Perjaka Tampan Dari Hutan

Perjaka Tampan Dari Hutan
Siapa Dia?


__ADS_3

Kembali lagi pada Adam dan Ana. Mobil yang dikendarai Adam melaju entah kemana. Mobil itu terlihat melewati area pantai, lalu naik ke sebuah bukit yang cukup tinggi.


"Kita ini sebenarnya mau ke mana si, Om? Sudah setengah hari kita di mobil, dan Om belum mau kasih tahu juga tujuan Om mau kemana," keluh Ana.


"Kamu santai saja, sebentar lagi kamu juga bakalan tau kita mau ke mana," ujar Adam.


"Gimana bisa santai? Badan aku aja pegel-pegel semua gini, tauk." 


Adam sedikit tertawa melihat tingkah Ana. Dia menoleh sejenak. Lalu mengusap lembut kepala gadis itu dengan telapak tangannya.


"Jangan bikin aku baper kalau nggak mau nikahin aku," sungut Ana.


Lagi-lagi Adam hanya tertawa. "Kamu itu menggemaskan. Tapi sayang kamu bukan selera aku Ana. Kamu cocoknya cuma sama Naki," ujar Adam.


"Naki sudah ada yang punya, lebih baik sama Om saja yang jom-belo,x" balas Ana penuh penekanan. Matanya kemudian mengedar ke arah samping.


Tampak hamparan pantai yang sangat indah terjadi di depan mata. Sejenak pikiran Ana melanglang buana pada gadis kecil yang tadi sengaja Ana tinggalkan saat menangis. 


Kira-kira Vanilla sekarang lagi apa? 


Seberkas rasa bersalah muncul di kepala. Ia memang benci sekali terhadap Nasya, tapi ia tidak pernah sedikit pun ana membenci Vanilla yang tidak tahu apa-apa. Gadis kecil itu sepertinya kurang perhatian dari sosok ibu. Buktinya saat digendong Ana, Vanilla langsung menempel seperti pada ibu kandungnya sendiri.


Tring ….


Ponsel Adam bergetar.  Tampak nama orang suruhannya memenuhi seisi layar. Adam pun langsung mengangkat panggilan tersebut.


"Apa, diambil?" Adam berteriak murka. Ana yang kebetulan sedang melamun sontak menoleh. Ia kaget mendengar teriakan Adam yang cukup mengerikan.


"Sialan, kamu memang tidak becus kerja!" Adam kembali memaki. Lantas membuang ponsel itu ke sembarang arah tanpa mematikannya.


Ana yang melihat itu cukup tertegun. Dia kaget sekaligus takut dengan sikap Adam. Ana bahkan tak berani menanyakan apa-apa pada lelaki itu.


Menyadari gadis di sampingnya mencicit, Adam menepikan mobilnya sejenak. 


"Sorry, apa teriakan ku tadi membuat kamu kaget? Tadi aku refleks. Aku lupa kalau ada kamu di sampingku," ucap Adam lembut.,

__ADS_1


"Emm, sedikit. Kalau boleh tahu memangnya ada apa?" tanya Ana takut-takut. Dia menatap Adam sedikit ragu.


"Aku baru saja kehilangan benda pentingku. Kamera yang digunakan mata-mataku untuk memata-matai Nasya dan selingkuhannya berhasil direbut. Jadi aku harus mulai lagi dari 0," ujar Adam.


"Apa lelaki itu adalah Ayah dari Vanilla?" tanya Adam. 


"Sepertinya begitu karena mereka sudah berhubungan lama sebelum ada Naki. Memangnya kenapa kamu menanyakan hal seperti itu?" Adam kembali menyalakan mobilnya. Perlahan mobil itu melaju dengan kecepatan sedang.


Ana sedikit termenung. Di kepalanya saat ini ada sebuah pernyataan yang melintas di kepala. Tapi dia belum yakin untuk mengatakannya.


"Ana, kenapa diam? Kamu belum menjawab pertanyaanku," ujar Adam lagi. Sejenak dia melirik Ana, lalu memfokuskan dirinya pada jalan raya lagi. Mereka sebentar lagi akan sampai di tempat tujuan.


"Entah benar atau tidak, tapi aku merasa Vanilla bukanlah anak Nasya."


Shittt.


Adam mengerem mobilnya secara dadakan.


"Apa kamu bilang?" 


"Ini baru dugaan saja. Menurut apa yang aku lihat, sikap Nasya kepada Vanilla cenderung cuek. Tadinya aku berpikir kalau Nasya memang tidak suka anak kecil, tapi setelah ditelaaah ulang, sepertinya dia bukan tidak suka anak kecil."


"Jadi menurut kamu dia bukan anak Nasya atau pun Naki? Dia sengaja menghadirkan anak itu untuk sandiwara?"


"Ini hanya kecurigaan," ujar Ana.


Adam berusaha memutar memorinya ke beberapa tahun lalu. Jujur dia memang melihat sendiri kalau Nasya hamil dan perutnya membesar, tapi dia tidak tahu persis momen-momen saat Nasya melahirkan. 


Tiba-tiba saja Naki mengabari kalau Nasya melahirkan, dan saat pulang dari rumah sakit Adam sudah mendapati Vanilla yang sedang digendong Naki.


"Dulu si Naki pernah bilang kalau Nasya melahirkan dadakan di sebuah klinik. Dia juga ikut menemani Nasya saat melahirkan. Tapi aku tidak melihat langsung kejadian itu. Apakah Naki bohong? Apa sebenarnya dia tahu kalau anak itu bukanlah anak mereka?"


"Dari cara Naki memperlakukan Vanilla yang seperti anak sendiri, kemungkinan besar dia tidak tahu apa-apa," jawab Ana merasa yakin. "Tapi sebaiknya kita hati-hati dan jangan gegabah soal ini. Mungkin ada sebuah konspirasi tersembunyi yang memang belum terpecahkan," ujar Ana lagi.


"Bagaimana kalau kita lakukan tes DNA. Om juga sudah punya DNA Vanilla dan Naki, kan? Kita simpan dulu bukti-bukti itu, baru nantinya kita jadikan bom waktu di saat yang tepat."

__ADS_1


"Boleh, jika itu maumu aku akan melakukan tes DNA terhadap mereka. Jika Nasya terbukti bukan ibu kandung Vanilla, dia benar-benar keterlaluan." Adam mengepalkan satu tangannya geram.


***


Mobil yang ditumpangi Adam dan Ana berhenti di sebuah Villa yang sangat indah. Villa itu terletak di atas bukit. Dari sana Ana bisa melihat betapa indahnya pemandangan laut.


"Wah, apakah Om mau ngajak aku staycation di sini?" Ana tiba-tiba mengalungkan tangannya di pundak Adam. Belum sempat Adam melepaskan, tiba-tiba pintu Villa itu terbuka dan menampilkan sosok perempuan cantik.


"Adam, apa yang kamu lakukan!" 


Perempuan itu berlari ke arah mereka secara membabi buta. Buru-buru Adam mendorong Ana. Namun, sayang seribu sayang, perempuan itu sudah terlanjur melihat semuanya.


Plak! 


Satu tamparan mendarat di pipi Adam. Perempuan itu lantas menoleh pada Ana yang sudah memasang wajah bingung sekaligus takut.


"Ka … kamu siapa?" tanya Ana terbata-bata.


"Kamu yang siapa? Ngapain kamu goda suami orang?".


Sontak Ana menoleh pada Adam. 


"Suami orang?"


Dia benar-benar butuh penjelasan saat ini juga. Bukankah kemarin Adam mengaku single, lantas kenapa ada perempuan yang mengaku jadi istrinya.


"Ini gimana si, kok aku jadi nggak ngerti?" Ana menatap Tania dan Adam secara bergantian. "Sebenarnya kalian berdua ini ada hubungan apa? Bukannya Om Adam masih single?"


"Single kepalamu! Dasar cabe-cabean tidak tahu diri. Ini lagi terong busuk, ngapain kamu bawa dia ke sini. Mau pamer selingkuhan? Kamu pikir aku bakalan setuju kamu punya wanita lain selain aku," maki perempuan itu.


"Tunggu dulu, ini salah paham. Tania, apa yang kamu lihat tadi tidak sesuai sama yang kamu pikirkan," ucap Adam pada perempuan itu.


Ana menjadi pihak yang paling bingung di antara semuanya. Dia merasa terbohongi oleh ucapan Adam. Dan, sekarang dia harus menghadapi singa yang siap mengamuk dan menerkamnya.


Mati aku, kalau dia beneran istrinya, pasti aku bakalan dikunyah abis-abisan setelah ini, batin Ana. Rasanya ia benar-benar ingin kabur demi bisa menghindari situasi semacam ini.

__ADS_1


__ADS_2