Perjaka Tampan Dari Hutan

Perjaka Tampan Dari Hutan
Jatuh Cinta


__ADS_3

Ana melangkah maju tanpa menengok ke belakang sama sekali. Gadis itu sudah nyaris menembus area pantai. Dia berharap Naki memanggil, tapi kenyataan yang diterima membuat sudut hatinya terasa nyeri.


Perempuan itu kemudian menatap tangan kirinya yang masih gemetar. Pikirannya seketika amburadul. Ana tidak menyangka akan menggunakan tangan kecil itu untuk hal-hal yang kotor.


Tuhan pasti mengutukku karena telah menggunakan cara yang salah, batin Ana. Ia menghentikan langkah kakinya. Lalu mengelap sudut matanya dengan tangan satu lagi.


"Naki, kenapa setelah semua yang kita lakukan kamu masih belum mau pergi dari tempat ini? Apa aku tidak penting sama sekali untukmu?"


Air mata Ana jatuh ke permukaan tanah. Sekali lagi kepala gadis itu menengok ke arah belakang dengan harapan Naki akan datang. Ana meremas dada. Rasanya begitu sakit menerima kenyataan Naki tidaklah muncul sampai detik ini.


"Ana ...." Nasya berteriak ketika menyadari kehadiran gadis itu. Nasya sudah duduk di sebuah tenda perkemahan yang nantinya akan dipakai untuk bermalam. Ana kemudian mendekat, ia menghempaskan kopernya yang berat begitu sampai di tenda tersebut.


"Ana bagaimana keadaan Naki? Apa dia masih marah karena aku meninggalkannya begitu saja?" Tangan halus Nasya menyentuh lengan Ana. "Maaf Ana ... Bukannya aku tidak percaya pada Naki. Hanya saja dia terlalu asing untukku. Kamu pasti tahu kalau aku tidak suka bertemu orang baru," ujarnya.


"Tidak masalah, Sya. Sudah tidak perlu dipikirkan. Toh Naki tidak mau ikut kita kembali," ucap Ana.

__ADS_1


"Sebenarnya dia itu siapa si, Ana? Kenapa dia bisa ada si sini?" tanya Nasya penasaran.


Ana menggeleng. "Aku tidak begitu paham. Kalau tebakan aku Naki adalah anak orang kaya yang sengaja dibuang oleh ibu tirinya. Meskipu Naki tidak pernah membicarakan harta, tapi aku yakin alasan Naki dibuang pasti karena harta."


"Memangnya usia Naki berapa tahun saat dibuang?" tanya Nasya. Dia menatap hikmat seolah tertarik sekali mendengar cerita tentang anak itu.


"Naki bilang sekitar umur 8 tahun. Tapi itu tidak pasti," ujarnya. Mata Ana melirik ke tenda di sebelahnya. Tampak tiga tim SAR itu tidur pulas saking lelahnya. Padahal saat ini matahari tepat berada di atas kepala.


"Tapi kalau dibuang saat umurnya delapan tahun seharusnya Naki tidak sebodoh itu, An. Maaf bukannya aku bermaksud menghina. Tapi dia memang terlihat seperti manusia idiot dan bodoh." Nasya berpendapat. Pendapatan itu pun disambut anggukan kepala oleh Ana.


Di kehidupannya Ana berprofesi sebagai seorang perawat. Meskipun tidak sehebat dokter, tapi kemampuan medis seorang perawat cukup lumayan juga.


Nasya mengangguk. "Tapi kasihan juga kalau anak itu tidak ikut, An. Apa kamu benar-benar tidak mau membujuknya?"


"Membujuknya sangat susah, Sya." Ana mendesahkan napas berat. Andai Nasya tahu cara terakhir yang Ana gunakan untuk membujuk Naki dia pasti akan kaget. Hal itu terlalu memalukan untuk diceritakan.

__ADS_1


Mata Nasya melihat ke tiga tim SAR yang tengah tertidur. "Bagaimana kalau kita minta bantuan tim SAR untuk memaksanya?" usulnya gadis itu.


"Itu tidak mungkin, Sya. Selain tubuhnya yang tinggi dan besar, Naki juga memiliki ketangkasan yang luar biasa. Jangankan mereka ... garimau dan hewan-hewan buas lainnya saja takut pada Naki."


Mulut Nasya menganga. Kepalanya menggeleng nyaris tidak percaya. "Mengerikan sekali, An. Bagaimana bisa kamu hidup dengan manusia seperti itu selama ini?"


"Percaya atau tidak! Terlepas dari semua itu Naki adalah pria polos yang sangat lembut. Jika kamu sudah tahu caranya komunikasi dengan Naki pasti kamu akan merasa nyaman."


"Ah, kamu terlalu berlebihan memujinya Ana." Nasya menoleh pada gadis itu. Dia sedikit curiga saat melihat senyum terbit dari bibir Ana.


"Jangan-jangan itu karena kamu sudah jatuh cinta sama raksasa itu?"


"Eh?"


"Jatuh Cinta?"

__ADS_1


__ADS_2