Perjaka Tampan Dari Hutan

Perjaka Tampan Dari Hutan
Balas Budi


__ADS_3

"Sudahlah, intinya kamu mau bekerja sama denganku atau tidak?" kesal Ada


Andai tidak ada kedua orang tua Ana, mungkin dia tidak akan bersikap sesabar ini terhadap Ana yang terkesan mau tapi malu. Dia terlihat sengaja mengulur-ulur waktu Adam hingga kesabaran lelaki itu nyaris habis.


"Ya sudah aku mau! Tapi aku mau pakai tehnik percobaan dulu. Jika aku tidak sanggup, aku akan berhenti," ucap Ana.


"Baiklah." Adam terpaksa mengiyakan. Tapi tekadnya sudah terlalu kuat. Selanjutnya dia akan memastikan Ana rela melakukan itu tanpa paksaan.


Lelaki itu kemudian membenarkan kerah bajunya. Dia tampak mengeluarkan dua lembar kertas lalu menuliskan sesuatu.


"Ini adalah cek, masing-masing nilainya 2 Milyar." Adam menyodorkan kertas itu pada Ana dan kedua orang tuanya.


Kedua mata Ayah dan Ibu Ana sontak membeliak. Ana juga sedikit terkejut meski wajahnya pura-pura jaim.


"Kalian bisa segera mencairkannya meski Ana baru bersedia melakukan percobaan," ucap Adam.


"Lalu kalau Ana mundur, apakah kita harus mengembalikan uang ini lagi?"


Sudut bibir Adam tertarik tipis. Tidak salah dia mendatangi orang tua Ana yang matre alias mata duitan. Mereka sangat teliti dalam mengamati sebuah perjanjian.

__ADS_1


"Tidak perlu. Tapi aku akan pastikan kalau Ana tidak akan mundur. Jadi tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan," ucap Adam yakin.


Hal itu membuat Ana menoleh pada Adam sambil memandangnya, sinis. "Percaya diri sekali dia," gumamnya.


Adam hanya menoleh tanpa menjawab. Sebenarnya masih ada banyak hal yang ingin Adam bicarakan dengan Ana. Namun semua itu masih ia tunda agar Ana bisa pelan-pelan memasukinya.


"Apakah tidak ada materai perjanjian? Misal perjanjian hitam di atas putih?" tanya si Ibu. Lagi-lagi Adam dibuat tersenyum oleh ketelitian Ayah dan Ibu Ana.


"Saya rasa tidak ada kerugian yang akan kalian dapatkan karena uang 2 Milyar itu sudah di tangan. Adapun orang yang akan rugi adalah saya karena bisa saja Ana kabur dan menghindar." Adam menoleh pada Ana. Senyumnya masih terhias sempurna. "Tapi saya yakin, putri Anda adalah wanita baik-baik. Dia pasti tidak akan mampu menghianati keluarga saya," ucap Adam.


"Geer. Kenapa Anda bisa percaya diri sekali?" sungut Ana tidak terima. Adam memilih menatap kedua orang tua Ana dibandingkan perempuan itu.


Mendengar itu sang ibu merasa bangga. Akhirnya ada sedikit hal menonjol dari gadis yang serba kurangan itu.


"Sudahlah engga usah banyak cingcong. Sekarang katakan padaku, aku harus apa setelah ini!"


"Kemasi barang-barangmu."


"Hah?" Ana menatap bingung.

__ADS_1


"Mulai sekarang kau akan tinggal di rumah kami. Awal mula permainan ini di mulai adalah dengan cara membuat si parasit itu merasa terancam dengan kehadiranmu."


"Apa harus banget tinggal di sana?" Bapak merasa tidak rela.


"Sebenarnya saya mengizinkan Ana membantu Anda bukan hanya soal uang saja. Anda salah kalau menilai kami matre."


"Lalu?" Sontak Adam terkejut.


"Karena kami tahu Naki adalah orang yang menyelamatkan hidup Anakku beberapa tahun lalu. Tanpa dia pasti Ana tidak bisa bertahan hidup. Itu sebabnya saya mengizinkan Ana untuk menolong Naki. Tapi kalau caranya harus tinggal di sana, jujur saya khawatir."


"Kalian tenang saja. Keluarga kami bisa memastikan kalau Ana akan baik-baik saja di sana. Ini hanyalah tak tik," ucap Adam terus berusa meyakinkan.


Kedua orang tua Ana saling mengernyit satu sama lain. Sementara Ana masih ternganga dengan penuturan sang Ayah barusan.


Benar juga, pikirnya. Selama ini Ana memang belum pernah melakukan kebaikan apa pun untuk Naki, seseorang yang sudah menyelamatkan hidupnya.


Tekadnya mulai bulat. Sekarang jangankan menjadi pelakor, menjadi apa saja asal untuk Naki Ana rela melakukannya.


Aku terlalu banyak membenci dia sampai aku lupa dengan semua kebaikannya. Dasar manusia bodoh, batin Ana.

__ADS_1


__ADS_2