raja hutan oleh semua penghuninya.


Semua hewan yang ada di sana patuh berkat kehebatan Naki dalam menguasai hutan. Meskipun para hewan itu terlihat sayang dan peduli, mereka tak ada yang bisa menggantikan sosok Ana.


Kini Naki mulai menyadari bahwa Ana jauh lebih berharga dari hutan dan hewan-hewan peliharaannya.


"Naki, manusia itu harus hidup dengan manusia. Sebaik apa pun hewan, mereka tidak akan bisa menjadi keluarga manusia."


Kata-kata Ana yang satu itu makin membuat Naki terngiang-ngiang tidak karuan. Entah berapa kali Ana mengingatkan, tapi Naki baru bisa paham setelah orangnya tidak ada.


Untuk pertama kalinya Naki merasa hutan bukan tempatnya. Hewan-hewan yang dianggap keluarga juga bukan keluarganya karena mereka punya keluarga sendiri-diri.

__ADS_1


"Arghhhhhhh!"


Naki berteriak frustrasi. Teriakan itu melengking kuat. Naki berharap Ana mendengar jerit pilu yang ia rasakan saat ini.


__ADS_2