Perjaka Tampan Dari Hutan

Perjaka Tampan Dari Hutan
Tawaran Menjadi P .....


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Adam berjalan pelan menyusuri jalanan tanpa tujuan. Tadi Adam sempat menawari Ana untuk mampir ke sebuah restaurant, tapi gadis itu menolak dengan alasan perutnya masih kenyang.


Akhirnya mereka berdua sepakat untuk bicara di dalam mobil saja.


"Maafkan aku Ana. Tidak seharusnya aku membicarakan rumah tangga Naki di depanmu. Tapi itulah yang sebenarnya terjadi," ucap Adam agak lirih di akhir kalimat.


Kepala Ana sedikit menoleh. Ia menatap Adam dari atas sampai kebawah. Sudah tahu ucapannya salah, tapi malah diulangi untuk kedua kali. Dasar menyebalkan, pikir Ana.


"Sebenarnya apa tujuan Om datengin aku kalau cuma mau pamer rumah tangga Naki yang harmonis itu?" Ana mulai buka suara lagi. Ia melanjutkan pembicaraan yang sempat tertunda tadi.


"Justru itu, karena rumah tangga Naki bahagia. Aku butuh kamu untuk merusak rumah tangganya."


Sontak Ana membeliak tak percaya.


"Apa Anda gila?"


"Nyaris gila," jawab Adam santai.

__ADS_1


Tak lama kemudian Ana menyadari kalau Adam memperkenalkan diri sebagai kakak tiri Naki. Yang artinya Adam adalah anak dari ibu tiri jahat yang membuang Naki saat masih kecil dulu.


"Apa Anda mau mengikuti jejak ibu kandung Anda yang jahat itu? Sorry ya, Om Adam! Meskipun aku benci sekali dengan Naki aku tak akan sudi membantumu berbuat jahat kepadanya. Ada banyak hal menarik yang bisa aku lakukan. Ngapain ngerusak rumah tangga orang. Mau dibayar 100 juta pun aku ogah," sungut Ana dengan suara mencak-mencak. Dia mengedarkan pandangannya ke luar jendela.


"Cepat turunkan aku sekarang. Buang-buang waktu saja," pungkas anak itu lagi. Adam terlihat menarik napas panjang. Dia menepikan mobilnya ke samping tapi mengunci semua pintunya.


"Loh, ko gak bisa dibuka?" Ana kembali menoleh pada pria itu. Kali ini tatapannya terlihat berapi-api sekali.


"Kamu salah paham Ana. Aku sama sekali tidak berniat mengikuti jejak ibuku . Aku sangat sayang pada Naki melebihi diriku sendiri, itu sebabnyak aku rela mencari tahu soal kamu selama ini," ujar Adam.


Adam memijit pelipisnya. "Ana, dengarkan aku dulu. Aku berniat merusak rumah tangga Naki karena aku merasa Nasya bukanlah orang yang tepat untuknya."


"Kalau nggak tepat kok bisa sampai punya anak! Udahlah, Om. Jangan ngajakin aku buang-buang waktu buat hal nggak penting kayak gini. Sekarang semua sudah berbeda, aku nggak mau kenal sama yang namanya Naki, bahkan mau dia mati pun aku gak peduli!"


"Yakin?"


Adam menaikkan sebelah alisnya. Dia tersenyum manis sekali.

__ADS_1


"Tapi kamu terlihat cemburu saat aku membicarakan rumah tangga Naki yang harmonis itu. Jika tidak salah tebak, aku yakin kamu masih punya perasaan terhadapnya.


"Hemm. Om ini ngeyelan, dibilang engga ya enggak."


Adam mencondongkan tubuhnya ke samping. Membuat Ana sedikit bringsut sambil merasakan debaran jantungnya yang menggila. Dia takut bukan main dengan ulah Adam yang sok player.


"Semakin kamu memberontak, aku semakin tidak percaya. Kini aku yakin kalau mencarimu bukanlah hal sia-sia. Semuanya sesuai dugaan dan perkiraanku," bisik Adam.


Ana benar-benar tak mengerti. Adam pun menarik satu tangan Ana. "Kamu adalah harapanku satu-satunya Ana. Aku mohon, bantulah Naki membuka matanya lebar-lebar kalau Nasya bukanlah perempuan baik-baik."


"Maksudnya?"


Ana langsung mengempaskan tangan Adam. Beberapa saat dia sedikit terhipnotis dengan tatapan Adam yang membahana.


"Sekitar satu tahun yang lalu, aku merasa ada yang ganjal dengan dengan sikap Nasya. Baiknya seolah pura-pura, dia juga pernah meminta Naki untuk membuat surat pengalihan harta kekayaannya untuk anak mereka. Dari situ aku mulai curiga, aku penasaran dengan tujuan Nasya, dan ...."


Adam berhenti bicara sejenak.

__ADS_1


__ADS_2