
Pagi-pagi sekali Nasya sudah rapi dan bersiap pergi setelah sarapan.Vanilla bahkan belum mandi, tapi perempuan itu sudah berniat untuk pergi entah kemana.
"Kamu mau kemana pagi-pagi begini?" Naki yang kesal melihat itu langsung menegur Nasya. Ekor matanya melirik tidak senang.
Dengan angkuhnya Nasya menoleh. "Aku mau pergi bersama teman-temanku. Lama-lama aku bisa gila kalau tinggal di rumah ini dengan kehadiran perempuan itu," ujar Nasya jutek.
"Tapi Vanilla belum dimandikan. Memangnya kamu tega meninggalkan Vanilla yang masih tidur? Kalau dia nyariin kamu gimana?"
Nasya menoleh garang. "Kan ada kamu! Kamu juga Ayahnya. Toh dia juga punya tiga babysitter, jadi ngapain bingung?"
Perempuan itu kemudian mengambil tas di atas nakas. Dia hendak melenggang pergi, tapi buru-buru Naki mencekal lengan Nasya supaya tidak pergi.
"Ini masih terlalu pagi. Aku tahu kamu marah sama aku karena aku belum bisa bujuk Kakek untuk ngusir Ana. Tapi bukan begini caranya. Pergi dari masalah bukan solusi," ujar Naki.
Mendengar itu Nasya makin meradang. Naki ini memang tipe pria yang minim akan ketegasan. Itu sebabnya dia mudah sekali terperdaya. Dan tidak menutup kemungkinan Ana juga akan menggunakan cara yang sama untuk memperdaya Naki.
"Kamu bukannya belum bisa membujuk Kakek. Tapi kamu memang tidak ada niat buat ngelakuin itu. Aku tau 'kok, kamu sendiri juga ingin perempuan itu tinggal di rumah ini. Ngaku aja, iya 'kan?"
"Aku tidak begitu."
"Tapi tatapan mata kamu ke dia menjawab semuanya," sanggah Nasya dengan cepat. Dia membenarkan tas di pundaknya yang agak melorot. "Sudahlah, hari ini aku mau nenangin diri dan nggak mau diganggu. Kalau kamu mau berduaan sama Ana ya silakan saja."
"Siapa yang begitu? Aku hanya belum menemukan cara yang pas buat ngusir dia! Kamu 'kan tahu sendiri dia tidak melakukan kesalahan apa-apa di rumah ini."
"Belain aja terus," sungut Nasya benar-benar kesal.
Setelah mengatakan itu Nasya langsung berlalu keluar kamar. Melihat itu dia hanya diam sambil sesekali menarik napas panjang. Naki tahu kalau Nasya sedang marah kepadanya karena belum bisa mengusir Ana sampai detik ini.
Tapi, tak seharusnya Nasya bersikap seperti itu. Menurut Naki Ana tidak melakukan apa pun yang mengusik hidup Nasya. Ana juga tidak pernah mendekati Naki seperti apa yang dituduhkan oleh Nasya. Jadi tak ada alasan untuk Naki membenci gadis itu.
Vanilla yang masih tidur mulai menggeliat-geliat kecil. Buru-buru Naki menggendong gadis kecil itu menuju ke luar. Naki mencari baby sitter untuk membantunya memandikan Vanilla.
***
Di sisi lain, Adam masih ada di kamar Ana. Sesuai rencana, mereka sengaja tidur di kamar yang sama agar perhatian Naki terhadap Ana lebih intens lagi.
"Om." Ana memanggil Adam yang sedang berdiri di kaca. Lelaki itu sedang memakai dasi dan bersiap untuk berangkat kerja.
"Ada apa, Ana? Apa ada sesuatu yang kamu butuhkan?"
Ana menggeleng dengan cepat. Dia menatap Adam yang juga menatap dirinya dari pantulan kaca.
"Memangnya perlu banget ya, kalau aku jadi pelakor? Aku si mau saja membantu keluarga ini untuk menyadarkan Naki. Tapi sejujurnya, ketimbang jadi pelakor aku lebih suka jadi istri Om. Gimana kalau kita nikah aja?"
__ADS_1
"Pfttt."
Adam tak bisa menahan tawanya. Dia menoleh pada Ana lalu mendekat secara perlahan.
"Memangnya kamu mau nikah sama aku?"
"Mau aja sih! Kita sama-sama single. Kenapa tidak?" ucap Ana. Dua bahunya mengedik santuy. Adam makin tertawa lepas melihat wajah Ana yang tampak begitu polos.
"Memangnya kamu cinta sama aku?"
"Engga sih, Om! Tapi kalau di novel-novel, jatuh cinta itu mudah. Banyak kok yang nikah tanpa cinta tapi akhirnya bisa saling jatuh cinta."
"Maksudmu di novel itu?"
Dengan polosnya Ana mengangguk. Bulu matanya yang lentik sedikit berkeling-keling.
"Itu hanya sebuah Novel Ana. Dan dunia nyata tidak seindah Novel yang kamu baca. Mereka memang sengaja menulis cerita romansa karena itu merupakan pasaran Indonesia. Tapi kalau di dunia nyata, cinta tidak semudah itu. Buktinya kamu. Sudah tahu Naki dan Nasya hidup bahagia, tapi kamu masih belum bisa melupakannya, bukan?"
"Justru itu masalahnya. Kalau kita nikah, aku pasti bisa lupain Naki. Kita cukup bantuin dia sadar dan bikin Nasya taubat. Beres, 'kan?"
"Tidak bisa beres semudah yang kamu katakan. Menurutku orang seperti Nasya tidak akan taubat selama masih ada kesempatan untuk berbuat jahat. Tetap sesuai rencana saja, jangan ngomong aneh-aneh."
"Huh." Ana melipat tangannya di depan dada. Dia memalingkan wajah, enggan menatap Adam.
"Kamu siap-siap, aku bakalan ngajak kamu ke suatu tempat biar kamu nggak mampu ngajak aku nikah lagi."
"Kemana?" Dahi gadis itu sedikit mengkerut.
"Pokoknya aku ingin menunjukkan sesuatu. Sebenarnya ini di luar rencanaku, tapi daripada kamu terus-terusan ngomong ngelantur, lebih baik kamu ikut aku saja," ujar Adam.
"Ya sudah aku mandi dulu."
"Aku tunggu di ruang depan. Kalau sudah selesai hubungi aku."
"Iya." Ana gegas ke kamar mandi, sementara Adam keluar dari kamar itu sambil menenteng tas kerjanya. Dia berniat kembali ke kantor setelah berhasil menunjukkan sesuatu yang ia janjikan itu pada Ana.
***
Selesai dengan kegiatan mandinya, Ana keluar dengan pakaian rapi dan tubuh yang wangi. Dari arah lain dia mendengar suara berisik-berisik, sepertinya itu adalah suara Vanilla yang tengah menangis histeris di sana.
Perlahan kaki gadis itu melangkah mengikuti rasa penasarannya.
Ana nyaris tak berkedip saat melihat Naki sedang memandikan Vanilla dibantu oleh salah satu baby sitternya.
__ADS_1
"Jangan kesana. Mau ngapain?" Adam menegur. Jarak mereka dengan posisi kamar mandi yang terbuka itu sekitar 10 meter.
"Dia memang selalu memandikan anaknya?" Tatapan mata Ana tertuju pada punggung besar Naki. Seperti manusia-manusia yang ada di kamar mandi itu belum menyadari kalau ada Adam dan Ana yang memperhatikan.
"Bukannya kemarin aku sudah bilang kalau Naki selalu diperlakukan seperti baby sitter oleh istrinya?"
"Terus Nasya kemana, masa iya dia tidak membantu sama sekali?"
"Entahlah." Adam mengedikkan setengah bahunya. "Mungkin Nasya sedang pergi," ujarnya.
Tak lama kemudian Naki menoleh. Dia menyadari kalau Adam dan Ana sedang memperhatikan mereka. Bertepatan dengan itu Vanilla juga sudah selesai dimandikan, tapi sayang anak itu masih terus saja menangis tanpa berhenti.
"Ngapain kalian! Ini terlalu pagi untuk pamer kemesraan di depanku, aku sedang sibuk," ucap Naki ketus. Ana kasihan pada anak itu. Tapi ia benar-benar kasihan terhadap Vanilla yang terus saja menangis.
"Coba sini aku lihat, sepertinya dia ada masalah," ucapnya sembari menarik Vanilla dari tangan pengasuhnya.
Tanpa memperdulikan Naki ataupun Adam, Ana terus membawa Vanilla menuju kamarnya. Dia membaringkan Vanilla, mengecek bagian perut, dan benar dugaan Ana. Vanilla mengalami kembung sehingga membuat perutnya rewel.
"Vanilla kenapa?" tanya Naki agak cemas.
Perutnya kembung." Ana melakukan sedikit pijatan pada perut anak itu. Perlahan Vanilla mulai tenang setelah beberapa kali sendawa.
"Tolong minta pelayan membuatkan sup hangat untuk Anak ini. Oh ya, mana cadangan ASI? Sepertinya dia haus."
Ana celingak-celinguk.
"Maaf, Non. Vanilla tidak minum ASI sejak kecil." Suster kemudian menyodorkan sebotol susu formula pada Ana. Dia cukup tercengang mendengar ungkapan suster barusan.
"Anak sekecil ini tidak diberi ASI? Apa istrimu sesibuk itu sampai tidak bisa menyusui?" sindir Ana penuh telak. Naki hanya diam.
Karena dia sedang butuh Ana untuk menenangkan Vanilla, jadi Naki tak banyak protes atau bicara. Dia membiarkan Ana ngoceh sambil mengelus-elus anak kecil berusia dua tahun itu.
"Kamu bapaknya, kenapa kamu nggak nyuruh istri kamu menyusui?" tanya Ana galak.
"Nasya bilang menyusui tidak bagus untuk tubuhnya. Lagi pula, apa gunanya susu formula jika tidak dibeli? Susu itu juga bagus, aku membeli yang paling mahal untuknya."
Mendengar itu Ana semakin geram. Ia benar-benar kesal terhadap Nasya dan juga Naki.
"Sudah jangan ribut. Kita sudah hampir telat. Berikan saja Vanilla pada ayahnya kalau sudah anteng," ucap Adam. Ia yakin kalau dibiarkan Ana dan Naki pasti akan segera terlibat adu mulut.
"Aku cuma nggak tega lihat anak kecil ini tersiksa, Om. Anak selucu ini tidak seharusnya punya orang tua yang otaknya dangkal. ASI itu penting. Tidak ada yang buatan manusia yang melebihi buatan sang pencipta. Semahal apa pun susu yang kamu beli, itu sama sekali tidak ada bandingannya dengan air susu ibu."
Ana kemudian memberikan Vanilla kepada Naki. Persetan dengan anak itu yang kembali menangis, yang jelas Ana benar-benar kesal terhadap mereka berdua.
__ADS_1